Senin, 06 April 2009

CERITA PENDEK KARYA SISWA-SISWI X..2 0809

Blog ini dikhususkan bagi siswa-sisiwi X.2 0809 untuk berkarya dalam dunia cerita pendek. Berimajinasi, bagi siswa, kadang merupakan siksaan bagi yang belum biasa atau belum membiasakan diri, mungkin suatu kenikmatan tersendiri yang tak bisa dicari penggantinya bagi mereka yang sudah biasa melakukan. Namun, secara psikologis, siswa-siswi kelas X tingkat SMA memiliki daya imajinasi yang amat baik dan potensial dikembangkan lebih baik. Untuk itu wahana ini merupakan jalur pengembangan kompetensi demi masa depan mereka. Dunia maya dan imajinasi tak sebatas imajinasi dan maya belaka. Target mereka adalah mewujudkan imajinasi mereka dalam kehidupan mereka nantinya. Selamat berkarya!

Jumat, 2009 April 24
Olive's Boy
Judul Cerpen : Olive’s Boy
Nama : Chelsea Cindy Sunyata
Kelas : X.2
No. Absen : 07

Olive tengah mematut diri di depan kaca dengan pakaian yang biasa digunakannya sehari-hari untuk pergi ke tempat-tempat umum. Olive berusia 17 tahun dan duduk di bangku kelsa XII di SMA Pelita Bangsa. Olive merupakan anak bungsu dari 2 bersaudara. Kakak laki-lakinya telah berada di luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas dan tinggallah Olive sebagai anak tunggal di rumahnya yang lumayan besar itu.

“Aduh, udah jam 5 lewat, padahal aku janji jam 5 udah ada di rumah makan nih. Gawat deh, bakal ngomel deh.” Bisik Olive sambil melihat jam dinding di kamarnya melalui cermin. Olive mempunyai 5 orang sahabat yang sebaya dengannya dan bersekolah di sekolah yang sama.
Olive langsung menuju ke mobilnya yang telah disediakan oleh supir keluarganya dan langsung menuju ke rumah makan yang telah menjadi langganan Olive dan teman-temanya. Selama perjalanan Olive hanya duduk diam dan mendengarkan lagu-lagu pop kesukaannya yang selau ia dengar kapanpun ia di dalam mobilnya. Sesampainya di sana, Olive celingak-celinguk mencari meja tempat teman-temannya duduk. Setelah melihat sekeliling berusaha mencari-cari, akhirnya ia menemukan teman-temannya sedang duduk di meja pojok sambil bercanda dan tertawa riang.
“Hi Guys, I’m here.” Olive berdiri di pinggir meja makan sambil menyunggingkan senyum kepada teman-temannya.
“Eh, nona besar, jam berapa nih? Si Lola yang udah jadi Duta Telat aja udah nongol di sini. Kamu malah baru nongol sekarang.” Canda Claudia sambil tersenyum menyindir Olive sekaligus Lola. Claudia adalah salah satu sahabat Olive yang memiliki pipi chubby dan wajah yang enak dipandang. Selain itu ada Melia yang dewasa, LoLa yang selalu terlambat kalau mereka hangout bersama, Rachel yang terkesan agak tomboy karna selalu berbicara dengan seenaknya, dan Pevita yang selalu memerhatikan trend dan gaya rambut yang terbaru. Mereka telah berteman cukup lama, sekitar 3 tahun.
“Ups, sorry deh, tadi ngak sadar udah jam 5 lewat. Biasa lah, mama-ku nyuruh ini itu.” Jawab Olive sambil memasang muka memelas.
“Ya udah, duduk sini, Liv. Udah disediain bangku kosong, kok. Ngak masalah juga telat sedikit.” Melia langsung menyudahi.
“Udah lengkap, kan? Pesan makanan yuk! Aku udah laper nih.” Sambung Rachel.
“Yuk! Panggil pelayannya dulu yah.” Pevita menanggapi sambil melambaikan tangan kearah pelayan yang sedang lalu di depannya. Pelayan itupun langsung menghampiri meja mereka dan menanyakan apa yang mereka pesan lalu pergi setelah semua teleh memesan. Mereka melanjutkan pembicaraan yang penuh dengan canda dan menyantap makanan masing-masing saat makanan tiba.

****
“Asik, udah weekend nih. Pulang sekolah jalan sama Leo, ah. Kita ngak ada acara kan hari ini, guys?” teriak Claudia senang karna akan pergi bersama pacarnya yang bernama Leonardus. Claudia telah 1 tahun memilki hubungan dengan Leonardus yang memiliki selisih umur beberapa tahun dari Claudia.
“Iya nih, kita ngak ada acara kan hari ini? Aku juga mau pergi bareng Vido nih. Mumpung weekend. Kamu vit? Mau pergi sama Andrew?” Melia menanggapi dengan nada suara yang halus seperti biasa.
“Ya udah deh kalo ada acara semua, ya kita ngak bakal hangout bareng hari ini.” Jawab Olive dengan ketus.
“OK kalo gitu. Aku pulang duluan yah.” Claudia yang cuek mengabaikan keketusan Olive. Claudia langsung segera berlari ke gerbang depan menaiki mobilnya.
“Ya udah Liv, ngak apa-apa, kan? Kita pulang yuk. Udah siang nih, ntar mama kamu nyariin kamu lagi.” Pevita yang mencium kejengkelan Olive langsung mendinginkna suasana.
Mereka langsung beranjak dari tempat mereka berdiri dan menuju ke depan sekolah dan pulang ke rumah masing-masing.

***
Sesampainya di rumah, Olive langsung masuk ke kamarnya dan menjatuhkan diri ke atas tempat tidurnya dan berbicara kepada dirinya sendiri.
“Kenapa sih, Claudia, Pevita, dan Melia tuh bisa dapetin cowo yang baik banget sama mereka? Sedangkan aku, hanya pernah pacaran satu kali, dan itupun aku dibohongin sama cowok itu, dia selingkuh sama orang lain. Sebel deh liat mereka jalan-jaan bareng pacar masing-masing. Apa lagi Pevita, sebelum dia jadian sama Andrew, dia tuh paling dekat sama aku, sekarang perhatian dia kan terbagi dua untuk Andrew. AKU KESAL!!!!”
Olive memang pernah memiliki pacar yang ia sayangi, tetapi tanpa sepengetahuannya, cowok itu menjalin hubungan juga dengan wanita lain, akhirnya hal itu terbongkar. Olive marah besar dan memutuskan hubungannya dengan cowok itu. Setelah kejadian itu, Olive masih sakit hati dan sikapnya menjadi lebih egois dari sebelumnya. Ia ingin semua orang memerhatikannya, jika ada sesuatu yang membuat teman-temannya kurang memperhatikannya, ia mulai ketus dan akhirnya marah. Seperti yang terjadi 1 tahun yang lalu, Pevita yang sedang sibuk belajar untuk ulangan harian di kelasnya, tidak begitu memperhatikan teman-temannya dan Olive yang merasa tidak diperhatikan marah kepada Pevita.
Akhirnya Olive bangkit dari tempat tidurnya dan langsung pegi ke kamar mandi. Setelah Olive merasa segar dan lelahnya sudah sedikit berkurang, ia duduk di depan meja rias dan kembai terpikir masalah teman-teman dan pacar mereka.
“Olive! Ayo makan! Mama udah nungguin dari tadi nih.” Tidak lama setelah itu, Mama Olive mengajaknya untuk makan siang. Olive turun dan langsung duduk di kursi meja makan lalu dengan senang melihat mamanya memasak makanan kesukaannya.
“Wah.. Mama masak pangsit goring. Aku pasti makan banyak.” Olive memandang makanan yang disajikan mamanya dengan perut yang sudah lapar. Mama Olive hanya tersenyumsenyum melihat anaknya kegirangan karena melihat makanan kesukaannya yang disajikan di meja makan. Olive makan bersama mamanya, hanya berdua saja karena papanya sedang bekerja dan tidak makan di rumah, sedangkan kakak laki-lakinya sedang kuliah di Luar Negeri. Olive menyantap makanannya dengan sangat lahap. Mamanya hanya bisa tersenyum melihat anaknya menyantah hidangan yang sangat banyak.
Olive anak yang dimanja oleh kedua orangtuanya. Apalagi semenjak kakak laki-lakinya telah kuliah ke luar negeri dan Olive menjadi ‘anak tunggal’ di rumahnya. Orangtuanya sangat menjaganya, smpai-sampai, jika mau hangout bersama teman-temannya, ia sangat susah mendapatkan ijin. Tetapi mungkin karena merasa anaknya sudah tumbuh dewasa, orangtuanya mulai memberikan keringanan kepada Olive.

***
Senin pagi di SMA Pelita Bangsa telah terjadi keributan kecil yang melibatkan Olive dan Boy, teman sekelas Olive.
“Boy!! Bisa ngak sih berhenti gangguin aku? Bisa gila nih lama-lama dikerjain sama kamu terus!” Olive berteriak sambil marah-marah.
“Biarin, kamu juga yang gila. Aku ngak rugi dong kalo kamu gila. Dasar gorila, marah-marah aja kerjanya.” Boy membalas sambil berlari dari tangan Olive yang sudah siap mengelus kuat-kuat pundak Boy.
“Woi! Berhenti! Sini kalo berani! Jangan kabur! Dasar, beraninya sama cewek ajah.”
“Biarin, oh ya, emang kamu cewek yah? Aku taunya kamu itu gorila.”
“Dasar kamu, Boy! Ngejek orang terus! Kamu tuh, nama aja Boy! Nama yang Ja-Dul banget tau. Sama kayak orangnya yang mukanya ketinggalan jaman banget!”
“Yah, walaupun jadul tapi kan banyak yang naksir aku. Kamu tuh, ngak laku-laku.”
Saat tengah berlari-lari menejar Boy, Olive bertemu dengan teman-temannya yang sedang mengobrol di teras depan kelas.
“Hey Liv! Pagi-pagi udah kejar-kejaran sama Boy. Udah kayak Perang Dunia ke-4 aja.” Pevita langsung memotong acara kejar-kejaran antara Olive dan Boy.
“Iya tuh, si Boy rese banget deh. Pagi-pagi udah gangguin aku. Jadi kesel deh.” Jawab Olive terengah-engah.
“Dasar, kamunya juga nanggepin sih, makin menjadi-jadi deh si Boy gangguin kamu.” Baru selesai Pevita berbicara, tiba-tiba bel masuk sekolah berbunyi.
“Eh, udah masuk nih, kita masuk kelas, yuk.” Melia angkat bicara.
“Iya, kita masuk kelas dulu yuk, aku ulangan kimia nih di jam pertama.” Claudia juga langsung beranjak dari tempat duduknya. Mereka masuk ke kelas masing-masing dan siap mengikuti pelajaran, kecuali Olive. Boy masih mengganggunya selama pelajaran di kelas, sehingga ia tidak berkonsentrasi dengan pelajaran yang sedang disampaikan.
Boy telah berteman dengan Olive selama lebih dari 2 tahun. Dari kelas XI mereka duduk di kelas yang sama, karma kebiasaan Boy yang usil, Olive manjadi wadah tempat menampung segala keusilan yang ia lakukan. Secara Fisik, Boy cowok yang lumayan tampan. Di bidang akademik, Boy tidak begitu hebat, nilai-nilai pelajarannya cukup, tetapi tidak berlebih. Boy sangat hobi bermain game OnLine dan ia sangat menekuni hobinya itu.


“Huh! Gila, hari ini seharian ngak konsentrasi sama sekali. Boy gangguin aku terus nih. Bisa gila lama-lama.” Cerita Olive kepada teman-temannya.
“Kamu tanggepin dia, Liv?” tanya Pevita.
“Abis gimana, kalo ngak ditanggepin, aku udah kesel banget. Dia tuh rese banget.”
“Sabar-sabar aja dulu kali. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Kata Pevita sambil tertawa.
“Hah? Bukannya Bersakit-sakit dahulu, mati kemudian?” Lalu semuanya tertawa bersama dan Olive agak melupakan masalah Boy yang dari tadi mengganggunya.
“Oh y guys, ke restoran langganan yuk. Aku lagi pengen makan ayam goring lemonnya nih. Pengen banget.” Sambung Olive.
“Boleh juga tuh, aku juga udah laper. Kita pergi naik mobil siapa nih?” Claudia sependapat dengan Olive.
“Naik mobil aku aja deh, aku udah telepon supirku dari tadi, pasti bentar lagi nyampe deh. Gimana, setuju ngak?” Olive berkata dengan semangat.
“Aku sih OK, yang lain gimana?” Jawab Rachel.
“Aku OK juga.” Lola menjawab dengan semangat.
“Aku ikut deh.” Melia menjawab kalem
“Ya udah kalo semuanya ikut, aku pasti iku juga dong.” Pevita menjawab dengan senyum.
Mereka langsung menuju mobil Olive dan mobilpun langsung meluncur ke jalanan menuju tempat restoran favorit mereka.
Sesampainya disama mereka langsung memesan makanan masing-masing dan setelah itu mereka asik mengobrol dan tertawa dan tidak memerhatikan seorang anak SMA masuk ke dalam dan duduk di meja sebelah. Cowok itu memesan makanan kepada pelayan, dan tanpa sengaja, Olive yang sedang menoleh untuk melihat apakah makanan mereka akan segera siap dihidangkan bertemu pandang dengannya. Olive terpesona dengan parasnya yang sangat tampan, ia tak henti-hentinya menoleh untuk melihat siswa SMA yang berseragamkan SMA Virgo. SMA Virgo adalah sekolah yang termasuk ke dalam sekolah Ellite di kota itu. Teman-teman Olive memperhatikan Olive yang bertingkah aneh hari itu. Makanan sudah tersedia tapi ia belum menyentuh makanan yang dipesannya.
“Liv, tuh makanan udah mau basi bentar lagi. Makan gih. Dari tadi ngeliatin apaan sih?” Tegur Claudia.
“Ngak nih, cuma liat-liat aja. Iya aku makan.”
Claudia yang masih bingung mengikuti arah pandangan Olive dan mendapati Olive sedang memperhatikan Seorang anak SMA Virgo.
“Eh Liv, aku kenal loh sama si SMA Virgo itu. Jangan di liatin aja.” Claudia berbisik.
“Hah? Apaan sih kamu, ngak kok” Jawab Olive terkejut.
“Udah. Aku tau kok kamu ngeliatin cowok itu dari tadi. Aku kenal sama dia, namanya Jhonny. Biasa dipanggil Jojo.”
“Hah? Emang kamu kenal darimana Claud?”
“Dia itu temennya mantan pacarku. Teman SMPnya, aku kenal soalnya mereka teman baik, jadi sering ngobrol juga sama dia.”
“Koq jadi ngomongin dia sih, udah ah, aku makan dulu.”
Seusai makan, mereka jalan keluar dari restoran itu dan berpapasan dngan Jhonny. Claudia langsung menegur Jhonny.
“Hai Jo, udah lama banget nih ngak ketemu sama kamu.”
“Hai, Claud, gimana nih kabarnya?”
“Baik kok, kamu?”
“Aku juga baik. Makan-makan nih?”
“Iya, biasa, dengan teman-temanku. Kenalin dulu deh, Ini Lola, Melia, Rachel, Pevita dan yang terakhir Olive.” Claudia memperkenalkan teman-temannya dan sengaja menaruh Olive di urutan yang terakhir. Olive hanya bisa menunduk ketika dikenalkan dengan Jojo. Lalu setelah itu, mereka pulang ke rumah masing-masing.
***


Sesampainya di rumah, Olive kembali termenung memikirkan Jojo yang masih menghantui pikirannya.
“Coba tadi aku nanya banyak sama Claudia deh. Aduh, kepikiran cowok itu terus jadinya. Cakep banget sih, berkharisma. Cowok idaman aku banget.” Olive terus bergumam pada diriny sendiri hingga sore menjelang dan lamunannya dibuyarkan oleh teriakan mamanya dari bawah yang memanggilnya untuk makan malam. Dengan masih berpakaian sekoah, Olive turun ke ruang makan yang telah diisi oleh orangtuanya.
“Liv, kok kamu masih pakai beju sekolah? Udah malem begini, dari tadi kamu ngapain aja?” Mama Olive yang keheranan dengan anaknya bertanya dengan wajah yang bingung.
“Hah? Iya ma, tadi aku langsung ketiduran. Capek banget dari sekolah tadi, ngak sadar ketiduran di kamar deh.” Dusta Olive
“Oh, ya udah, jadi kamu mau makan udulu atau mandi dulu aja?”
“Aku makan dulu aja deh ma, jadi kita makan sama-sama, nanti selesai makan aku langsung mandi deh.”
“Ya udah, kita makan dulu yah, sini duduk, Liv.” Ajak mamanya sekaligus menunjuk tempat duduk di sebelahnya. Lalu mereka makan bersama dan bercakap-cakap tentang aktivitas mereka tadi siang. Olive hanya mendengarkan percakan antara papa dan mamanya.
Selesai makan, Olive segera naik ke kamarnya dan pergi ke kamar mandi dan dari luar kamar mandi seger terdengar siara yang erasa dari pancuran air. Olive mandi dengan cepat dan segera mengenakan piyamanya.
Olive duduk di pinggir ranjangnya dan baru teringat bahwa ia belum memeriksa handphne-nya. Olive segera memeriksa Handphone-nya dan mendapati ada 4 new messages. Ia segera membuka sms yang elah ia dapat. Dan mendapati sebuah nomor yang tidak ia kenal mengirimkan message. Olive membaca pesan singkat itu dan ia sangat terkejut, orang yang mengirim pesan itu adalah Jhonny. Dengan kegirangan, Olive segera bangkit dari duduknya dan melompat-lompat kecil. Dengan segera ia membalas message itu, dan mengobrol dengan Jojo hingga ia merasa mengantuk dan memutuskan untuk tidur.

***
Keesokan paginya Olive bangun dan langsung bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Mandi, sarapan, lalu pergi ke sekolah, seperti biasanya. Langit pagi ini mendung dan hujan rintik-rintik sudah mulai menghujam bumi. Sesampainya di sekolah Olive langsung menemui teman-temannya yang telah datang ke sekolah, tinggal Lola yang belum datang.
“Hai all.” Sapa Olive dengan mimic yang sangat ceria.
“Hai, Liv. Pagi-pagi udah cengar-cengir aja. Kenapa sih kamu?” Tanya Pevita
“Ngak kenapa-kenapa sih, Cuma lagi seneng aja. Seneng banget.”
“Emangnya ada kejadian apa sih, ampe segitu senangnya?” Sambung Claudia.
“Eh, Claud, kamu yah yang kasih tau nomor handphone aku sama Jojo?”
“Aku? Ya ngak lah, kemarin aja aku langsung pulang kok ke rumah. Jojo juga ngak punya nomor handphone aku.” Respon Claudia yang memang tidak mengetahui hal itu. Claudia sendiri terkejut mendengar kabar bahwa Jojo sudah menghubungi Olive. Claudia tau sifat Jojo yang kurang baik. Ia ingin mengingatkan Olive, tapi melihat Olive yang sedang senang minta ampun, Claudia tidak berani mengatakan hal itu.
Sepanjang hari Olive mengobrol dengan Jojo melalui SMS. Olive merasa nyaman berbicara dengan Jojo. Hal itu berkelanjutan hingga 2 bulan kemudian dan Olive bercerita dengan teman-temannya bahwa ia akan hangout bersama Jojo hari minggu nanti.
“Hah? Ngak salah, Liv?” kejut Claudia.
“Yah ngak salah dong, Claud. Aku kayaknya udah mulai suka sama dia nih.”
“Liv, aku certain sama kamu ya, Lupain aja Jojo! Jojo itu playboy, suka mainin cewek. Udah banyak cewek yang jadi korban dia. Selama aku pacaran sama Bram, aku sering banget diceritain kalo dia tuh suka mainin cewe. Aku ngak mau kamu jadi korban dia.”
“Claud, selama aku ngobrol sama dia, aku rasa dia orangnya baik kok, ngak mungkin deh dia mainin perasaan cewe. Mungkin aja dia udah ngerasa ngak cocok dengan mantan-mantannya, jadi mereka putus. Buka berarti dia mau mainin cewek.”
“Ngak, Liv. Kamu percaya aku deh, mantannya aja banyak banget.”
“Ngak lah Claud, aku percaya kok sama Jojo.”
Claudia yang tidak tau lagi bagaimana cara mengatakan hal yang sebenarnya kepada sahabatnya itu pun terdiam dengan menyimpan rasa sedikit dongkol. Teman-temannya hanya bisa mendengar perdebatan kedua sahabat mereka tersebut.
Olive pergi bersama Jojo ke sebuah Mall ternama di kota itu. Banyak hal yang mereka lakukan disana, menonton, makan siang, bermain game, dan hal-hal lainnya. Olive merasa nyaman dengan Jojo dan ia semakin menyukai Jojo. Olive sampai di rumah ketika senja telah menjelang. Olive langsung menceritakan semua yang ia kerjakan bersama jojo kepada Pevita. Pevita ikut senang karena sahabatnya merasa senang. Olive menutup hari itu setelah membersihkan diri dan menyantap makan malam bersama keluarganya.
Olive telah jatuh cinta! Olive yakin bahwa Jojo menyukainya dn merekan akan menjadi sepasang kekasih yang bahagia. Tetapi hal itu dihancurkan ketika seminggu kemudian, Olive dan teman-temannya pergi ke Mall dan bercanda bersama, seperti biasa. Dan memergoki Jojo yang sedang bersama seorang wanita yang tidak ia kenal. Mereka berjalan sangat mesra dan Olive langsung shock melihat hal itu. Olive yang sangat terluka karena hal itu, segera minta pulang dengan teman-temannya. Mereka segera kelur dari Mall dan pulang ke rumah Olive.
“Claud, aku minta maaf ya.”
“Ngak apa-apa kok, lain kali kan kita bisa pergi sama-sama lagi.”
“Bukan soal itu, Claud.”
“Jadi soal apa, Liv?”
“Soal aku ngak mau dengerin nasehat kamu soal Jojo. Aku udah ketipu sama ketampanan Jojo, sampai ngak dengerin kata-kata sahabatku sendiri” Kata Olive dengan muka tertunduk.
Olive merenung dan menyadari keegoisan yang ia lakukan terhadap teman-temannya. Temannya yang sudah tidak ia percayapun dapat memaafkan dirinya. Ia menyadari rasa irinya terhadap teman-temannya yang telah memiliki kekasih. Ia juga meminta maaf atas segala hal itu.
“Aku juga minta maaf karma keegoisanku dan rasa iri yang terlalu besar terhadap kalian.”
“Rasa iri? Maksudmu?” Tanya Pevita.
“Iya, sebenarnya aku sangat iri sama kalian yang telah memiliki kekasih yang sangat menyayangi kalian. Aku sangat kesal jika kalian sedang besenang-senang dengan pacar kalian.”
“Ya ampun, Liv. Kami juga bukan sengaja mau menunjukan kebahagiaan kami di depan kamu. Kami sayang sama kamu, Liv.” Jawab Melia.
“Iya, kami semua sayang kamu, kok.” Mereka bersama-sama menghibur Olive.

***
Pagi yang cerah di hari berikutnya, Olive berjalan ke kelasnya dengan tampang kusut karena kejadian kemarin. Ia masuk ke kelasnya dan duduk di tempat duduk yang biasa ia duduki. Tanpa Olive sadari, ada seseorang yang menghampiri mejanya. Orang itu memperhatikan wajah Olive yang terlihat sangat sedih. Orang itu merasa sangat sedih melihat wajah Olive yang muram. Orang yang dengan tulus menyayangi Olive sejak 2 tahun yang lalu, yang selalu mengisi hari-hari Olive dengan segala keusilan yang ia perbuat. Ia hanya yakin, dengan cara itu ia dapat membuat Olive menjadi senang.
“Liv, ada apa?” Orang itu bertanya dengan lembut.
“Eh kamu, udah deh, aku lagi ngak mood main sama kamu.”
“Ngak, Liv, aku bukan mau gangguin kamu. Aku cuma mau tau keadaan kamu aja. Kok kamu gini, Liv? Ada apa?” Tanya orang itu. Sebenarnya ia tahu apa yang terjadi dengan Olive. Ia telah menanyakan hal itu kepada teman-teman Olive.
“Ngak kok, aku Cuma ngak mood aja.”
“Oh, ya udah deh kalo emg ngak apa-apa. Tapi aku bersedia jadi tempat pencurahan kesedihan kamu kok, Liv.” Orang itu menyampaikan denan halus. Olive terkejut dengan perubahan yang terjadi dari orang itu. Sebenarnya bagaimana sih sifatnya? Kadang-kadang ngerjain orang ampe keterlaluan banget, kok sekarang jadi perhatian gitu sih? Aku jadi asing dengan orang ini. Bener ngak sih ini orang yang sama? Setiap hari orang itu memberikan Olive semangat, menghiburnya walaupun ia berpura-pura tidak tau apa masalah Olive.
Olive merasa perlu bercerita dengan seseorang, ia malu untuk cerita pada teman-temannya karena ia merasa sangat bodoh tidak menghiraukan nasihat sahabtnya sendiri. Akhirnya, Olive tanpa sadar bercerita kepada orang itu ketika ia sedang menghibur Olive. Orang itu bersedia mendengarkan cerita Olive dengan baik, sangat baik. Selesai Olive menceritakan hal itu, orang itu hanya memberikan senyum dan semangat-semangat untuk Olive. Membiarkan Olive yang sedih karena telah dipermainkan dua kali oleh orang yang sudah ia sayangi menitikkan airmata di tangannya, mejadikan dirinya tempat untuk mencurahkan segala kesedihan yang dialaminya.
Olive memang tidak sadar ada orang yang benar-benar tulus menyayanginya, tetapi suatu saat, Olive akan menyadari hal itu. Cinta yang sesungguhnya telah ada dihadapannya. Ia hanya perlu melihatnya, menyadarinya, dan menggapainya dengan mudah, tanpa perlu mengejar cinta itu lagi.



--The End--
Diposkan oleh X2 cReWsS di 23:08 0 komentar
Label: Cerpen X.2 / 07
Selasa, 2009 April 21
Ilalang
Ilalang
Karya : Birgitta Fajarai ( 4 )


Saat dua hati bertaut. Apa yang terjadi? Ya, cinta telah muncul, menyatukan dua pribadi yang berbeda dan menggambarkan semua perasaan yang bercampuraduk yang dirasakan para penikmatnya. Cinta menimbulkan suatu kecanduan. Cinta memiliki daya pikatnya tersendiri. Semua orang akan tergiur dengan aroma semerbak dan rasa khas yang dipancarkan cinta..

“ Cinta, cinta, cinta. Kenapa sih mesti ada cinta? Bikin pusing aja!” kata Vella
“ Yyyee…. Kalo gak ada cinta. Lo gak bakal lahir, tahu?”
“ Siapa bilang? Banyak kok pasangan yang nikah tanpa cinta.”
“ Tapi cepet juga cerainya. Emangnya lo mau lahir dari keluarga kayak gitu?”
“ Ya nggak la. Kan gak enak banget tuh.”
“ Udah ah. Gak enak ngomong sama kaca. Bikin capek. Bukannya nyelesaiin masalah, nambah bikin puyeng aja. Huh!!” sambung Vella sambil menghempaskan tubuhnya ke ranjangnya.
“ Ooaaahhhh…. Ngantuk banget nih. Tidur dulu ah..”
------


Tok…tok…tok....

“Vel, bangun dong. Udah jam berapa nih!! Ntar telat, lho!” kata Axelle, kakak Vella.
“ Ehm, bentar lagi.”
DUAK…DUAK…DUAK…
“Woi, bangun!! Udah jam 7 neh!” teriak Axelle.
“ HAH!? JAM 7!! GAWAT!! MANDI…MANDI... Aduh! Gak sempet. Ya udah deh, pake parfum aja…,” rancau Vella saking paniknya.

Dalam lima menit, Vella sudah siap. Kemudian dia ke ruang makan untuk berpamitan dengan keluarganya..

“ Ayah, Bunda, Vella pamit, ya,” kata Vella sambil mengambil 2 keping roti isi.
“ Kak, antar aku, yuk!!”
“ Lho, kok pake seragam?! Lo mau ke mana?” tanya Axelle heran.
“ Ya, sekolah dong, Kak! Gimana sih?!”
“ Hwahahahahaha…Hwahahahhahaha…,” semua keluarga Vella tertawa.
“ Kok malah ketawa?!” tanya Vella heran.
“ Ini kan hari Minggu, ngapain lo ke sekolah?! Hwahahahaha…,” ujar Kak Axelle sambil tertawa.
“ Lho, bukannya tadi lo bangunin gue buat sekolah?!” ujar Vella marah.
“ Siapa bilang? Tadi kan gue nggak ngomong kalo lo telat sekolah.”
“ Makanya, kalo punya kuping, ya dipake. Hahahaha….”
“ Iih!! Rese banget..Uhh…,” rutuk Vella.
“ Vella, daripada kamu cemberut seperti itu, sebaiknya kamu ikut kakakmu lari pagi di taman. Lagipula, bangun siang itu tidak baik. Apalagi kamu itu perempuan, Vella,” nasihat Bunda.
“ Iya, deh, Bun. Vella ikut Kak Axelle olahraga aja,” ujar Vella.
“ Ya sudah, kamu cepat ganti baju sana. Nanti malah ditinggal kakakmu.
“ Ok, Bun."
------

“ Udah dulu, Kak. Capek!” Vella menyudahi lari paginya.
“ Oke.”
Saat itu Vella berdiri di tengah taman. Ia bermaksud melakukan pendinginan. Namun, tiba-tiba seseorang menabraknya dari belakang hingga Vella jatuh.
“ Aduh! Kalau jalan pakai mata, dong,” kata seorang laki-laki yang menabrak Vella.
“ Enak aja. Kamu itu yang jalannya gak pake mata. Udah jelas-jelas kamu yang salah. Bukannya minta maaf, eh, malah nyalahin orang,” oceh Vella seraya bangkit dari jatuhnya dan membersihkan pakaiannya yang kotor.
“ Kok aku yang minta maaf? Kamu yang harusnya minta maaf. Berdiri ngalangin jalan, emangnya kamu pikir, ini jalan nenek moyang kamu?!” ujar lelaki tadi.
“ Udah..udah.. Gak usah berantem. Masalah gitu aja dibesar-besarin,” kata Axelle menengahi pertengkaran itu.
“ Lho. Axelle?” tanya lelaki itu kaget.
“ Iya. Siapa, ya?” tanya Axelle agak heran.
“ Gue Kay. Udah lupa, ya?”
“ Kay. Hahaha… Bukan lupa, tapi gue gak bisa ngenalin lo lagi. Gila! Lo berubah banget. Apa kabar, Kay?”
“ Baik. Lo sendiri?”
“ Baik juga.”
“ Lo ke mana aja? Lo kayak hilang ditelan bumi.”
“ Gue ikut nyokap ke Bandung, sekarang gue kuliah di sana.”
“ Hello… Jangan ngacangin gue dong. Ini cowok siapa, Kak?” kata Vella memotong pembicaraan.
“ Oh, gue lupa. Kenalin Vel, ini Kay. Kay, ini Vella, masih inget, kan?” kata Axelle.
‘ Masih inget? Maksud kakak apaan sih? Gue gak ngerti, deh. Ah, gak tahulah. Nanti aja, gue tanya,’ kata Vella dalam hati.
Vella tertegun. Matanya tertumpu pada pria itu. Vella melihat pria itu dari ujung kaki sampai ujung rambutnya, seakan-akan menilai penampilan Kay. Namun, lambat-laun ia menyadari sesuatu yang lain dari Kay. Vella merasa seperti mengalami dejavu. Dia seperti merasa pernah bertemu dengan Kay. Tetapi kemudian pertanyaan Kay menyadarkannya dari lamunannya.
“ Kok melamun?”
“ Oh, enggak. Gak pa-pa. Ehm… Maaf, ya atas kejadian tadi.”
“ Iya, gue juga minta maaf.”
“ Vel, lo balik duluan aja, ya? Gue mau ngobrol-ngobrol dulu sama Kay,” ujar Axelle.
“ Gue pulang naik apa?” tanya Vella.
“ Ya jalan kaki la. Manja banget.”
“ Kok lo tega, sih sama adik lo sendiri?” protes Vella.
“ Cepetan sana. Ganggu aja, deh,” usir Axelle.
Vella pun pergi dengan muka cemberut dan kesal. Ada sedikit rasa kehilangan di hati Vella saat melangkah pergi dari tempat Kay dan Axelle berdiri. Entah mengapa.
Sesampai di rumah, Vella langsung menuju ke dapur. Dahaganya tidak dapat ditahan lagi. Perutnya pun sudah minta diisi. Lelah dan kesal. Itulah kata-kata yang dapat menggambarkan keadaan Vella saat itu. Lelah karena dia pulang dengan berjalan kaki dari taman ke rumahnya yang letaknya cukup jauh.
Kesal karena dengan teganya kakaknya menyuruhnya pulang atau lebih tepatnya mengusirnya dan lebih memilih mengobrol dengan teman lamanya tanpa menghiraukan adiknya sendiri.
Rasa penasaran pun tiba-tiba muncul ketika ia mengingat tentang kejadian di taman tadi. Berbagai pertanyaan melompat-lompat keluar dari otaknya.
“ Kok kayaknya pernah ketemu Kay. Tapi di mana, ya?”
Sejenak Vella diam, memikirkan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Lama dia berpikir tentang hal itu, namun tak satupun jawaban yang dia temukan. Malah rasa penasarannya bertambah besar.
“ Aduh! Di mana, sih? Kok gue gak inget, ya?”
“ Ah..udahlah. Ngapain juga gue mikirin soal itu. Kalau emang pernah ketemu, pasti nanti gue inget. Kalaupun gue nggak inget, berarti muka Kay itu pasaran. Banyak yang punya. Hahahaha…”
“ Duh! Maag gue kambuh lagi deh! Gara-gara mikirin Kay yang gak penting itu sih. Mendingan sekarang gue makan. Laper banget.”
“ Sabar, ya perut. Bentar lagi kamu kamu aku isi. Tenang aja,” Vella berbicara dengan perutnya sambil mengelus-elusnya.
Keesokan harinya, pukul 6.15, Vella sudah berada di meja makan untuk sarapan. Dia bangun pagi-pagi. Tidak mau kejadian kemarin tidak terulang. Seperti biasanya, Vella menyantap nasi goreng selimut dengan segelas susu putih. Hari ini, Vella sarapan sendirian. Ayah dan Bundanya pergi ke Bandung kemarin malam, sedangkan Kak Axelle sudah hilang dari tadi, entah kemana perginya.
“ Kak Axelle ke mana, ya? Kok pergi gak bilang-bilang. Gue ke sekolah gimana dong? Mana di sekitar sini gak ada kendaraan umum lagi,” gerutu Vella saking kesalnya.
“ Halo Vella! Gak baik, lho menggerutu seperti itu,” sapa Kay yang tiba-tiba sudah duduk di sebelah Vella.
“ Kok…Kay di sini? O..gue tahu, pasti nyari Kak Axelle! Sayangnya, Kak Axelle udah pergi dari tadi, tapi gak tahu ke mana,” balas Vella.
“ Gak tuh. Gue bukan nyari Axelle. Gue nyari lo,” jelas Kay.
“ Hah?!” kata Vella kaget.
“ Gak kok. Bercanda. Hahaha… Gue ke sini karena dapet amanat dari Axelle buat nganter lo.”
“ O…
“ Tapi abis lo pulang sekolah. Lo mesti nemenin gue ke suatu tempat. Gimana? Mau, gak?”
“ Ehm.. tapi ntar jangan lupa traktir gue, ya?
“ Ok. Gak masalah.”
“ Kalau gitu, gue mau,” kata Vella sambil tersenyum.

Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah Vella, Vella dan Kay berbincang tiada henti. Mereka berbincang apa saja. Vella pun merasa nyaman dan dekat dengan Kay. Padahal, mereka berdua belum begitu mengenal satu sama lain dan Vella sendiri pada dasarnya bukan seorang gadis yang bisa dengan mudah dekat dengan orang lain.
Rasa penasaran yang sempat dikuburkan jauh-jauh itu kembali lagi. Rasanya, seiring berjalannya waktu, rasa itu semakin menguat dan tak terbendungkan. Sampai-sampai, di sekolah pun Vella tidak bisa konsentrasi belajar. Kerja Vella hanya melamun saja. Bahkan, pada hari itu sudah 3 kali Vella ditegur oleh guru. Teman-temannya pun heran.
“Vella, lo gak pa-pa kan? Kerjaan lo dari tadi bengong mulu,” ujar Tania.
“ Kesambet baru tahu rasa,” timpal Anne.
“ Ada apa, Vel? Cerita dong,” kata Tania.
“ Hah?! Kalian ngomong apa? Sorry, sorry, gue tadi gak denger,” jawab Vella
“ Tuh, kan! Baru aja dingomongin, eh, udah melamun lagi,” ujar Tania.
“ Iya. Gue jadi heran.”
“ Kalau liat dari tanda-tandanya, nih. Kayaknya Vella lagi jatuh cinta. Iya, kan, Vel?” timpal Anne.
“ Ah. Enggak mungkin la. Mau jatuh cinta sama siapa, coba?” hindar Vella.
“ Ehm.. By the way, yang tadi pagi nganter lo, siapa, Vel? Jangan-jangan lo jatuh cinta sama orang itu, ya?
“Enggak la. Itu cuma temen kakak gue. Namanya Kay. Kakak gue nyuruh dia nganterin gue.”
“Cie...,” sorak Tania dan Anne..
“ Apaan, sih? Gue tegasin sekali lagi. Gue gak lagi jatuh cinta.”
“ Terus, kenapa dari tadi lo melamun aja?”
“ Gini lo…,”
Vella pun menceritakan semua kejadian yang dia alami bersama Kay. Lengkap dan sangat terperinci. Mulai dari pertemuan mereka. Rasa penasaran Vella, juga kejadian tadi pagi yang membuat Vella semakin penasaran dengan Kay.
“ Kok bisa, ya lo ngerasa deket dengan dia, padahal lo baru kenal dy sebentar banget,” ujar Anne.
“ Udah la. Gak usah dibahas lagi. Ntar kita jadi pusing. Lupain ajalah, Vel. Paling-paling muka kayak Kay itu pasaran punya,” sambung Tania.
“ Iya, sih. Tadinya gue juga mikir kayak gitu. Gue udah berniat ngelupain semuanya. Tapi, pasti ujung-ujungnya kepikiran lagi,” kata Vella.
“ Oke. Sekarang kita lupain dulu masalah itu. Bu Resti udah masuk tuh. Gue gak mau cari gara-gara,” Tania mengingatkan.
“ Oke,” jawab Vella dan Anne bersamaan.

Teng…ting…teng…
“ Jangan lupa tugasnya dikumpulkan besok. Selamat siang!” ujar Bu Resti mengakhiri jam pelajaran.
“ Selesai juga pelajarannya,” ujar Vella dengan tersenyum manis.
“ Vella, kita ke rumah Tania, yuk. Udah lama kita nggak ngumpul-ngumpul,” ajak Anne.
“ Iya, iya. Udah lama banget. Sekalian kita ngerjain tugas dari Bu Resti,” ajak Tania yang mengamini ajakan Anne.
“ Guys, sorry banget. Gue udah ada janji sama Kay. Gimana kalau besok aja. Kebetulan besok gue gak ada kerjaan,” tawar Vella.
“ Wah! Kayaknya kita mesti nyingkir dulu deh, Tan. Ada yang mau kencan!” goda Anne yang diikuti tawa Tania.
“ Aduh! Jangan mulai lagi, dong! Gue marah, nih!” ancam Vella.
“ Iya, deh! Nggak lagi. Jangan marah, Vel! Kita cuma bercanda.”
“ Tapi, gue juga cuma bercanda. Hahaha… Udah dulu, ya? Gue udah ditungguin Kay dari tadi. Sampai ketemu besok! Daahhh!” kata Vella sambil melambaikan tangannya.
“ Daahhh.”

Vella berlari menyusuri koridor sekolah, menuju ke pelataran parkir. Tidak memerlukan waktu lama untuk menemukan mobil Kay karena mobil yang ada di pelataran parkir itu hanya ada satu dengan warna kuningnya yang sangat menyala. Segera Vella berjalan menuju mobil itu dan membuka pintu mobil itu.
“ Halo, Kay! Udah lama, ya? Maaf, deh!”
“ Gue baru aja nyampe. Gimana sekolahnya?”
“ Yah, gitu deh. Biasa-biasa aja. Sekarang kita mau ke mana?”
“ Gimana kalau kita makan dulu? Tapi di mana yang enak?” tanya Kay.
“ Ke Roemah Kajoe aja. Gue suka banget suasananya,” saran Vella.
“ Letaknya di mana?” tanya Kay.“ Di Jalan Telomoyo.”
“ Oke. Let’s go!.”

Roemah Kajoe adalah sebuah kafe mungil. Tempatnya kecil dan berdinding kayu. Dua meja biliar diletakkan di samping kumpulan tempat duduk. Hanya segelintir orang saja yang bermain biliar. Kafe itu selali berbau bunga jasmine. Ornamen yang diusungpun adalah ornament etnik dengan dominasi warna cokelat. Beberapa lampu kecil diletakkan dalam wadah terakota menerangi beberapa tempat.
Terdapat daya tarik tersendiri bagi para penikmatnya. Dengan alunan lagu yang lembut yang diputar di sana, kafe itu memberi rasa nyaman kepada pengunjungnya. Ada rasa hangat saat duduk di kafe itu, seperti berada dalam sebuah keluarga yang harmonis.
“ Waw! Keren banget kafenya, Vel! Rasanya nyaman banget.” komentar Kay.
“ Bakal betah banget gue di sini.”
Selagi menikmati keindahan dan keunikan kafe itu, seorang pelayang mendatangi Kay dan Vella dengan senyum yang menentramkan hati.
“ Silakan…,” ujarnya ramah sambil memberikan menu kepada Vella dan Kay.
Setelah melihat-lihat menu, Vella memilih satu creamy soup, satu pack kecil fried potato, dan segelas cappuccino, sedangkan Kay memesan satu meet rogan josh, satu samosa, dan segelas coffee latte. kemudian Vella menyerahkan kertas pesanannya kepada pelayan tadi seraya mengucapkan terima kasih.
Sambil menunggu pesanan, mereka kembali bercanda tawa. Setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit. Pesanan mereka datang. Mereka menikmati semua makanan dengan lahap dan sesekali berbincang-bincang lagi. Semua makanan di piring-piring sudah tandas. Minumannya pun juga tak bersisa.
“ Wah, kenyang sekali, tapi sumpah! Makanannya enak banget.”
“ Gak rugi, dong gue ngajak lo ke sini?” tanya Vella.
“ Iya. Makasih, Vel udah ngajak gue ke sini. Ternyata, selain unik, makanan di sini enak banget. Gak nyesel deh gue,” timpal Kay.
“ Eh, udah sore. Tadi kan gue rencananya mau nemenin lo ke suatu tempat, jadi, gak? Pergi sekarang aja. Ntar kemaleman pas nyampe rumah,” saran Vella.
“ Ok.”
Kay bersikeras membayar semua makanan dan minuman karena ia telah berjanji pada Vella, walaupun Vella sudah mengataka bahwa dia hanya bercanda saja. Setelah melewati sebuah perdebatan kecil, Kay menepati janjinya dan membayar semua makanan dan minuman. Mereka pun pergi ke tempat yang memang ingin didatangi Kay
“Vel, macet banget, nih!” ujar Kay.
“ Iya, gimana nih, padahal biasanya gak gini amat.”
“ Kalau kayak gini caranya, bisa malem banget baru nyampe rumah. Atau kita tunda aja. Besok aja, bisa?” tawar Kay.
“ Kalau besok, gak bisa. Gue udah ada janji sama temen-temen.”
“ Ya udah, hari Sabtu, deh. Bisa, kan?” tanya Kay.
“ O…. Bisa… Bisa,” jawab Vella sambil mengangguk-angguk.
“ Ya udah, kita pulang aja sekarang.”
Saking macetnya, perjalanan pulang ke rumah Vella juga memakan waktu berjam-jam. Vella pun tertidur karena kecapaian. Melihat hal itu, Kay tidak tega membangunkan Vella. Akhirnya, Kay menggendong Vella dan membawanya masuk ke rumah Vella.
“ Makasih, Kay udah nganterin adik gue balik. Gue jadi ngerepotin lo,” ujar Axelle tidak enak.
“ Santai aja, Xel. Malah gue yang ngerepoting adik lo.”
“ Duduk dulu, Kay,” Axelle mempersilahkan Kay duduk.
“ Gak usah, Xel. Udah malem. Gue pulang aja. Orang rumah udah nyari. Gue pamit dulu, Xel.”
“ O.. ya udah. Hati-hati di jalan, Kay. Thanks berat, ya.”
“ Bye.”
Axelle mengantar Kay sampai gerbang rumahnya sambil melambaikan tangan. Mobil Kay lama-kelamaan hilang dari pandangan mata Axelle, dia pun masuk ke rumah sambil tersenyum senang, senyum penuh arti.

Semakin lama, Kay dan Vella semakin dekat. Vella merasakan sesuatu yang beda terhadap Kay. Hari ini mereka berencana pergi, menuntaskan janji yang tertunda. Namun janji itu telah berubah. Bukan hanya pergi, mereka akan menginap di tempat itu. Pantai Parangtritislah tujuan mereka.
“ Ngapain, sih kita ke sini?” tanya Vella pada Kay.
“ Main-main, sekalian aku mau motret bintang jatuh,” jawab Kay santai.
“ Hah?! Mana bisa?”
“ Iseng aja, kalau gak dapet, juga gak pa-pa.”
“ Ya udah, sekalian refreshing setelah UN. Hehehe…”
“ Iya ya, kamu bentar lagi kuliah. Kamu nanti kuliah di mana?” tanya Kay.
“ Gak tau. Enaknya di mana, ya?” ujar Vella sambil mengetuk-ngetukkan
telunjuknya ke kepalanya.
“ Di Bandung aja. Biar deket sama gue,” kata Kay.
“…,” Vella hanya diam. Mukanya memerah. Perasaannya bercampur aduk. Senang, tapi malu.
“ Kok mukanya merah gitu? Gak kok, gue cuma bercanda.”
“ Gue juga cuma kepanasan. Gue juga tahu kalo lo bercanda. Hahaha…,” kilah Vella sambil tertawa terpaksa. Dia berusaha menyembunyikan rasa malunya.
er,’ kata Vella dalam hati.
“ Sekarang kita ke rumah gue aja. Kebetulan gue punya rumah di sini. Jadi kita gak usah capek-capek cari penginapan,” ajak Kay.
“ Ok.”
“ Sekarang mendingan lo pergi tidur. Soalnya nanti kita bakal begadang sampai pagi. Nanti kalau udah waktunya, gue bangunin lo,” kata Kay sesampainya di rumahnya.
“ Oke, bos. Makasih ya,” jawab Vella sambil memberi hormat bak seorang polisi dan merekapun berlalu menuju ke kamar masing-masing.

Alarm jam di kamar Kay berbunyi. Dengan sisa-sisa kantukan, Kay bangun dari tempat tidurnya, mematikan alarmnya, dan kemudian berjalan menuju ke kamar Vella. Sesuai janjinya tadi, ia membangunkan Vella. Vella pun bangun, lalu mereka berdua bersiap-siap menuju Parangtritis.
Parangtritis mempunyai langit yang luas dan indah. Maka dari itu, Kay ingin sekali ke sana. Yogyakarta di musim kemarau memang aneh. Suhu kota jadi terasa dingin di malam hari, namun panas terik siang juga semakin menjadi-jadi.
Malam itu, langit cukup cerah. Ada banyak bintang, namun tiada bulan. Vella dan Kay duduk di pantai dengan beralaskan tikar sambil menghirup aroma khas laut. Ditemani semilir angin laut yang berhembus, Kay memasangkan teropong rakitan yang dipadupadankan dengan kamera, Vella ikut membantu Kay memasangnya. Lalu, perburuan pun dimulai.
Mereka tengkurap di tikar sambil menengadah ke langit. Beberapa kali Kay mencoba membidik bintang jatuh yang hanya muncul dua-tiga kali, tapi semuanya gagal. Yang ditangkap kameranya hanya gambaran gelap, hitam. Lama mereka berdiam diri. Akhirnya, Vella tidak tahan untuk menanyakan hal yang telah dipendamnya itu. Rasa penasarannya.
“ Kay, gue kayaknya pernah kenal sama lo, deh. Kayaknya dulu banget, tapi gue gak tahu di mana,” kata Vella membuka pembicaraan.
“ Kita kan dulu emang deket, Vel. Tapi emang udah lam banget. Udah 14 tahun yang lalu. Jadi, wajar aja kalau lo lupa,” jawab Kay sambil sesekali membidikkan kameranya.
“ Kok lo gak pernah bilang, sih?!” tanya Vella kesal.
“ Kan lo gak pernah nanya. Gue kira lo masih inget.”
“ O…”
“ Dulu gue pendiem banget. Sampai-sampai gak ada anak yang mau main sama gue. Tapi, kemudian lo dateng. Lo temen satu-satunya temen gue waktu itu…,” cerita Kay.
Ternyata Kay dulu adalah teman kecil Vella. Namun, tiba-tiba Kay bagai hilang hilang ditelan bumi. Tanpa kabar, tanpa pamit, Kay pergi. Vella waktu itu, merasa kehilangan Kay, namun seiring waktu, Vella dapat mengatasi rasa kehilangannya itu.
Pantas saja pada saat bertemu Kay di taman. Axelle sempat berkata ‘ Masih ingat?’ pada Kay. Niatnya yang waktu itu ingin menanyakan perkataan hal itu kek kakaknya, sudah terlupakan. Baru hari itu, dia mengingatnya kembali.
Sekarang rasa penasaran Vella terjawab sudah. Memang Kay sekarang sangat berubah. Menjadi lebih periang. Kacamatanya juga sudah tidak digunakannya lagi. Teknologi lasik mengubah semuanya dan Kay ternyata juga menggunakan teknologi itu.
“ Pantes aja. Gue ngerasa udah ngenal lo lama banget. Gue juga ngerasa nyaman dan nyambung banget sama lo.”
“ Coba aja gue certain itu dari awal. Pasti lo gak penasaran terus,” sambung Kay.
Tanpa terasa, waktu bergulir dengan cepat. Hari sudah hampir pagi. Namun, rasa kantuk belum menghinggapi mereka, saking antusiasnya membahas masalah itu. Walau begitu, Kay tetap mengajak Vella pulang. Sebaiknya mereka istirahat dulu, daripada nanti sakit, begitu pikir Kay.

“ Kay, kita jalan-jalan, yuk!” ajak Vella yang sedang bosan.
“ Ke mana?” tanya Kay.
“ Ke Malioboro aja. Mumpung udah di Yogya,” usul Vella.
“ Ok, deh.”
Jalan-jalan di Malioboro memang asyik. Pantas saja Malioboro banyak dikunjungi para turis. Salah satu bagian jalan dipakai oleh para pedagang kaki lima lesehan. Ada rumah makan, jajanan kecil, dan lain-lain. Walaupun rumah makannya hanya berupa lesehan dan terbuat dari tenda, di sana ramai sekali. Ada suatu daya tarik tersendiri saat kita mengunjungi tenda-tenda itu.
Setelah makan di salah satu tenda itu, Kay dan Vella berkeliling-keliling kota menggunakan dokar. Mereka juga sempat mampir ke beberapa toko yang menjual oleh-oleh khas Yogyakarta. Sambil memilih-milih barang, mereka bertukar cerita, satu sama lain, Kay pun sempat mengutarakan isi hatinya.
“ Vel, gue mau tanya sesuatu.”
‘ Jangan-jangan Kay mau nembak gue?! Wah, seneng banget,’ pikir Vella kesenangan.
“ Vel, lo dengerin gue gak sih?” tanya Kay sambil melambaikan tangannya di depan muka Vella.
“ Eh, iya. Sorry. Lo tadi mau tanya apa? Ngomong aja.”
“ Temen sekelas lo yang anak cheerleader itu, siapa namanya?”
‘ Kirain mau nembak, ternyata…’ pikir Vella sebal.
“ Vel, kok ngelamun lagi?” tanya Kai yang merasa tidak didengarkan.
“ Eh, nggak ngelamun kok. Oh ya, pertanyaan lo tadi. Di kelas gue, anak cheerleadernya, jadi yang mana?” tanya Vella dengan setengah hati.
“ Yang rambutnya panjang, agak ikel, cantik, tinggi, putih. Siapa namanya?” tanya Kay dengan sangat antusias.
“ Oh, itu Chiara. Emang kenapa? Lo naksir?” tanya Vella dengan raut muka sedikit khawatir.
“ Mungkin. Kayaknya orangnya baik, menarik, cantik lagi. Gue tertarik sama dia. Berhubung lo temen sekelasnya, kenalin ke gue, dong?” pinta Kay.
Hati Vella mencelos. Ternyata, Kay tidak memiliki perasaan khusus terhadap dirinya. Padahal, dia sudah merasakan sesuatu yang berbeda terhadap Kay, yang rasanya makin lama, makin kuat saja rasa itu. Semua harapannya kepada Kay, pupus sudah. Memang Chiara itu tipe pacar impian. Tinggi, langsing, cantik, putih, dan juga dia anggota tim cheerleader.
“ Vel, jangan ngelamun lagi. Seharian ini gue perhatiin, udah 3 kali lo kayak gini. Ada apa, sih?” tanya Kay khawatir.
“ Hehehe… Gak ada apa-apa. Tenang aja. Gue usahain deh, soalnya gue gak terlalu deket sama dia.”
“ Makasih, Vel!” kata Kay yang tersenyum dengan lebarnya, sementara Vella hanya bisa menahan perih hatinya.

Sejak saat itu, Vella menjadi sering sekali harus mendengarkan curhatan Kay tentang Chiara. Kay juga selalu menanyakan segala sesuatu yang berkaitan dengan Chiara. Tentu saja hal itu membuat Vella semakin hari semakin jengah.
Seperti perayaan-perayaan kelulusan di sekolah-sekolah lain, sekolah Vella mengadakan prom nite. Para siswa-siswi harus membawa pasangan ke acara itu, entah itu kakak, adik, teman, ataupun pacar.
Prom nite akan diadakan 2 minggu lagi, namun Vella belum menentukan siapa yang akan menjadi pasangannya. Dia masih berharap kepada Kay. Dia ingin sekali mengajak Kay, tapi setelah mengingat curhatan Kay, Vella mengurungkan niatnya, dia yakin Kay akan menolaknya.“ Vel, kalo gue ke prom nite sama Chiara, oke gak?” tanya Kay meminta saran.
“ Emang Chiara udah ngajak lo?”
“ Udah, tapi gue belum jawab.”
“ Lho, kenapa?” tanya Vella heran.
“ Gak apa-apa, cuma adalah sedikit masalah. Kalau udah kelar, baru deh gue kasih jawabannya.”
“ Masalah apaan sih?” tanya Vella penasaran.
“ Ada deh. Mau tahu aja! Lo sendiri gimana? Lo pergi sama siapa?” tanya Kay.
‘ Gue pengennya sama lo, Kay. Tapi, lo kayaknya lebih milih Chiara daripada gue,’ jawab Vella, hanya dalam hati.
“ Gak tahulah. Itu juga bukan urusan lo!” jawab Vella dengan ketus. Tiba-tiba suasana hatinya memburuk.
“ Mendingan lo pulang sekarang. Gue mau tidur!” Vella mengusir Kay.
“ Sana! Sana!” kata Vella seraya mendorong Kay ke arah pintu depan rumahnya.
“ Ya udah deh, gue pulang dulu. Sampai ketemu besok, Vel.”
Setelah itu, Vella langsung masuk ke kamarnya. Dia menangis. Sikap Kay yang sangat baik dan manis kepada Vella membuat Vella semakin berat melupakan Kay. Andai saja Kay menolaknya, menjauhi, atau membencinya sejak awal. Pasti rasa sakit itu tidak sedalam yang dialaminya sekarang.
Vella sadar. Dia tidak seharusnya mendengarkan curhatan Kay tentan Chiara. Itu penyebab utama hatinya sakit. Dia juga sudah jenuh. Selama ini dia berusaha terlihat senang dan tidak cemburu ketika Kay berbicara tentang Chiara. Selama ini dia menutupi perasaannya karena ia takut Kay akan menjauhinya saat Kay mengetahui yang sebenarnya.
Ia pun memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Ia akan menghindari Kay selama beberapa waktu, sampai dia benar-benar siap untuk mengatakan hal itu kepada Kay, sehingga tidak akan ada penyesalan di kemudian hari

Vella semakin menghindari Kay, baik saat Kay datang ke rumahnya, menjemputnya di sekolah, maupun saat ditelepon dan di-sms. Kay bingung terhadap semua sikap Vella.
Sampai suatu hari, Kay datang ke rumah Vella tiba-tiba, karena itu juga Vella tidak bisa menghindar dari Kay. Vella belum siap benar menghadapi Kay, emosinya masih sedikit labil.
Tok..tok..tok…
“ Vel, ini gue, Vel,” kata Kay sambil mengetuk pintu kamar Vella.
“ Ngapain lo ke sini? Lo pergi aja.”
“ Gue mau ngomong, Vel.”
“ Ngomong aja, gue juga bisa denger dari sini.”
“ Vel, kok akhir-akhir ini lo ngehindarin gue? Ada apa, Vel?”
“ Bukan urusan lo, Kay. Mendingan lo urusin Chiara aja. Dia lebih penting!” teriak Vella yang mulai meneteskan air mata.
“ Kok lo sinis banget ngomongnya?”
“ Bukan urusan lo. Gue mau sinis, mau enggak. Itu bukan urusan lo.”
“ Tentu aja itu urusan gue.”
Karena tidak tahan lagi. Vella membuka pintunya yang tadi terkunci dan menemui Kay. Siap tidak siap, sekarang dia harus mengakhiri semuanya.
“ Apa maksud lo? Emangnya lo siapa gue?” tanya Vella yang semakin terisak.
“ Asal lo tahu aja! Gue suka sama lo, Kay. Betapa hancurnya gue saat gue tahu ternyata lo suka sama Chiara. Harapan gue hilang. Betapa sakitnya gue pas lo ceritain tentang Chiara, tanya tentang Chiara, semuanya Chiara, Chiara, dan Chiara. Gue emang salah saat gue nutupin perasaan gue dan berpura-pura setuju dan seneng tentang semua rencana lo buat Chiara,” ujar Vella mengungkapkan semua perasaannya yang diiringi tangisnya yang semakin deras.
“ Vel, gue ma…”
“ Dengerin gue sampai selesai!” perintah Vella menghentikan perkataan Kay.
Vella diam sejenak, kemudian berbicara kembali.
“Gue sadar, gue gak pantes buat lo. Gue dan Chiara itu bedanya kayak ilalang dan mawar. Chiara seperti mawar yang indah dan menggoda, sedangkan gue ilalang yang jelek dan gak enak dipandang. Maka dari itu, hari ini gue mutusin untuk mengakhiri semuanya. Gue gak kuat buat nyimpen semua ini. Terserah lo mau beranggapan apa soal gue sekarang. Lo mau ngebenci gue, gue juga gak apa-apa. Sekarang gue lega,” kata Vella dengan sisa-sisa tangisannya.
“Huuuhhh…,” Vella menghembuskan dan mengambil nafas sejenak.
“ Sekarang gue udah bisa ngelepasin lo buat Chiara. Gue bakal seneng ngeliat lo seneng dan bahagia sama Chiara. Buat gue, lo udah tahu perasaan gue aja udah cukup. Gue juga udah bisa terima semuanya. Gue udah siap kehilangan lo sebagai temen gue. Emang lo bukan jodoh untuk gue. Gue cuma bisa bilang selamat buat lo dan Chiara, semoga bahagia…,” ucap Vella mengakhiri semua perkataannya.

Sesudah berkata demikian, Vella menundukkan kepalanya di hadapan Kay. Dia belum sanggup menatap Kay. Vella sudah pasrah. Namun, tiba-tiba dua buah tangan memeluknya erat. Vella berkhayal dia dipeluk Kay saat itu juga. Tetapi rasanya pelukan itu begitu nyata, begitu hangat.
Vella menengadahkan kepalanya dan ternyata benarlah bahwa hal itu bukan khayalannya. Pelukan itu nyata. Kay memeluknya. Vella tidak bisa berkata apa-apa saking senang dan terkejutnya.
“ Vel, kenapa lo baru nunjukkin rasa cemburu dan suka lo sekarang? Gue udah lama nunggu lo nunjukkin hal itu!” katanya.
“Sebenarnya gue udah suka sama lo sejak kecil, Vel. Gue seneng banget pas ketemu lo di taman itu,” jelas Kay.
“ Lo bohong, kan? Lo pasti cuma kasian sama gue, makanya lo ngomong kayak gitu,” tuduh Vella yang kemudian mendorong Kay menjauh darinya. “ Lebih baik lo kembali ke Chiara.”
“ Gue gak bohong, Vel. Gue serius,” tegas Kay.
“ Lo bohong! Gue tahu diri, kok! Gue ibarat ilalang, sedangkan Chiara itu mawar. Di mana-mana, orang pasti milih mawar daripada ilalang. Jangan mainin gue, Kay. Gue gak mau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Gue udah cukup menderita!”
“ Gue gak bohong, Vel. Gue ngomong yang sejujurnya sama lo. Andai kamu ilalang dan Chiara itu mawar. Aku bakal tetep milih ilalang itu,” ujar Kay.
“ Ucapan gue suka Chiara itu bohong. Gue gak pernah suka sama Chiara. Dari dulu sampai sekarang, cuma lo yang ada di hati gue, Vel,” jelas Kay sambil memegang kedua bahu Vella.
“ Gimana gue bisa percaya? Lo aja udah bohong sama gue?”
“ Gue terpaksa ngelakuinnya. Gue juga gak tega ngeliat lo kayak gini. Gue gak nyangka lo bakal menderita banget kayak gini. Gue kira lo gak suka sama gue. Ini cuma strategi gue. Gue mau tahu apa lo suka sama gue apa enggak. Sikap lo selama ini gak menunjukkan bahwa lo suka sama gue. Lo keliatan biasa-biasa aja. Makanya, gue bikin strategi ini. Gue minta maaf, Vel. Lo mau kan maafin gue dan jadi pacar gue?” ujar Kay berusaha meyakinkan Vella.
Vella menatap kedua mata Kay lekat-lekat. Tidak ditemukannya suatu kebohongan di mata itu, malah sorot mata itu sangat teduh, membuat Vella merasa nyaman dan terlindungi. Yakinlah Vella bahwa ternyata Kay tidak berbohong.
Vella menjawabnya dengan senyum. Senyum yang berarti iya. Iya yang berarti dia memaafkan Kay dan iya yang berarti dia mau menjadi pacar Kay.
Melihat itu, Kay tersenyum senang, kemudian dia maju dan memeluk Vella. Di sela-sela pelukan itu, Vella bertanya,” Kay, kenapa kamu memilih ilalang, bukan memilih mawar? Padahal mawar itu kan sangat indah dan ilalang tidak dapat menandinginya.”
“ Vella, mawar itu memang indah, namun bila tidak hati-hati, kita bisa tertusuk duri mawar. Mawar memang memiliki mahkota yang indah, namun mahkota itu hanya berfungsi untuk menutupi durinya. Mahkota yang cantik itu hanya sebagai tameng untuk menutupi semua keburukan mawar. Coba bayangkan mawar tanpa mahkota yang indah, namun berduri. Tidak ada seorangpun yang akan meliriknya. Sedangkan ilalang itu sangat alami, dapat tumbuh di mana saja dan juga tidak mudah dihilangkan. Seperti ilalang di padang rumput, sangatlah indah. Ilalang tidak memerlukan mahkota untuk mempercantiknya karena ilalang memiliki kecantikan tersendiri. Kealamiaannya melambangkan kepolosan dan kejujuran. Sifat tidak mudah dihilangkan itu memancarkan semangat hidup yang tinggi. Intinya, kamu itu ilalang dan kamu itu unik,” begitu ujar Kay seraya tersenyum dan menyentuhkan telunjuknya ke hidung Vella.

-----------------------------------------------------------
Diposkan oleh X2 cReWsS di 09:50 0 komentar
Label: cerpen x.2 / 04
Sadar
Karya: Jessica Bakri
Tuhan memang punya caranya sendiri dalam menyadarkan orang yang “liar” seperti aku. Menurut beberapa orang, cara Tuhan menyadarkan mereka sangat majestic, atau apa sajalah yang mereka sebut Maha Kuasa dan Pengasih. Tapi menurutku, cara Tuhan terhadapku sangat menyakitkan. Menyakitkan hingga aku ingin mati rasanya, tapi, seperti yang kukatakan tadi Tuhan itu Maha Kuasa. Karena, aku tidak punya nyali untuk mengakhiri hidupku sendiri. Adapun aku nyali untuk itu, tapi, kembali lagi Tuhan itu Maha Kuasa, karena akhirnya aku tetap tidak mati jua.
Aku ingin bercerita tentang awal mula semua kejadian buruk yang kualami, walau aku sendiri juga tidak tahu dari mana harus memulai. Namun sebelumnya akan kuperkenalkan dulu diriku, namaku adalah Erina Soedibyo. Tapi panggil saja Erin. Nah kupikir mulai dari sini saja.

AWAL
Aku ingat betul, waktu itu adalah hari minggu pagi yang mendung. Semalam, hujan turun dengan derasnya bagaikan ada selang besar yang menyemprotkan airnya dari langit. Waktu kecil aku selalu berpikir kalau hujan terjadi karena ada seorang malaikat yang menyiram bumi dengan air dengan menggunakan selang besar seperti yang digunakan Pak Mudi -sopirku- untuk mencuci mobil. Tapi lama kelamaan, setelah aku dewasa pikiran itu terasa sangat konyol, terutama untuk pikiranku yang tak kalah konyol dan bodohnya.
Kembali lagi pada ceritaku. Pagi itu, ibuku datang mengetok kamarku. Aku masih tidur saat itu, padahal jam di dinding sudah menunjukan angka sepuluh.
“Sayang, ayo bangun. Sudah jam sepuluh ini, kita akan pergi ke gereja kan?” panggil ibuku seraya mengelus kepalaku.
“Mmm….” Erangku sambil menampik tangannya yang dikepalaku.
“Ya sudah, tapi cepat bangun yah. Nanti sarapannya sudah keburu dingin.” kata ibu. Ibuku pasti selalu menyerah kalau sudah berhadapan denganku, karena pasti aku akhirnya mengeluarkan suatu kata bodoh yang menyakitinya. Sekarang aku baru sadar bahwa ibuku selalu mengasihiku dan hanya menginginkan yamg terbaik untukku. Namun, tentu saja dulu aku tidak menyadarinya dan menganggapnya seorang tua yang menyebalkan, cerewet dan sebagainya.
Setelah itu ibu keluar dan menutup pintunya kembali. Di dalam kamar, aku mengutuk ibuku. “Menyebalkan, apa dia tidak tahu bahwa aku sedang tidur?” Dalam keadaan masih mengantuk, aku bangun dan berjalan kearah meja rias di depan tempat tidurku. Aku berkaca sejenak, menyisir rambut panjangku dan mengikatnya menjadi seperti ekor kuda. Setelah menyisir aku keluar dari kamar, dan telah menyiapkan wajah merengut kalau-kalau ada ibu di depan agar ia tidak banyak omong lagi. Tapi ia tidak ada di ruang tengah itu, jadi kubuang wajah merengut itu. Aku berjalan sambil menggosok-gosok mata kearah ruang makan, lalu duduk dan menuangkan segelas susu. Baru saja susu itu kuminum seteguk , tapi ibu datang dengan tiba-tiba dari belakangku dan meletakkan tangan kurus kecil bak hantu miliknya itu ke pundakku. Aku terkejut setengah mati, susu yang kuminum tadi keluar kembali melalui semburan kecil dari mulutku. Lalu kubanting gelas itu ke meja.
“Uh! Apa perlu datang dari belakang seperti hantu begitu? Mama ingin membuatku jantungan dan mati?” kataku ketus sambil mengelap ceceran susu di bibirku.
“Ya ampun, maaf. Mama tidak tahu kalau kamu akan terkejut sampai begitu.” Balasnya, sambil sibuk membantuku mengelap mulutku dengan lengan bajunya.
Namun aku menepis tangannya. “Sudah, jangan pegang-pegang!” Sambarku, masih dalam keadaan terkejut dan marah. Lalu aku kembali ke kamarku sambil sedikit menghentak-hentakkan kakiku.
Di dalam kamar, kembali lagi aku mengutuk ibuku dengan mengomel-ngomel sendiri. Ah merusak pagiku saja, orang tua itu. Baru saja akan minum sudah dikejutkan seperti itu, pikirku sendiri. Lalu aku duduk di tepi ranjang dan mengambil handphoneku. Aku membuka daftar kontakku dan memulai mencari-cari.
“Hmm, siapa yang yang enaknya diajak? Imel, Helda, atau Ivi yah.. ah, Imel aja. Helda cerewet, pasti banyak membualnya lagi.” Kataku sambil tetap menekan-nekan teleponku. Dan akhirnya kutelepon Imel, tapi nadanya sedang sibuk. Dan setelah beberapa saat ada pesan masuk.
“Bentar Rin, lagi di gereja. Anyway, kamu tidak datang yah?”

Oh iya, hari minggu. Sial. Membosankan sekali kalau harus pergi ke gereja, pikirku. Ah, kabur saja. Lalu aku cepat-cepat masuk ke kamar mandi dan mandi dengan cepat, keluar dan mengeringkan rambutku sebentar dengan mesin pengering rambut. Setelah itu, aku berdandan, memilih baju, dan setelah beberapa saat akhirnya aku selesai. Aku segera mengambil tasku dan keluar dari kamar.
Namun baru selangkah aku berjalan, ibu memanggilku dari belakang.
Sial. Mau apa lagi sih.
“Sayang, mau kemana?” kata ibuku. Aku juga memperhatikan bahwa mama sudah berganti pakaian dan kelihatannya akan pergi.
“Bukan urusan mama.” Balasku ketus.
“Mm, bukannya kita akan ke gereja?”
“Aduh, tolong. Untuk apa pergi ke gereja? Tidak berguna, lagi pula sangat mengantukkan disana.”
“Ya Tuhan, kenapa bicara seperti itu…” omongan ibuku terputus karena aku menyela.
“Sudah, simpan saja ceritanya nanti. Aku mau pergi. Bye…”

Lalu aku berjalan membelakangi ibuku. Aku tahu pasti dia kecewa denganku.
Tapi, apa peduliku? Pikirku saat itu.

TENGAH BAGIAN 1
Segera setelah keluar rumah dan mengambil mobilku, aku melaju kencang ke tempat dimana aku biasa menghabiskan waktu.
Seingatku waktu itu sudah mendekati tengah hari, namun bar tersebut masih sepi hanya ada beberapa orang. Karena bosan sekali, akupun berjalan ke sebuah mall disebelah. Setelah berjalan sejenak, handphoneku berdering dan akupun mengangkatnya.
“Hoi Rin, dimana? Kamu tidak ke gereja ya?” tanyanya sambil berdecak heran.
“Tidak. Habisnya, males sekali harus kesana dan mendengar orang-orang itu berdongeng ria. Ngomong-ngomong, aku sedang di tempat biasa kutunggu kalian yah.” Kataku sambil memutus telepon segera selesai bicara.
Singkat cerita, akhirnya temanku datang dan kami sempat berjalan-jalan, memasuki beberapa toko pakaian, makan siang, dan pada sekitar pukul 7 kami kembali ke bar disebelah dan berpesta.
Aku sedang berjoget ria saat pacarku Daniel datang. Ia langsung datang menghampiriku dan mengajakku duduk.
Daniel adalah pacarku yang baru setelah sekian banyak lelaki hidung belang yang kukencani, dan ia, masih termasuk dalam kategori lelaki hidung belang. Hanya, tentu saja aku tidak peduli saat itu. Aku tidak mau tahu hal lain tentangnya karena aku jatuh cinta padanya, atau setidaknya untuk saat itu.
“Hey, kamu sudah datang lebih dulu?” katanya sambil mengelus rambutku.
Uh, jika kuingat hal itu sekarang. Aku benci sekali, baik pada diriku maupun pada Daniel. Tapi apa daya kalau Tuhan sudah berkehendak?
Ok, berhenti menyesali diri sendiri, dan sekarang kembali pada ceritaku.
“Hey juga, ya aku sudah di sini dari beberapa jam yang lalu. Kemana saja sih? Lama sekali baru datang.” Balasku sambil sedikit menggunakan gerakan tubuh dengan maksud menggodanya. Dan, ia pun tergoda.
Lucu sekali bila diingat bahwa dulu aku perlu menggodanya. Aku benar-benar seperti orang buta saat itu. Sekarang aku sering berpikir, seandainya waktu itu aku tidak menggodanya sama sekali. Kurasa ia akan tetap melakukan apa yang selama ini memang diincarnya dariku. Uang dan tentu saja diriku sendiri.
Dan, setelah proses menggoda berlangsung kita semua tahu kemana hal ini berakhir. Dia mengajakku meninggalkan tempat itu dan pergi bersamanya. Tentu saja aku tidak menolaknya saat itu, dan mau saja diajak pergi. Tidak sadar apa yang dipertaruhkan dalam pergaulan bebas macam itu.

TENGAH BAGIAN 2
Dalam perjalanan ke rumahnya, kami hanya duduk diam mendengarkan musik. Lalu setelah beberapa saat, Daniel mulai berbicara.
“Apa acaramu tadi pagi?” Tanyanya.
“Tidak ada yang khusus, hanya duduk-duduk saja lagi pula aku hanya sebentar berada di rumah. Kalau kamu?”
“Yah, kurang lebih seperti itulah. Haha…
Saat tengah berbicara, aku memperhatikan bagian bawah kursiku. Sepertinya aku melihat sesuatu. Lalu setelah beberapa saat melihat akhirnya aku memutuskan untuk mengambilnya.
Alangkah terkejutnya aku saat melihat bahwa itu adalah sebuah pakaian dalam wanita dan yang pastinya bukan milikku.
Sontak aku langsung memukulnya dengan pakaian dalam itu. Mobil yang dikendarainya dengan kencang dari tadi agak oleng sejenak sebelum akhitnya dia melihat benda tersebut dan berpaling padaku.
“Siapa?” tanyaku dengan suara agak bergetar menahan amarah.
“Siapa apa? Tidak ada siapa-siapa selain kamu sayang. Percayahlah.” Jelasnya dengan raut wajah memelas memohon agar aku mempercayainya.
“mungkin milik kakakku yang terjatuh saat aku mengantarnya kemarin.” Lanjutnya masih mencoba meyakinkanku.
“Oh yah, kamu pikir aku bodoh? Hah?! Kakakmu tidak akan pernah membuka pakaiannya didalam mobilmu. Brengsek…bangsaaat…”teriaku sambil kembali memukulnya.
Tapi ia memegang tanganku terlebih dahulu sebelum aku kembali mengayunkan tanganku.
“Turunkan aku sekarang juga.” Kataku dengan suara yang dalam.
“Tidak.”
“Turunkan aku sekarang juga, lelaki brengsek!”
“Tidak akan.” Jawabnya dengan tegas.
Kesal, akupun meraih setirnya dan membelokkan setirnya dengan keras, namun terlambat sudah. Aku tidak melihat bahwa didepan ada sebuah truk yang melaju sama cepatnya.

AKHIR

Aku bangun keesokan harinya diatas sebuah ranjang rumah sakit. Aku tidak dapat merasakan apapun, seperti mati rasa dan hanya merasakan sedikit kesemutan sedikit.
Aku mencoba bangun dari ranjang, namun baru saja akan bangun aku sudah terjatuh lagi. Pandanganku menjadi hitam seketika. Ahh, kenapa aku. Sakit sekali rasanya.
Kemudian seolah terbangun oleh gerakanku, seseorang datang menghampiri ranjangku. Samar-samar aku melihat sosok yang kurus, pucat dengan rambut diikat setengah kebelakang. Setelah penglihatanku membaik sejak usahaku untuk bangun tadi, aku baru melihat wajah orang tersebut. Ia menangis sesunggukan dengan sedih sekali. Wajahnya spontan terlihat sangat tua dan berkerut. Aku jadi ikut menangis karenanya.
“Sayaang…” panggil ibuku pelan. “Kamu tidak apa-apa? Mama terkejut sekali…” lanjutnya, namun tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena ia kembali menangis sejadi-jadinya.
“Aku… kenapa?”
“Kamu kecelakaan sayang. Mobilmu ringsek dan hancur. Sungguh puji Tuhan sayang. Puji Tuhan..”
“aku…” aku mencoba bangun kembali, tapi ibuku menahanku.
“Sayang, jangan.. Kamu istirahat saja.” Kulihat wajahnya kian bertambah pucat dan ia kelihatan gugup.
“Aku mati rasa. Aku ingin duduk. Kakiku mati rasa dan kesemutan.”
Rintihku sambil mencoba bangun kembali.Aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku, aku benar-benar tidak bisa merasakan kakiku. Apakah kemarin terjepit? Namun tersentak sejenak, aku melihat kearah selimutku. Kenapa selimutnya ada bercak darah dan kempis..
Setelah berhasil bangun sedikit. Aku melihat ibuku, namun ia menutup matanya dan menangis. Penasaran kuangkat selimut tersebut. Namun dibawah selimut tersebut tidak ada apa-apa, tidak ada bantal dan tidak ada kakiku.
Seingatku, hari itu aku meraung-raung seharian. Ibuku hanya ikut menangis
sambil mencoba menenangkanku, namun aku tidak bisa tenang sampai akhirnya dokter datang dan memberikan aku obat penenang. Sungguh bodoh sekali aku ini. Andai saja pagi itu aku tidak pergi keluar melainkan pergi ke gereja bersama ibuku, andaikan saja aku tidak pernah berteman dengan orang-orang itu, andai saja aku dulu bukanlah orang kurang ajar dan brengsek, semua kesialan ini tidak akan terjadi dan lebih lagi aku tidak akan dan tidak perlu kehilangan kedua kakiku.
Tapi itu semua hanya berupa pengandaian. Andaikan…andaikan…dan andaikan. Sekarang semua hal itu tidak berarti lagi. Tidak ada lagi pengandaian untukku, karena aku sudah tidak bisa lagi berandai-andai. Aku sudah rusak.
Sekarang, setelah 2 tahun berlalu sejak musibah itu, aku adalah orang yang benar-benar baru. Aku tidak lagi pergi keluar saat malam (dan tentu saja tidak bisa karena aku tidak punya kaki dan tidak bisa memakai celana atau sepatu bagus lagi. Haha..lucu sekali). Hubunganku dengan ibuku membaik. Beberapa waktu setelah pulang dari rumah sakit waktu itu, aku meminta maaf pada ibuku. Aku tahu walaupun aku sampai bersujud dan menyembah, dosaku terhadap ibuku tidak akan hilang. Tetapi ia bilang bahwa ia tidak dan tidak akan pernah membenciku, ataupun menyesal telah melahirkan anak sepertiku, dan ia benar-benar telah memaafkanku sepenuhnya.
Aku sempat beberapa kali mencoba untuk bunuh diri, namun walaupun aku telah “berusaha keras”, tetap saja, aku tidak juga mati. Aku malah berakhir dirumah sakit, dan semakin menderita.
Akhirnya aku berhenti melakukan “usaha” tersebut. Aku pasrah pada apa yang akan terjadi. Kenyataannya, memasrahkan semuanya dengan mata terbuka lebih mudah dilakukan daripada mencoba mengatasinya tetapi dengan mata tertutup.
Setelah kecelakaan itu, aku merasa aku menjadi dekat kepada dua orang. Pertama adalah ibuku. Dulu aku membencinya karena aku selalu dianggap anak kecil, namun sekarang kenyataannya aku tidak bisa hidup tanpa bantuannya. Aku sangat bersyukur sekali mempunyai ibu yang penyayang seperti itu. Kemudian, orang kedua adalah Bapa-ku. Tuhan telah menjadi penerang, dan pendamping bagiku dalam jalanku yang suram dulu.
Sekarang, aku aktif dalam pelayanan di gereja. Aku menghabiskan waktuku sehari-hari di gereja, karena hanya didalam gereja aku merasakan damai dan aman. Untuk jujur, aku lebih merasa nyaman pada kehidupanku sekarang daripada dulu, walaupun dulu aku juga sempat merasakan senang. Aku telah tersadar sekarang dan cara Tuhan menyadarkanku memang menyakitkan, tetapi membawa hikmah yang berlimpah dibaliknya.

__________________________________
Diposkan oleh X2 cReWsS di 09:19 0 komentar

Rumitnya PDKT
Oleh: William halim (38)

Hari ini adalah tahun ajaran baru bagi Willy yang sekarang menduduki kelas 3 SMA. Tahun ini Willy dapat sekelas lagi dengan semua sahabatnya yang bernama Selly, Kevin, dan Karen. Mereka sudah bersahabat dari SMP dan selalu bisa mendapat kelas yang sama. Untuk kali ini, Willy duduk dengan Kevin dan Selly duduk dengan Karen yang duduk di baris ke 4 dari pintu dan urutan ke 2 dari belakang.
“Wuih, enak ya kita bisa sekelas terus jadi tiap ada pelajaran yang ngebosenin kita bisa bicara daripada bengong ga jelas,” kata Willy sambil menepuk bahu Karen yang kelihatnnya sedang sibuk sendiri dengan buku hariannya.
“Iya sih, tapi kalau kayak gini terus mana bisa ranking kita naik, soalnya kalian ribut terus sih,” ujar Karen lalu melanjutkan menulis buku hariannya lagi.
“Benar juga tuh. Tapi pelajarannya gak susah-susah amat sih, kecuali untuk biologi, merinding rasanya tiap kali aku denger info soal ulangan biologi. Mana gurunya punya mata jaipong gitu, pinter banget ngawas kita kalau lagi ujian,” kata Selly.
“Hmmmm, menurutku sih gak susah. Biologi itu mudah kalau kamu memperhatikan guru menjelaskan dengan baik,” kata Willy memberikan nasehat.
“Terserah deh tentang pelajaran ini, kita juga kan baru naik kelas. Nikmatin aja dulu, kayak aku, pulang sekolah nanti langsung main PS3 ada game baru yang keren abis,” kata Kevin sambil tertawa yang tiba-tiba terdiam ketika melihat seorang cewek cantik yang masuk juga ke kelas itu.
“Lanca Bana Will, liat tuh cewek cuantik buanget!” bisik Kevin kepada Willy, Selly dan juga Karen. Willy pun langsung melihat kedepan dan melotot memang cantik betul cewek itu.
“Ada yang tahu siapa cewek itu??” tanya Willy dengan penuh antusias.
“Elie, Elie Bukhari Setiawan tepatnya. Dia seorang murid yang sangat pintar tidak sama dengan kamu, Will. Memang kenapa tanya-tanya?—“ jawab Selly dengan cepat seperti elang yang mau menangkap ular. ”Atau jangan-jangan kamu naksir ya dengannya?” tanyanya dengan penuh antusias.
“Ngawur kamu. Kalaupun iya memangnya kenapa?” jawab Willy sewot namun terlihat banget kalau dia malu-malu juga.
“Cieeeee, sudah besar nih adik kecil kita,” kata Karen yang tiba-tiba langsung menutup buku hariannya itu.
“Ini yang enggak aku suka, kalau udah soal gosip, langsung deh kumat penyakitnya, ngomong nonstop 3 hari 3 malam,” Willy menggelengkan kepalanya.
”Terserah, bueeee—“ Jawab Karen. ”Tapi serius nih kamu naksir dengan dia?”
“Mungkin...” jawab Willy.
Saat itu Elie segera menghampiri kedua sahabatnya yaitu Michelle dan Vanny. Semua orang tahu bahwa mereka itu trio genius kecuali Michelle yang sesungguhnya hanya pintar di Biologi dan seni saja.
“Lie, kamu duduk di depan aja tuh masih kosong,” kata Michelle sambil merapikan kertas yang ada dimejanya.
“Gimana liburanmu? Enak ga Lie?” tanya Vanny.
“Lumayan lah, bisa ke puncak yang sejuk, beda dengan disini,” jawab Elie sambil merapikan tasnya.
Bel sekolah pun berbunyi dan ini saatnya guru wali kelas masuk ke kelas mereka masing-masing.
“Siapa ya kira-kira wali kelas kita? Jadi penasaran aku.”, kata Kevin.
“Berdoa dulu moga-moga ga dapet Pak Sukirmanto. Wuih guru kesenian yang satu itu gak enak banget,” jawab Selly dengan cepat sambil komat-kamit baca doa.
“Pak Sukirmanto? Oh, Pak botak yang genit itu ya? Amit-amit deh.”, jawab Kevin sambil menggigil.
“Bapak itu baik juga kok. Tiap aku gak bisa gambar pasti dibantunya,” ujar Karen yang kembali sibuk dengan buku hariannya itu.
“Dia kan seneng sama cewek yang rajin kayak kamu,” kata Selly dan Kevin berbarengan.
Sejak Elie masuk ke kelas dari tadi Willy selalu memperhatikannya terus-menerus. Sepertinya ia sangat terpaku dengan kecantikan Elie. Tiba-tiba masuk seseorang seumuran 40 tahun dengan kepala botak mengkilap dan langsung duduk di meja guru.Ternyata itu pak Sukirmanto!

“Akkhh!!! Kayaknya aku harus ganti kacamata deh. Gila masak aku ngelihat yang duduk di depan itu pak kinclong?” teriak Kevin yang terkejut melihat Pak Sukirmanto masuk ke kelas. Murid-murid yang lain hanya menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya maklum. Satu kelas, bahkan satu sekolah sudah tahu bahwa Selly,Willy, dan Kevin merupakan trio musuh berat Pak Sukirmanto. Tetapi mereka selalu selamat dari hukuman pengusiran keluar dari kelas karena Pak Sukirmanto senang dengan Karen, yang berarti kalau trio itu diusir keluar kelas, Karen juga bakal ikutan keluar. Guru kesenian itu tidak tega melihat Karen berdiri di depan kelas, karena itu selalu dibiarkan sampai sekarang mereka memasuki tahun ketiga.
“Diam kau Kevin, pusing sudah bapak melihat mukamu itu,” perintah sang guru kesal memandang tajam salah satu muridnya yang paling menyebalkan itu.
“Memangnya aku gak bosan apa 3 tahun ngeliat kepala botaknya itu, hahahahaha,” balas Kevin sambil tertawa dengan Selly. Karen yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya saja.
Lalu Pak guru mulai mengabsen murid satu-persatu dan kemudian tibalah giliran Willy yang termasuk berada di absent atas.
”Andreas Willy santoso.” Willy tidak menjawab, ia masih saja sibuk memperhatikan Elie yang sedang tertawa lepas bersama kedua temannya.
“Ui, itu namamu dipanggil jangan ngelamun aja dong.”, kata Kevin.
“I-iya pak. Eh?! Gila!!!!!!! KENAPA ADA PAK KINCLONG DISINI?” teriak Willy kaget melihat wali kelasnya untuk tahun ini adalah musuh besarnya.
“Diam kau Willy, sekarang aku sudah menjadi wali kelas kalian, tolong hormati saya,” kata Pak Sukirmanto kesal.
“Baik, Pak,” sahut Willy ogah-ogahan dan kemudian kembali duduk. Matanya melihat Elie lagi yang ternyata sedang tertawa dengan kedua sahabatnya itu akibat perilaku Willy.
“Wuih, manis banget itu cewek kalau lagi senyum,” kata Willy yang kembali menatap Elie dengan penuh kagum.
“Woi, bangun! Udah mulai belajar. Jangan ngelamun aja.”, ucap Selly.
“Iya-iya,” jawab Willy menatap sekilas ke arah Elie lagi dan kemudian mengobrol dengan ketiga sahabatnya seperti biasa.
Tak lama kemudian masuklah Boby, seorang cowok yang sangat nakal dan selalu membuat onar di kelas. Walaupun Willy juga suka buat onar, setidaknya tidak separah Boby yang terkadang keterlaluan.
“Maaf, Pak, saya terlambat.”
“Kamu ini, bahkan di awal tahun ajaran baru saja terlambat. Pakaianmu itu tidak rapi lagi. Cepat masukkan seragam kamu itu—“ tegur pak Sukirmanto tegas. ”Sudah cepat duduk sana.”
“Baik, Pak,” jawab Boby yang dengan cepat dan lalu mencari tempat duduk. Saat itu teman baiknya, Agus dan Latif sudah duduk berdua di belakang dan mereka menunjuk kearah Elie terus yang ternyata duduk sendirian.Semua murid juga tahu bahwa Boby sudah lama mengincar Elie. Dia segera duduk disana dan memulai percakapan.
“Gimana liburanmu Lie?”
“Lumayan,” jawab Elie dengan ramah, tidak seperti kedua teman baiknya Michelle dan Vanny yang menatap kesal kearah Boby. Cowok itu sering sekali mengerjai mereka berdua dan itu sangat mengesalkan.
Lalu Pak Sukirmanto pun segera berdiri dan berkata, “Ayo, sekarang kita pilih ketua kelas dan atur denah tempat duduk.”
“Yailah, harus pindah tempat duduk lagi cape deh~,” kata Selly yang kelihatan sangat jengkel.
Setelah diadakan musyawarah kelas untuk menentukan pengurus kelas, hasilnya sangat mengejutkan karena ternyata Kevin terpilih menjadi ketua kelas dan Willy sebagai wakilnya. Oleh Pak Sukirmanto,mereka ditugaskan untuk menentukan tempat duduk. Mungkin dengan mereka berdua jadi pengurus kelas, Pak Sukirmanto berharap kedua muridnya bias lebih tenang dan bertanggung jawab. Michelle dan Vanny segera memohon kepada mereka supaya tidak dipindahkan.
“Hei Vin, aku akan atur tempat dudukku di sebelah Elie. Jangan cerewet ya.” bisik Willy dengan matanya yang berbinar-binar dan mengacungkan jempolnya.
”Oke deh. Tenang aja…”
Setelah itu mengatur denah, mereka segera berpindah tempat dan dapat dilihat reaksi kesal Boby yang melihat kesengajaan yang diatur Willy agar Boby tidak duduk sebangku dengan Elie lagi. Willy melirik kearah Elie dan menelan ludah. Grogi juga nih.
“H-hai, na-namaku Willy. Salam kenal,” kata Willy dengan terbata-bata yang hanya dibalas dengan tawa kecil Elie yang membuat Willy terpana.
“Kok terbata-bata gitu? Hahaha. Aku sudah kenal sama kamu dari Michelle. Soalnya kamu suka gangguin dia kan?”
“Hehehe, iya. Soalnya Michelle orangnya gampang marah jadi enak digangguin,” balas Willy yang hanya terkekeh dan obrolan mereka pun berlanjut.
Willy merasa sangat senang dengan dirinya yang selalu duduk dengan Elie. Dalam pengaturan tempat duduk beberapa kali, Willy dan Kevin selalu curang dalam mengaturnya sehingga Willy selalu duduk dengan Elie, Vanny dengan Michelle, dan Selly dengan Karen. Di lain pihak, Kevin selalu duduk dekat dengan murid-murid yang pintar untuk dimintai bantuan saat ulangan.
Tak terasa sudah beberapa bulan lewat dan sudah mendekati bulan Desember dimana mereka harus menghadapi ulangan semester. Willy lama kelamaan menjadi rajin juga karena tertular sikap rajinnya Elie yang selalu menjadi teman sebangkunya sejak awal semester. Walaupun sudah duduk sebangku, Willy merasa sangat susah untuk mendekati Elie dalam masalah lain karena ia sangat cuek dan tidak begitu banyak omong dengan orang bukan sahabat dekatnya. Sepulang sekolah, Willy memutuskan untuk meminta bantuan dan segera berbicara dengan sahabatnya mengenai masalah ini.
“Vin, menurut kamu gimana ya cara deketin cewek yang orangnya cuek bebek kayak dessy bebek?” tanya Willy yang kelihatan sangat bingung.
“Hmm, menurutku, kamu mesti deketin cewek cuek lewat perantara orang yang dekat dengannya. Itu cara paling baik,” jawab Kevin sambil menepuk pundak Willy.
Malamnya, mengikuti nasehat Kevin, dia mengirimkan sms kepada Michelle mengenai kesukaannya pada Elie dan tidak disangka ditanggapi positif oleh Michelle sesuai dengan isi smsnya.
” Serius kamu? Wah pantes tuh maunya duduk berdua dia terus. Gak nyangka banget aku. Hmm, gimana ya dia orangnya emang cuek bebek banget. Tapi tenang aja aku bakal Bantu kamu deketin dia.”
Setelah membaca sms itu, semangat Willy langsung melejat naik dan sengan gembira ia pun memberitahukannya kepada semua sahabatnya. Keesokan paginya, saat tiba di kelas tanpa sengaja ia mendengar sesuatu yang tidak ingin didengarnya. Boby akan menembak Elie. Dia langsung cepat-cepat menaruh tasnya dan pergi menemui Michelle.
“Mis, gawat nih! Tolongin pengaruhin si Elie supaya gak mau sama si Boby, soalnya nanti Boby mau nembak Elie.”
“Eh??! yakin kamu? Gak bercanda kan?”
“Suer disamber ama Pak Kinclong.”
“Hmm, akan aku bantu dengan seikhlasnya. Aku juga gak seneng sama dia. Kalau jadian sama Elie terpaksa deh tiap kali jalan harus jalan ama dia. Aku gak mau! Amit-amit!”
Segera setelah percakapan singkat itu, Michelle menjalankan tugasnya untuk mencegah pernyataan cinta Boby dengan mengikuti Elie kemanapun gadis itu melangkah. Elie Cuma bias mengangkat alis melihat tingkah temannya itu.
“Tumben kamu ngikutin aku terus, Mis.”
“Well, daripada aku bengong di kelas gak ada teman. Vanny kan lagi sibuk dengan Friska cari bahan tugas fisika di perpustakaan.”
Sampai pulang sekolah, semuanya masih terkendali. Boby tidak diberikan kesempatan untuk mendekati Elie. Tetapi ternyata hari itu Jum’at yang berarti hari dimana Willy dan Michelle harus melakukan tugasnya mengurus misa mingguan sehingga terbukalah saat yang ditunggu-tunggu oleh Boby, saat dimana Elie ditinggal sendiri oleh Michelle. Boby menggunakan kesempatan ini dan mengajak Elie ke kantin belakang sekolah.

Elie berlari tergesa-gesa menuju ke kapel samping sekolah tempat Willy dan Michelle sedang sibuk mengurusi misa. Dia harus segera memberitahukan berita mengejutkan dan menyenangkan satu ini. Setelah menemukan temannya, Elie mengajak Michelle menyepi dulu dan membisikkan sesuatu. Willy hanya melihat keduanya dari jauh dambil berdoa dalam hati agar bukan berita itu yang disampaikan.
“Mis, gila barusan si Boby nembak aku,” ungkap Elie setengah berbisik dengan cepat diantara sela tarikan nafasnya sambil tersenyum lebar. Mata Michelle terbelalak kaget dan rasanya bola matanya bias keluar kapan saja.
“Apa??!! GILA! Baru ditinggal sebentar juga!—“ teriak Michelle kesal, panic dan kaget bercampur jadi satu. Michelle menenangkan nafasnya lalu bertanya lagi. “T-terus kamu terima ya?? Makanya kamu senyum-senyum gitu?” tanya Michelle penuh selidik. Elie menggelengkan kepalanya.
“Jelas tidak. Aku tersenyum-senyum kayak gini karena aku merasa senang banget berhasil menolak si Boby. Kau mesti lihat ekspresi mukanya. Aku akan kasihtahu Vanny nanti. Hehehe,” jawab Elie dengan tenang. Michelle menghela nafas lega.
“Untung kamu tidak menerimanya Lie. Kalau kamu sampai jadian dengan Boby. Aku dan Vanny bakal menjaga jarak 10 meter tiap melihatmu jalan dengan dia,” kata Michelle tersenyum lega dan senang.
“Hahaha. Bisa saja kamu,” ucap Elie terkekeh. Willy mengecek arlojinya dan berdeham.
“Maaf, tapi cepat masuk ke kapel. Misa sudah mau dimulai,” ujar Willy memotong pembicaraan mereka berdua. Elie mengangguk dan melambai kepada Michelle dan Willy, kemudian masuk kedalam kapel. Setelah melihat temannya masuk. Michelle langsung menghampiri Willy dan menceritakan semua yang dikatakan Elie. Willy tentu sangat senang. Satu rival sudah disingkirkan dan itu berarti dia masih punya kesempatan untuk mendapatkan Elie. Willy kemudian dengan segera bergegas bergabung dengan ketiga sahabatnya yang sudah duduk di dalam kapel. Dia tidak sabar untuk menceritakan kabar ini.
Setelah misa dimulai Willy segera menceritakan apa yang terjadi dengan kedua sahabatnya tersebut.
“Wah, beruntung banget, Will. Coba diterima, pasti kau sudah pusing 7 keliling,” kata Kevin berdecak kagum dan menepuk bahu temannya itu.
“Bener tuh. Terus, kenapa?”, tanya Selly.
“Apanya kenapa?”, jawab Willy dengan heran.
“Ya kenapa si Boby bisa ditolak, gitu aja kok gak nyambung,” kata Karen langsung nyambung ke pembicaraan mereka sambil menggelengkan kepalanya.
“O iya, lupa aku nanya. Nanti malem aku suruh Michelle nanya ama dia lewat sms,” jawab Willy dengan mengangguk-anggukan dan kemudian dengan gembira memperhatikan Elie dan teman-temannya yang juga sedang asyik mengobrol di tempat duduk mereka.
Setelah misa selesai, Willy langsung memanggil Michelle untuk menyuruhnya menanyakan apa sebab Elie menolak Boby di kantin waktu itu. Michelle pun juga penasaran dan belum mengetahui alasannya. Dia bakal menginterogasi Elie nanti malam dan berjanji akan memberitahukan alasannya nanti malam.
Sekitar pukul 8 malam HP Willy berdering. Telepon dari Michelle.
“Halo, Will ternyata alasan dia menolak Boby itu sangat sederhana. Hahaha,” kata Michelle tertawa di seberang telepon.
“Sudah, langsung saja. Jadi kenapa dia nolak si Boby?”, tanya Willy yang kelihatannya tidak sabar menunggu jawaban dari Michelle.
“Iya-iya, sabar dong kalau jadi orang.”
“Iya aku sabar, tapi mana alasannya.”
“Katanya dia nggak suka sama cowok playboy kayak Boby yang suka mempermainkan cewek yang dengan mudahnya meninggalkan cewek yang ia pacarin kalau sudah bosan. Selain itu, dia juga gak ada perasaan apa-apa ke Boby.”
“Loh, jadi kenapa dia selama ini kayaknya dekat banget sama Boby?”
“Ya, dia kan orangnya ramah walaupun cuek bebek. Tahu sendiri kan?”
“Ya. Hah, lega aku mendengarnya.”
“Ya udah ah. Aku gak ada pulsa, bye.”
“Dasar pelit dari dulu kalau ditelpon atau disms pasti alasan habis pulsa. Hahaha. Bye,” jawab Willy yang lalu mematikan handphonenya.
Waktu memang berjalan sangat cepat dan tanpa disadari sudah lewat 1 semester setelah kejadian itu dan ini saatnya bagi mereka untuk menghadapi UAN. Pada saat ini Willy sedang berada di kelas dan masih terus duduk di sebelah Elie. Dia berusaha untuk menarik perhatian Elie dengan segala cara, seperti curhat dengannya atau dengan menanyakan tugas dengannya. Dengan ini dia bisa meyakinkan Elie bahwa dia adalah laki-laki yang setia bukan seorang playboy. Tetapi Elie selalu saja menjawab yang dibutuhkan saja, jarang sekali mengajak mengobrol lama-lama. Ini membuat Willy sangat susah untuk mendapatkan perhatiannya.
Pada hari terakhir UAN, Willy sedang makan bersama sahabat-sahabatnya di kantin mendiskusikan saat yang tepat untuk mengutarakan perasaannya kepada cewek pujaan hatinya itu.
“Jadi, Aku akan nembak Elie saat pembagian ijasah, gimana menurut kalian?” tanya Willy serius menatap satu persatu temannya.
“Ya terserah dan juga tergantung. Kamu sudah pasti belum mau sama dia?” ujar Kevin balik nanya kepada Willy.
“Tentu saja lah,” balas Willy dengan tegas.
“Ya udah. Kalau gitu silahkan lakukan rencanamu, tapi jangan di skul. Menurutku agak sulit. Lebih baik ajak dia makan atau nonton film gitu sehabis pembagian ijazah. Kesannya lebih serius gitu, “ ujar Karen memberikan saran ke willy sambil terkekeh.
“Wuih, bisa juga nih Karen omongin soal cinta hahahahaha.”, kata Selly sambil tertawa terbahak-bahak.
“Baiklah. Itu memang lebih baik. Tapi aku akan ajak kalian, Michelle dan Vanny juga. Aku tidak yakin dia akan mau jalan berdua saja kalau kami belum ada hubungan apa-apa. Makasih idenya kawan,” kata Willy tersenyum dan menghabiskan makanannya.
Tak lama kemudian mereka telah mendapat ijasah dan seluruh murid angkatan Willy lulus dengan nilai yang memuaskan. Sepulang sekolah, Willy langsung menjalankan rencanya dan pergi menemui Elie dan kawan-kawannya yang sedang merayakan kelulusan mereka.
“Hei, gimana hasilnya? Bagus?” tanya Willy kepada ketiga orang itu.
“Bagus kok. Hehehe,” jawab Elie dengan penuh tawa. Michelle dan Vanny juga mengangguk-angguk, tanda bahwa jawaban mereka sama dengan Elie.
“Oh iya, kita rayain yuk,” usul Vanny tersenyum yang ditanggapi oleh anggukan antusias Michelle. Elie juga mengangguk tanda setuju.
“Ah, kalau begitu gimana kalau kita nonton aja ke Mall of Palembang yang baru buka? Aku sudah pernah pergi dan tempatnya bagus. Sekalian nanti aku ajak Selly, Kevin, dan Karen biar rame. Mau?” tanya Willy santai berusaha menutupi rasa gugupnya.
“Boleh dong, enak juga tuh sekalian untuk refresing. Iya kan, Lie?” kata Michelle yang masih nyengir karena mendapatkan nilai bagus di mata pelajaran favoritnya.
“He-eh,” jawab Elie tersenyum
“Ok deh, nanti siapa yang mau aku jemput?” tanya Willy yang berharap hanya Elie yang mengangkat tangan.
“Aku akan pergi ikut Vanny, boleh kan Van?” jawab Michelle tersenyum jahil sambil merangkul lengan Vanny. Michelle sudah tahu rencana Willy dan ia jahat kan kalau nanti menganggu?
“Boleh aja…” jawab Vanny tersenyum.
“Eh, tunggu! Aku gimana? Mobil Vanny itu mobil kecil yang cuman muat untuk 5 orang, biasanya didalam ada banyak barang. Jadi palingan hanya muat untuk 3 orang,” kata Elie yang kelihatan kebingungan.
“Ikut aku aja gimana? Mobilku kan Harrier ga kecil-kecil amat,” tanya Willy dengan penuh harap. Elie tampak berpikir keras.
“Sudah, Lie. Ikut saja. Daripada lu jalan?” ujar Michelle membujuk Elie masih senyam-senyum gak jelas.
“ Ya udah deh,” jawab Elie.
“Nanti aku antar pulang juga yah?”tanya Willy
“Boleh jadi kokoku gak usah pergi keluar rumah lagi. Biasa dia suka rewel kalau diganggu pas lagi seru-serunya main internet,” jawab Elie dengan senang hati.
“Baiklah. Nanti jam 2 aku jemput ya.” kata Willy penuh semangat. Ia sudah tidak sabar untuk acara jalan-jalan ini.
“Oke,” jawab ketiganya.
Willy kemudian meninggalan ketiga cewek itu dan segera kembali menemui ketiga sahabatnya untuk memberitahukan hal ini.
“Aku udah berhasil ngajak dia pergi, gimana kalian jadi ikut kan?”, tanya Willy.
“Tentu saja . Kita kan mau refreshing juga.” jawab Selly
“Ntar aku ikut siapa?” tanya Karen
“Iya aku juga ikut siapa, supirku kan lagi cuti mana mobil masuk bengkel lagi,” kata Selly.
“Aku bisa jemput Karen tapi ntar baliknya jangan ikut aku yah aku mau nembak dia di mobil.” jawab Willy.
“Oke, aku bakal jemput Selly. Pulangnya Karen ama Selly ikut aku,” kata Kevin.
“Ok, makasih ya. Aku balik rumah dulu mau siap-siap.” Ujar Willy sambil berjalan meninggalkan tiga sahabatnya itu.
“Mentang-mentang mau nembak cewek, langsung lari ke rumah dandan sampe 3 jam hahahahahaha.” kata Selly sambil tertawa jahil.
“Bercanda aja kamu Sel. Ya sudah, aku balik dulu. See ya!” jawab Willy dan pulang ke rumahnya. Karen mengikuti dari belakang agak tergesa-gesa.
“Tunggu! Aku juga ikut turunin di simpang depan skul,” ujar Karen mengejar Willy yang Cuma dibalas dengan acungan jempol oleh Willy.

“Halo, Lie udah siap lom?" tanya Willy lewat teleponnya dan dapat dilihat kalau ia sudah tidak sabar lagi menunggu untuk pergi. Dia sudah terkekang selama satu bulan karen ujian akhir itu dan juga dia ingin cepat-cepat menemui Elie.
“Sudah. Cepetan. Michelle sama Vanny sudah nyampe.”
“Iya, tunggu ya. Bye.”
“Bye.”
Setelah mematikan handphonenya Willy langsung keluar dan menghidupkan mobil kesayangannya itu. Mobil itu merupakan pemberian ayahnya kepadanya saat berumur 17 tahun katanya menandakan kalau Willy itu sudah dewasa.Setelah pamitan dengan ibunya dia langsung pergi menuju rumah Elie dan menjemputnya lalu langsung pergi nonton ke Mall of Palembang.
Setelah mereka jalan-jalan sampai puas, hari sudah cukup malam dan mereka segera bergegas pulang ke rumah masing-masing. Sahabat-sahabat Willy memberi semangat pada Willy sebelum mereka pulang dan Willy menjadi sangat gugup di dalam mobil. Willy yang biasanya cerewet menjadi diam membuat Elie curiga.
Setelah sampai di depan rumah Elie. Elie pun segera pamitan pada Willy dan membuka pintu tetapi Willy segera memanggil Elie dan dia menutup pintunya lagi. Willy berdeham beberapa kali kemudian mengutarakan perasaannya.
“Lie, mungkin selama ini kamu gak sadar kalau aku selama ini selalu memperhatikanmu. Tapi. sebenarnya aku suka sama kamu. Asal kamu tahu, waktu Boby nembak kamu aku langsung keringetan bukan main—“ dengan segera digenggamnya tangan Elie yang kelihatannya sangat terkejut.”Mungkin bagi kamu aku gak sempurna seperti yang kamu inginkan, tapi di mataku kamu itu sangat sempurna dan tiada duanya. Will you be my lady?”
“G-gimana ya aku jadi bingung—“ Elie tidak menatap mata Willy namun saat sesaat melihat mata cowok dihadapannya ia dapat melihat ketulusan Willy. Elie tersenyum kecil dan menjawab dengan simpel sesuai dengan perwatakannya.”Oke deh.”
Jawaban yang hanya terdiri dari dua kata pendek itu dengan sukses membuat Willy meloncat kegirangan sampai-sampai kepalanya terbentur atap mobil yang rupanya cukup keras. Elie hanya tertawa kecil dan segera setelah mengantar Elie, Willy memberitahukan hal ini kepada teman-temannya termasuk Michelle dan mereka memberikan Willy selamat. Willy berjanji akan mentraktir mereka.
Bulan demi bulan berlalu, hubungan antara Willy dan Elie pun menjadi semakin erat, semua sahabat mereka pun tidak ada masalah. Beberapa dari sahabat Willy dan Elie sudah pindah untuk kuliah di tempat lain seperti misalnya Michelle yang pindah ke Jakarta dan masuk Universitas Indonesia dan mengambil jurusan kedokteran dan Kevin yang pindah ke Bandung untuk melanjutkan kuliah bidang Teknologi Informasi. Vanny dan Selly memutuskan untuk tetap tinggal di Palembang untuk melanjutkan studinya. Selly tidak mau berpisah dari pacarnya yang sudah bekerja tetap disini. Sementara Willy, Elie, dan Karen memutuskan untuk pindah ke Singapura untuk melanjutkan studi disana. Saat ini Willy dan Elie sedang pergi makan di Mall of Palembang sambil mendiskusikan jurusan yang akan mereka ambil nanti di Singapura
“Aku sudah putuskan, aku akan masuk sekolah musik di Singapura bagian barat. Sekolahnya bagus kan, Will?”
“Iya sih. Kalau aku kuliah jurusan apa yah? “
“Kamunya suka apa?”
“Kalau aku sih sukanya ama Zoologi sama Kimia, tapi gak tau mau milih yang mana bingung.”
“Kayak aku dong. Dari dulu emang udah seneng main piano jadi sudah pasti kuliah ambil piano.”
“Hmmmm, tapi Lie, menurut kamu aku ambil apa?”
“Menurutku ambil Zoologi saja. Tempat kuliahnya kan deket sama college aku nantinya.”
“Iya juga. Dekat pula sama kampus Karen. Dia kan ambil jurusan matematika. Emang dari dulu udah jadi maniak matematika.”
“Hahaha, iya ya, jadi collegenya deketan dong.”
Saat itu Karen pun datang bersama Selly dan Vanny sehabis pergi berbelanja di mall.
“Wuih lagi ngomongin apa nih?” tanya Selly dengan ceria.
“Lagi nentuin tempat kuliah,” jawab Elie.
“Udah ketemu belum?” tanya Vanny.
“Udah, kampusnya deketan lagi ama kampusnya Karen. Jadi kan kalau pulang bisa sama-sama.”, jawab Willy.
“O, iya deketan. Jadi kapan kita akan berangkat?”, tanya Karen.
“Masih belum tahu. Aku lagi sibuk rundingin dengan Mamaku, boleh gak aku tinggal di tempat Willy sekalian,” ujar Elie yang masih kebingungan membujuk orangtuanya. Padahal keluarganya sudah cukup kenal dengan keluarga Willy. Seharusnya tidak ada masalah kan?
“Kalau bisa secepatnya ya, aku suda gak sabar mau lanjutin kuliah,” jawab Karen dengan penuh antusias.
“Berarti kau mau cepat-cepat ninggalin aku dong?” kata Selly dengan wajah memelas.
“Ya enggak lah kan tiap liburan aku pasti balik. Lagian kita kan bisa ol msn rame-rame, kayak waktu itu sama Kevin.”
“Iya yah, hahaha.”
“Sudah lah kalau gitu kita balik dulu ya.”, kata Elie.
“Ok, bye.”
Setelah sampai di rumah Elie, mereka langsung berdiskusi langsung dengan orang tua Elie yang kelihatannya sangat sibuk tetapi mau meluangkan waktunya untuk berbicara. Akhirnya, orang tua Elie setuju dan begitu pula untuk orang tua Willy, mereka langsung mengabarkan Karen mengenai hal ini dan ia memberitahukan kepada orang tauanya bahwa dia akan menginap di rumah Willy di Singapura, tentu saja orang tua Karen langsung setuju karena mereka sudah kenal lama dengan keluarga Willy.
Beberapa minggu kemudian mereka pun terbang langsung ke Singapura dan mendatangi kampus masing-masing, dan ternyata mereka semua diterima. Tak terasa sudah 4 tahun terlewatkan setelah mereka pindah ke Singapura. Sampai saat itu hubungan Elie dan Willy masih berjalan dengan baik. Saat ini mereka sedang makan di sebuah food court bersama Karen.
“Enggak terasa lagi ya, Will, sudah 4 tahun gak ketemu ama teman-teman.”, kata Elie yang saat itu sedang menyantap makanannya. Selama 4 tahun terakhir ini, mereka tidak sempat pulang ke Indonesia karena terlalu sibuk dengan kuliah dan juga tugas dari dosen. Sehingga, liburan selanjutnya saat mereka akhirnya bebas tugas, sudah sangat mereka tunggu.
“Iya sudah gak sabar mau pulang, kan sekarang kita tinggal nyelesain skripsi habis itu bulan depan uda bisa balik lagi ke Palembang,” jawab Willy.
“Makannya kalau kuliah itu yang rajin, kayak aku dong 3 tahun aja uda tamat. Malahan ditawarin lanjutin ampe S3 segala. Tapi sayang kalian bakal pulang dan itu berarti gak ada tempat tinggal. Padahal aku mau tapi terpaksa kutolak tawaran itu,” kata Karen dengan rasa sedikit menyesal.
“Ya iyalah, kamu kan maniak banget belajar. Hahaha,” kata Elie.
Akhirnya setelah penantian cukup panjang, akhirnya mereka telah dinyatakan lulus dari kampus masing-masing dan telah bersiap-siap untuk pulang ke Palembang.
Setibanya di Palembang, Willy langsung mengangkati koper mereka keatas troli dan segera membawanya kedepan, alangkah terkejutnya dia ketika ia merasakan ada tangan yang memegangi bahuny, karena Elie dan Karen sudah menunggu di depan bandara. Saat menoleh kebelakang dia melihat Kevin, dia sangat sengang meihat sahabatnya lagi itu.
“Tambah tinggi kau, Will bahkan melebihi aku ya. Hahaha, padahal dulu aku lebih tinggi darimu.”
“Bisa saja kau, Vin, becanda terus, darimana kau tahu hari ini kami akan pulang? Padahal kami ingin mengejutkan kalian dengan menyantroni rumah kalian satu-persatu.”
“Mau tahu aja. Kan aku punya banyak koneksi, hahaha.”
Setelah itu mereka pun berjalan keluar bandara yang ternyata didepan sudah menunggu semua sahabat mereka. Ada yang mukanya sangat berubah seperti Michelle dan ada yang masih tetap sama seperti Selly.
“Hei, masih akrab gak nih pasangan kita?” sapa Michelle tersenyum jahil sambil menepuk pundak Elie yang hanya tersenyum. Willy mengacungkan jempolnya dan tersenyum lebar.
“Tentu dong. Hahaha. Ayo, kita pulang,” jawab Willy sambil berjalan menuju mobil yang menjemput mereka.

TAMAT
Diposkan oleh X2 cReWsS di 08:42 0 komentar
Bersama
Karya : Kevin Harmen

Pagi ini matahari sangat cerah. Matahari begitu hangat menyinari bumi. Kosuke sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, ia adalah anak berumur 15 tahun yang selalu telihat santai kapan saja dan di mana saja. Dia selalu menanggapi sesuatu dengan santai.
“Hei Kosuke,” teriak seorang perempuan dengan penuh semangat dari sebuah halaman rumah di belakang Kosuke.
Teriakan itu diteriakkan oleh Mori, seorang teman sekelas Kosuke yang selalu menemaninya setiap saat dan membantunya dalam berbagai masalah Kosuke.
“Ada apa Mori?” balas Kosuke dengan santainya, “Ayo kita pergi ke sekolah bersama-sama lagi…”
“Ayo Kosuke!” balas Mori dengan penuh semangat,” jangan sampai terlambat lagi ya seperti kemarin! Kamu sih lama sekali kemarin.”
“Sudahlah, yang penting hari ini kan aku sudah berangkat pagi-pagi, jadi jangan cemas. Kita tidak akan telat lagi hari ini.” balas Kosuke sambil berjalan ke arah sekolah.
Merekapun berjalan bersama-sama menuju sekolah dan tiba di sekolah tanpa terlambat seperti biasanya. Setibanya di kelas, merekapun diolok-oloki oleh teman-temannya, terutama oleh Robert.\
“Hei, teman-teman lihat! Sepasang kekasih ini tidak terlambat sekolah hari ini! Hahaha,” kata Robert, seorang murid di kelas Kosuke yang selalu mengolok-oloki mereka.
“Sepasang apa katamu! Kami ini cuma teman! Dasar sok tahu,” balas Mori dengan wajahnya yang memerah.
“Memang benarkan? Buktinya saja kalian selalu pergi berdua seperti sepasang kekasih,” ujar Robert dengan tawanya, “Lihat teman-teman, wajah Mori memerah seperti buah apel merah yang sudah matang!”
“Sudahlah Mori, biarkan saja mereka,” ucap Kosuke dengan santai,
“Santai sajalah Mori, jangan dianggap serius lah.”
“Bagaimana sih kamu ini, tidak pernah menganggap sesuatu dengan serius,” balas Mori kepada Kosuke, “Awas ya kalian, nanti pasti akan kubalas!”
“Hei, hei, kalian ini bagaimana sih? Kok sepasang kekasih bertengkar?” sindir Robert dengan cengirannya.
“Ah, sudahlah, malas aku berbicara dengan kalian! Aku sudah capek!” balas Mori dengan kesal, “Ayo kita ke tempat duduk kita, Kosuke.”
Mori yang mengajak Kosuke untuk duduk di tempat duduk merekapun segera menuju ke tempat duduk mereka. Tak lama kemudian bel sekolahpun berbunyi yang menandakan bahwa jam pelajaran akan segera dimulai.
Jam pelajaran pagi itu dimulai dengan pelajaran matematika, pelajaran yang membosankan bagi Kosuke dan selalu membuat Kosuke tidur pada saat jam pelajaran tersebut. Kosukepun tertidur di kelas pada jam pelajaran tersebut.
“Jadi bila 5x ditambah a menjadi…” ucap Pak Margaret yang mengajar matematika di kelas Kosuke, “Bagaimana Kosuke?Mengerti nak?”
“Hei Kosuke, Pak Margaret memanggil kamu nih, bangun, bangun.” bisik Mori kepada Kosuke, “Hei, bangun Kosuke, nanti kamu diusir lagi dari kelas oleh pak Margaret.”
“Hah? Ada apa?” ucap Kosuke dengan setengah sadar, “Ada apa mori?Aku kan masih mau tidur nih.”
“Kosuke! Lagi-lagi kamu ini tertidur di kelas! Dasar anak pemalas.” ucap Pak Margaret sambil berjalan ke arah tempat duduk Kosuke, “Keluar sana dari kelas! Kamu baru boleh masuk bila jam pelajaran saya sudah selesai.”
“Kamu dimarahi Pak Margaret kan, kamu sih gak mau mendengar omonganku” ucap mori dengan suara yang rendah.
“Ya, ya, ya, saya keluar…” ucap Kosuke yang masih mengantuk, “Boleh ke kantin nggak Pak?”
“Kamu ini ya, sudah bosan sekolah apa?” balas Pak Margaret dengan kesalnya, “Duduk saja di teras kelas sana!”
“Bagaimana sih Pak ini, nggak pernah bercanda apa?” kata Kosuke dengan santainya, “Hei Mori, mau ikut denganku keluar nggak?”
“Umm… Aku... Aku…” Mori tak dapat menjawabnya karena ia masih kebingungan.Mori sangat kebingungan apakah dia harus menemani Kosuke di luar atau tetap berada di dalam kelas.
“Aku kan tidak tertidur di kelas sepertimu, jadi aku akan tetap di kelas…” balas Mori dengan ragu-ragu.
“Eh, eh, kok gitu sih? Masa pacarnya sendiri tidak menemani? Hahaha.” sindir Robert dengan cekatan. Murid-murid sekelaspun ikut tertawa dengan Robert.
“Apa-apaan sih kamu ini, sudah berkali-kali aku bilang kalau kami itu hanya teman!” teriak Mori sambil bersiri melihat Robert.
“Hei Mori, kamu keluar juga dari kelas dengan Kosuke!” ucap Pak Margaret, “Dilarang berteriak di dalam kelas tahu.”
“Wah-wah, akhirnya sepasang kekasih ini bersatu juga ya teman-teman,” ucap Robert dengan cengirannya.
“Sudah! Cukup Robert, mari kita lanjutkan pelajaran matematika ini,” balas Pak Margaret kepada Robert, “Untuk Kosuke dan Mori, kalian berdua silakan duduk di teras kelas hingga jam pelajaran saya selesai.”
Kosuke dan Moripun menuju keluar dan duduk berdua di teras kelas. Jantung Mori berdetak sangat cepat karena ia hanya duduk berdua dengan Kosuke. Mori tak dapat berkata apa-apa, ia hanya dapat duduk terdiam dan wajahnyapun memerah karena yang ada hanya Kosuke di sampingnya.
“Ada apa Mori? Kenapa wajahmu memerah?” tanya Kosuke, “Apakah kamu sakit? Ayo kita ke UKS.”
“Umm, tidak tidak, aku tak apa-apa kok,” balas Mori dengan ragu, “Aku cuma… Cuma cemas saja nanti aku tidak bisa mengerjakan soal-soal matematika yang diajarkan oleh pak Margaret, Cuma itu kok…”
“Oh, ya sudah, tenang saja, nanti aku ajarin kamu lah, aku bisa kok soal-soal Pak Margaret,” kata Kosuke dengan menatap mata Mori, “Soal-soalnya kan mudah-mudah jadi aku bisa mengerjakannya dengan mudah.”
“Baiklah kalau begitu, nanti jangan lupa ajarin aku ya…” balas Mori dengan gugup, ”Jadi annti sepulang sekolah aku ke rumah kamu ya.”
Mereka berduapun duduk di depan kelas hingga jam pelajaran Pak Margaret selesai. Jam pelajaran itu ditutup dengan jam istirahat. Tak lama kemudian Robert keluar dari kelas dan menyindir mereka berdua.
“Hei, bagaimana kencannya? Apakah menyenangkan?” ucap Robert,
“Enak kan kalau cuma berdua saja? Tak ada yang menganggu kencan kalian kan?”
“Enak saja kamu bilang! Kamikan tadi dihukum, jadi kami cuma duduk saja di sini, tidak lebih kok!” balas Mori.
“Hei, hei, sudahlah Mori, biarkan saja si Robert itu, kalau kamu ladeni nanti dia malah menjadi-jadi,” ucap Kosuke dengan tenang, “Ayo kita ke kantin saja, perutku sudah lapar nih.”
“Baiklah Kosuke, ayo kita tinggalkan Robert si mulut besar ini,” balas Mori sambil berjalan ke arah kantin dengan Kosuke.
“Pergi sana! Pergi kencan sampai kalian puas sana.” ucap Robert dengan kesal, “Kalian akan menyesali kata-kata kalian!”
Kosuke dan Moripun berjalan ke arah kantin. Kosuke hendak mentraktir Mori makan, untuk menghibur Mori yang telah dikeluarkan dari kleas bersamanya tadi.
“Hei Mori, ambil saja makanan yang kamu suka, nanti aku yang bayarin deh.” ucap Kosuke sambil meraba-raba kantongnya, “Kita makan makanan yang murah-murah saja ya.”
“Oh, ok, baiklah Kosuke…” balas Mori dengan bingung, “Apa tak apa-apa kalau kau yang bayar?”
“Tak apa-apa tenang saja, aku tak akan memungut biaya darimu kok, hahaha,” balas Kosuke sambil tersenyum, “Ayo, ambil makanannya, nanti habis.”
Mereka berduapun makan dengan tenang dan hanya berdua saja di satu meja. Robert sedang tak ada di sana, jadi tak ada orang yang menyindir mereka. Mereka makan dengan lahap sampai kenyang, mereka pun puas dengan santapan mereka.
“Ayo Kosuke kita kembali ke kelas, nanti kita akan terlambat, jam pelajaran selanjutnya akan segera dimulai nih,” kata Mori setelah ia selesai makan, “Ayolah Kosuke, jam istirahat akan segera selesai nih, jam pelajaran setelah ini kan jam pelajaran…, kok aku mendadak lupa ya?”
“Setelah ini kan jam pelajaran Pak Kobasen, dia kan baik dengan murid-murid,” balas Kosuke dengan tenang, “Dia tak akan memarahi kita kok kalau kita hanya terlambat sedikit, dia kan guru yang baik.”
“Oh iya ya, tapi kan kamu ini jangan begitu lah, bagaimanapun juga kan dia seorang guru,” ucap Mori sambil berdiri, “Walaupun dia tak akan memarahi kita, kita kan sudah seharusnya menghormati dia sebagai seorang guru, bagaimana sih kamu nih.”
“Iya iya, aku akan segera menuju ke kelas,” balas Kosuke sambil memegang gelas air minumnya, “Kamu silakan ke kelas dulu sana, nanti aku akan menyusul.”
“Ah, tidak ada susul-menyusul, kamu harus segera menuju kelas denganku,” ucap Mori sambil menarik tangan Kosuke, “Ayolah, cepat sedikit kamu nih, lama banget sih.”
Tet… tet… tet…, bel tanda jam istirahat telah selesai berbunyi, murid-muridpun segera bergegas menuju kelas mereka masing-masing. Sementara itu Kosuke dan Mori masih di kantin dan akan segera berjalan bersama-sama menuju kelas mereka.
Mori dan Kosuke berjalan bersama-sama menuju kelas dan di depan kelas telah terlihat Robert yang telah siap dengan sindirannya. Pak Kobasen masih belum terlihat sehingga masih banyak murid-murid yang berada di teras kelas.
“Bagaimana makanannya sayang? Enakkan? Apalagi ditraktir oleh pacar sendiri,” sindir Robert sambil berdiri di depan pintu kelas mereka
“Siapa sih kamu? Pake sayang-sayang lagi,” ucap Mori dengan kesal,
“Kami kan Cuma makan bersama-sama, Kosuke hanya mentraktirku kok.”
“Hei, hei sudahlah Mori, jangan ladeni Robert,” ucap Kosuke sambil menarik Mori ke dalam kelas, “Biarkan saja dia bicara sendiri, nanti dia diam sendiri kok.”
“Ahh, pergi saja sana!” ucap Robert dengan kesal, “Pergi saja pacaran lagi.”
“Umm…, Kosuke, terima kasih ya.” Ucap Mori sambil berjalan mendekati tempat duduknya dengan Kosuke.
“Iya, tak apa-apa, orang seperti dia itu tak seharusnya diladeni,” ucap Kosuke di tempat duduknya, “Nanti dia akan jera sendiri kok menyindirmu.”
Mereka berduapun tiba di kelas tanpa terlambat, tak lama kemudian Pak Kobasen datang dan mengajar mereka. Kosuke dapat menjalani pelajaran-pelajaran dari Pak Kobasen dengan baik, pelajaran yang diajarkan oleh Pak Kobasenpun tidak membuat Kosuke mengantuk.
“Eh Kosuke, pelajaran yang diajarkan Pak Kobasen itu menyenangkan ya, cara mengajarnyapun tidak membuat kita bosan,” ucap Mori dengan terkagum-kagum pada Pak Kobasen.
“Iya, Pak Kobasen ini kan guru favorit kita, dia mengajar dengan santai sehingga kita dapat mengerti pelajarannya dengan mudah,” balas Kosuke sambil memperhatikan pelajaran yang diajarkan oleh pak Kobasen
“Iya, coba yang mengajar seluruh pelajaran itu Pak Kobasen ya, pasti semua mata pelajaran akan menjadi menyenangkan.” Ucap Mori kepada Kosuke.
“Hei Kosuke, Mori, apa yang kalian bicarakan di sana?” tanya Pak Kobasen kepada Kosuke dan Mori yang sedang berbincang di tempat duduk mereka.
“Tidak apa-apa Pak, kami Cuma membicarakan tentang pelajaran ini kok,” balas Kosuke dengan baik dan sopan kepada Pak Kobasen.
“Oh, baiklah, apa ada yang tidak kalian mengerti dari pelajaran ini?” tanya Pak Kobasen kepada seluruh murid di kelas.
“Tidak Pak, pelajaran yang Pak ajarkan dapat kami mengerti dengan mudah dan cepat,” ucap Mori kepada Pak Kobasen sambil tersenyum.
“Iya, pelajaran yang Pak ajarkan dapat dimengerti dengan cepat, jadi Pak tidak perlu khawatir.” Ucap salah seorang murid dari kelas tersebut.
“Baiklah-baiklah, mari kita lanjutkan pelajaran ini ya, bila ada yang tidak mengerti silakan menanyakannya kepada saya ya.” Ucap Pak Kobasen dengan tersenyum.
“Iya kan, Pak Kobasen itu guru yang baik,” ucap Mori kepada Kosuke,
“Dia saja tidak mau menghukum murid dengan mudah, dia pantas menjadi guru favorit.”
“Iya, iya, mari kita dengarkan penjelasan dari Pak, aku sangat nyaman diajarnya.” Ucap Kosuke kepada Mori sambil memperhatikan pak Kobasen.
Pelajaran-pelajaran yang diajarkan oleh guru-guru setelah pelajaran Pak Kobasen dapat dijalani oleh Kosuke dengan baik dan tidak tertidur di kelas lagi.
Tet… tet… tet…, bel tanda jam pelajaran sekolah hari ini telah selesai, semua muridpun bersiap-siap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Sementara itu Mori ingin meminta Kosuke untuk menjelaskan pelajaran Pak Margaret yag ia tak mengerti tadi kepada Kosuke.
“Hei Kosuke, itu, aku mau meminta kamu mengajariku pelajaran yang diajarkan Pak Margaret tadi,” tanya Mori kepada Kosuke, “Apakah kamu bisa mengajariku hari ini sepulang sekolah di rumahmu?”
“Oh, bisa, aku punya waktu luang kok hari ini,” jawab Kosuke pada Mori,
”Nanti kamu ke rumahku sekitar jam 2 siang ya.”
“Baiklah! Aku akan segera tiba di sana sekitar pukul 2 nanti ya,” balas Mori dengan tersenyum, “Ayo kita pulang bersama-sama, jarang-jarang sekali ya Robert tidak di sini untuk menyindir kita.”
“Ya sudahlah, mungkin dia sudah kapok menyindir kita terus, ayo kita pulang.” jawab Kosuke kepada Mori.
Mereka berduapun berjalan ke rumah bersama-sama dan tidak tampak Robert yang sering menyindir mereka. Rumah Mori tidak terlalu jauh dari rumah, sehingga Kosuke harus meneruskan perjalanannya sendirian ke rumahnya.
“Hei Kosuke, aku duluan ya,” ucap Mori sambil berjalan menuju ke dalam rumahnya, “Hati-hati ya di jalan!”
“Iya, baiklah,” balas Kosuke kepada Mori, “Aku tunggu di rumahku jam 2 ya! Jangan sampai lupa!”
Mori yang telah tiba di rumahnya duluan, melanjutkan kegitan siangnya dengan makan siang dan setelah itu ia segera bersiap-siap untuk menuju ke rumah Kosuke. Sementara itu Kosuke masih dalam kegiatan siangnya, yaitu makan siang.
Waktu telah menunjukkan pukul 13.40. Moripun bergegas menuju ke rumah Kosuke agar tidak terlambat dengan janjinya. Kosuke yang telah selesai dengan makan siangnya sedang bermalas-malasan di tamannya. Tak lama kemudian Moripun tiba di rumahnya dan menemui Kosuke yang sedang bersantai-santai di bawah pohon di halaman rumah Kosuke.
“Hei Kosuke!” teriak Mori dengan tersenyum, “Jangan bilang kamu lupa dengan janjimu untuk mengajarkanku pelajaran Pak Margaret ya!”
“Ahh.., ruapnya Mori sudah tiba ya,” ucap Kosuke yang hampir tertidur di bawah pohon di halamannya, “Tenang saja, aku tidak lupa kok, kamu mau aku ajarkan di mana? Di dalam rumah atau di halaman ini?”
“Di halaman ini sajalah, sepertinya lebih menyenangkan,” balas Mori,
“Udaranya sangat segar dan sangat sejuk di bawah pohon seperti ini, pasti pelajaran lebih mudah dimengerti.”
“Baiklah, mana yang kamu tidak mengerti?” tanya kosuke kepada Mori.
“yang ini, bagian dimensi tiga,” ucap Mori sambil mengeluarkan bukunya,
“pelajaran ini rumit, apalagi diajarkan oleh pak Margaret, malah menjadi lebih sulit.”
“Ohh, tenang saja, dimensi tiga ini tidak susah kok,” jawab Kosuke kepada Mori, “Bila kamu melakukan sesuatu degan berpikir positif, pasti kamu akan berhasil.”
“Terima kasih ya Kosuke atas nasihatmu, mungkin dengan berpikir positif aku akan menjadi lebih baik dan dapat melakukan apa yang aku inginkan.” Jawab Mori kepada Kosuke sambil tersenyum.
“Ayo, mari kita mulai pelajaran hari in dengan Pak Kosuke!” ucap Kosuke sambil mengambil soal-soal latihan di buku yang dibawa oleh Mori.
“Baiklah Pak Kosuke!” jawab Mori dengan penuh semangat, “Aku juga akan mengikuti caramu dengan berpikir positif.”
Moripun dapat mengerti pelajaran dimensi tiga itu dengan mudah. Semua itu karena motivasi dari kosuke untuk selalu berpikir positif, sehingga Moripun berusaha untuk tidak mudah menyerah dalam melakukan kegiatannya.
Tak lama kemudian, mereka menyudahi pelajaran mereka. Mori yang hendak pulang ke rumahnyapun diajak oleh Kosuke untuk bermain-main dahulu di rumahnya.
“Hei Mori, apa kamu akan segera pulang? Apa kamu tidak ma main-main dulu ke rumahku?” tanya Kosuke kepada Mori yang sudah memasukkan buku-bukunya ke dalam tasnya.
“A-aku mau pulang sajalah, masih banyak hal yang harus aku lakukan,” jawab Mori kepada Kosuke dengan cepat, “Aku ingin berterima kasih atas semuanya, terima kasih ya Kosuke.”
“Ah, tidak apa-apa, sudah tugasku kok untuk menolong teman baikku ini,” jawab Kosuke kepada Mori dengan tersenyum, “Eh, jadi kamu mau langsung pulang ke rumah? Tidak perlu kutemani?”
“Aku kan bisa pulang sendiri kok, baiklah kalau begitu, aku pulang dulu ya!” ucap Mori sambil berjalan menuju pintu keluar halaman Kosuke.
“Eh Mori, aku mau menanyakan sesuatu nih,” ucap Kosuke kepada Mori,
“Apa kamu ada waktu malam ini?”
“A-apa? Malam ini sih aku tidak ada acara…” jawab Mori dengan ragu.
“Baiklah kalau begitu, aku tunggu kamu di taman pukul 7 ya malam ini,” ucap Kosuke dengan mengacungkan jempolnya, “Aku ingin membicarakan sesuatu, jadi jangan sampai tidak datang ya!”
“B-baiklah Kosuke…” jawab mori dengan kebingungan, “Aku tak akan telat kok…”
Jantung Mori berdetak sangat kencang karena Kosuke sepertinya ingin mengajak Mori pergi kencan malam hari nanti. Mori masih bingung akan apa yang Kosuke rencanakan dengan ajakannya tadi. Perasaan Mori bercampur antara senang dan penasaran, ia tak sabar untuk menunggu hingga nanti malam.
Setelah sampai ke rumah, Mori segera mempersiapkan pakaian apa yang akan ia gunakan nanti malam pada perjumpaannya dengan Kosuke. Kosuke tidak mempersiapkan sesuatu yang spesial, ia hanya berharap agar Mori dapat menepati ajakannya.
Waktu telah menunjukkan pukul 06.40. MTak lama kemudian Moripun tiba di taman, namun ia belum melihat Kosuke. Kosuke yang baru saja tiba langsung memanggil Mori dan mengajaknya duduk di kursi taman.
“Hei Mori! Maaf ya aku terlambat!” ucap Kosuke dengan menggaruk kepalanya.
“Tak apa-apa kok, aku saja yang terlalu cepat datang ke sini,” balas Mori sambil berjalan menuju ke arah Kosuke.
“Eh Mori, ayo kita duduk di sana,” ajak kosuke sambbil memegang tangan Mori.
“B-baiklah,” ucap Mori dengan gugup, “Oh ya, memangnya kamu mau membicarakan apa?”
“Itu, kita kan sudah lama berteman, bersama-sama dalam keadaan apapun,” ucap Kosuke sambil menatap mata Mori, “Jadi aku mau bilang sesuatu.”
“A-apa,” ucap Mori dengan perasaan ragu namun nyaman, “J-jadi kamu mau bilang apa?”
“Sebenarnya aku mau bilang ini sejak kita telah berteman akrab dan selalu bersama dulu,” ucap Kosuke sambil memegang tangan Mori, “Kupikir waktunya tepat sekarang, aku sebenarnya menyayangimu Mori…”
“A-apa,” ucap Mori dengan terkejut, “A-apa itu benar? Kamu tidak main-main kan?”
“Tentu saja tidak, kali ini aku serius dengan kata-kataku.” Ucap Kosuke sambil tersenyum menatap Mori, “Jadi, maukah kau menjadi pacarku?”
Mori tak dapat menjawab pertanyaan Kosuke karena ia sangat gugup dan jantungnya berdetak sangat cepat. Di dalam hatinya, Mori sangat senang dan bahagia karena ternyata Kosuke, teman baiknya sejak kecil dapat mengatakan hal tersebut.
“A-aku…” jawab Mori dengan gugup dan wajahnya yang memerah, “Aku akan menjadi pacarmu Kosuke…”
“Yahoo!” teriak Kosuke dengan senang dan bersemangat, “Benar kan? Kau benar-benar mau menjadi pacarku kan?”
“I-iya, aku serius…” jawab Mori dengan wajahnya yang memerah padam.
“Hei Mori, apakah kau haus? Sini aku belikan minuman.” Tanya Kosuke sambil tersenyum.
“Terserah kamu saja deh,” jawab Mori yang perasaannya bercampur aduk.
“Baiklah, kamu tunggu di sini sebentar ya,” ucap kosuke sambil berjalan menuju ke kios yang menjual minuman, “Aku tak akan lama, jadi kamu tunggu di sini sebentar ya!”
Moripun menunggu Kosuke dengan sabar. Tak lama kemudian, Kosuke membawa dua gelas minuman ringan sambil tersenyum memandang Mori.
“Hei Mori, ini minumannya, kamu pasti haus.” ucap Kosuke sambil memberikan segelas minuman ringan kepada Mori.
“Terima kasih ya Kosuke,” ucap Mori sambil memegang tangan Kosuke,
“Kosuke, aku hanya ingin meminta satu hal darimu…”
“Baiklah, apa permintaanmu itu Mori?” tanya Kosuke sambil menatap wajah Mori.
“Aku hanya ingin…” ucap Mori sambil memegang tangna Kosuke dengan kuat, “Aku hanya ingin kalau kau selalu ada di sampingku dalam keadaan apapun.”
“Baiklah Mori, aku akan selalu ada di sampingmu dalam keadaan apapun,” jawab Kosuke sambil tersenyum, “Aku akan selalu setia bersamamu dalam keadaan apapun.”
“Terima kasih Kosuke…” ucap Mori kepada Kosuke sambil memeluknya,
“Aku sangat menyayangimu Kosuke…”
Kemudian, mereka berduapun pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan yang sangat bahagia. Mereka berdua selalu bersama dalam keadaan apapun dan saling mengisi hari-hari mereka dengan kebersamaan.
TAMAT
Diposkan oleh X2 cReWsS di 07:36 0 komentar
Label: Cerpen X.2 / 28


Maaf
Hari itu, hujan sedang turun deras sekali, dan aku terbangun dari tidurku yang sangat nyenyak dengan diselimuti mimpi yang indah, mimpi yang menemukanku pada Almarhum Ayahku. Aku sangat rindu kepadanya , sampai- sampai terbawa ke dalam mimpi itu.
Aku langsung bergegas masuk ke kamar mandi, mencuci muka, mengambil air wudhu, lalu aku sholat Shubuh. Bersyukur kepada Tuhan atas rahmat yang Ia berikan dan beryukur bahwa aku masih dapat menghirup udara segar pada hari ini.
Setelah sholat Shubuh, aku melihat jam yang menunjukkan tepat pukul 05.15. aku langsung mandi dan menyiapkan diriku untuk pergi ke sekolah baruku. Lalu aku sarapan, dengan segelas susu dan roti selai keju bersama dengan Ibu dan kakakku. Lalu, Aku berangkat bersama dengan ibu dan kakakku, Kak Andrea. Ia adalah kakak yang sangat aku sayangi. Ia sangat anggun dan aku kagum padanya. Berbeda sekali dengan diriku yang “tomboy”. Kami naik ke dalam mobil sedan yang berwarna hitam dengan plat BG 2720 NH, dengan ibu yang mengendarai mobil itu. Aku duduk di sebelah ibu dan Kak Andrea duduk di belakang kami.
Sekarang aku hanya tinggal dengan ibu, Kak Andrea, dan seorang pembantu, Ayuk Sari. Kami tinggal di rumah yang tidak terlalu besar tetapi kami sangat nyaman tinggal di rumah itu. Rumahku berpagar dinding yang di cat berwarna putih dengan pekarangan yang sangat luas di tumbuhi oleh bunga – bunga yang berwarna-warni dengan satu buah kolam ikan dengan air mancurnya. Di pekaranganku itu juga terdapat satu pohon belimbing yang sudah cukup tua, pohon itu besar dan rindang. Pada musim kemarau seperti sekarang, buahnya sangat manis dan besar-besar. Waktu kecil, aku sering sekali memanjat pohon itu untuk mengambil buahnya. Tetapi, setelah aku besar seperti saat ini, aku sudah tidak tertarik lagi untuk memanjat pohon itu.
Oh ya, berbicara tentang ayahku, ia sudah meninggal saat aku berumur 10 tahun. Aku sangat sedih saat aku mengingat masa itu. Ia meninggal karena sakit jantung yang dideritanya di rumah sakit. Aku ingat betapa sedihnya pula ibuku yang menangisi kepergian ayah. Jadi, sekarang aku tidak boleh membuat ibu sedih lagi, aku bertekad untuk menjadi anak yang baik, yang tidak melawan orang tua. Aku sangat sayang kepada ibu, dan juga ayahku. Mereka adalah orang yang sangat aku hormati, mereka sangat berarti dalam hidupku.
Ibu mengantarkan kami ke sekolah baru kami yang cukup disegani di Palembang, SMA Pelita 1. Dengan langit yang diseliimuti awan yang mendung dan hujan yang gerimis, aku dan kakakku keluar dari mobil dan menuju kelas kami masing-masing. Aku sekarang duduk di kelas X, dan kak Andrea duduk di kelas XII.
Kami berdua adalah murid pindahan dari Jakarta. Sebelumnya kami bersekolah di Jakarta, kami hanya tinggal berdua di sana, tetapi saat sakit ayah kambuh, kami diminta ibu untuk liburan di Palembang saja sekalian mengurus ayah di rumah sakit. Dan ternyata ketika ayah telah tiada, kami terpaksa harus dipindahkan ke Palembang untuk menemani ibu di sini.
Sampailah kami di sekolah kami yang baru. Aku dan kakakku kemudian masuk ke sekolah itu, sekolah yang cukup besar yang bangunannya dominan di cat berwarna abu-abu dan krem. Aku dan kakakku sangat bingung mencari kelas kami di sekolah yang sebesar ini. Aku masuk ke kelas X6 dan kakakku masuk ke kelas XII IPS 2. Kemudian bel masuk berbunyi, kami kemudian langsung mencari guru di sana dan kami bertemu dengan seorang guru perempuan dengan membawa buku yang bertuliskan ”Biologi untuk SMA kelas 1” dan alat tulisnya. Aku melihat bet namanya, dan aku mendapati bahwa ibu itu bernama Riska Rahmawati, Spd.
“Yah, ada apa nak ?” tanya ibu itu.
“Kami berdua anak baru, bu, kami sedikit bingung mencari kelas kami” kata kakakku
“Kalian berdua kelas berapa ?” tanya ibu itu
“Saya Andrea Nadia Lukman, kelas XII IPS 2 dan ini adik saya Aurora Amanda Lukman, kelas X6.”
“Oh, kebetulan sekali, saya wali kelas dari X6, baiklah kalo begitu, ibu akan mengantarkan kalian berdua ke kelas kalian masing-masing,” kata ibu itu
“Wah, terima kasih banyak Bu” jawab kami dengan senyuman
Sambil tersenyum ramah, Ibu itu pun menjawab,
“Ya sama-sama, ayo cepat, ini sudah waktunya masuk kelas”

Kami pun segera bergegas menuju kelas kami, aku dan kakakku mengikuti Bu Riska menuju kelas Kak Andrea. Akhirnya, tibalah kami di kelas kakakku, di atas kelas itu terdapat tulisan kelas XII IPS 2, kak andrea lalu masuk ke kelasnya itu. Setelah kami mengantarnya, Bu Riska pun mengantarkanku ke kelasku yang merupakan kelasnya juga. Kami harus naik tangga tengah sampai lantai ke 3, lalu berbelok ke kiri, dan kami pun sampai di kelas X6.
”Nah Aurora, ini kelasmu dan saya wali kelasmu, ayo lekas masuk” ajak Ibu itu
”Baik bu” kataku
Aku melangkahkan kakiku di kelas itu, aku agak sedikit merasa canggung . Aku berdiri di tengah dan kemudian ibu Riska menyuruhku untuk memperkenalkan diri.
”Selamat pagi teman-teman”
”Selamat pagi!” jawab mereka serentak
”Nama saya Aurora Amanda Lukman, saya murid pindahan dari Jakarta, kalian dapat memanggilku dengan panggilan Rara. Saya harap kalian dapat menjadi teman saya dan dapat membantu saya karena saya tidak terlalu tahu sekolah ini dan juga kelas ini. Saya mohon bantuannya.” Ucapku
”Nah Aurora, kamu bisa duduk di sebelah Naldo di sana.” kata Ibu Riska sambil menunjukkan tempat dudukku.
Aku langsung melihat ke arah tempat duduk yang kosong yang ditunjuk oleh Ibu Riska dengan seorang anak laki-laki di sebelahnya, aku duduk di sana. Aku melihat anak laki-laki yang cukup tampan di sana, dan itu adalah Naldo. Aku pun tersenyum pada Naldo, tetapi ia tidak membalas senyumku itu. Kesan pertama membuatku sangat jengkel dan sebal. Selama pelajaran berlangsung pun kami hanya duduk diam tanpa berkata sedikit pun.
.......................................................................................................................
......................

Trrriiiinnggg !!!! Bel istirahat telah dibunyikan. Akhirnya, saat yang kutunggu-tunggu datang juga, perutku sangat lapar, aku ingin pergi untuk makan, tapi aku tidak tahu dimana kantin sekolah. Aku lihat Naldo beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kelas. Aku mengikutinya, berharap ia akan pergi ke kantin. dia berjalan melewati tangga , dan menuju lantai 2. ia pun masuk ke suatu ruangan, dan ternyata itu adalah perpustakaan. Aku berhenti di depan perpustakaan itu, aku sangat lapar sekali, aku tidak tahu harus kemana, tiba-tiba
Nando pun keluar dan ia bertanya padaku
”Kenapa kau mengikutiku sampai perpustakaan ini ?” tanya Nando padaku
Aku tidak menyangka dia bisa tahu bahwa aku mengikutinya , aku pun menjawab pertanyaannya,
”Ah, tidak, tidak apa-apa. Aku juga mau ke perpustakaan, ingin mencari novel untuk dibaca.” Jawabku
”Aku tahu kau berbohong padaku.” kata Nando
Aku terdiam sejenak, aku kaget dia pun tahu aku berbohong padanya. Aku harus mengatakan apa lagi padanya.
“Ayo ikuti aku.“ lanjutnya
Aku mengikutinya, kami turun ke lantai satu dan akhirnya aku sampai di suatu tempat yang memang kucari yaitu KANTIN.
“Kau sebenarnya mau ke kantin, kan ?” tanya Nando
“Darimana kau bisa tahu?“ tanyaku kembali padanya
”Ya tentu saja aku tahu, aku lihat dari tadi kau memegangi perutmu, dan aku tahu kau pasti lapar.” Tebaknya
”Hahaha, kau benar, aku memang sedang mencari kantin di sekolah ini, terima kasih telah mengantarkanku sampai ke sini.” ujarku padanya sambil tertawa.
”Tidak perlu sungkan, jika kau memang butuh pertolongan, bicara saja padaku.” jelas Nando
”Terima kasih banyak” kataku
”Apa kau mau kutemani ? Kebetulan aku juga menjadi lapar sekarang.” ujar Nando
”Ah, baiklah. Ayo, perutku sudah sangat lapar.” kataku sambil memegangi perutku yang sangat lapar itu.
Kami berdua berjalan masuk ke kantin. Ternyata kesan pertama memang tidak dapat memastikan sikap orang, Naldo sangat baik. Tapi, saat di kantin, aku heran, mengapa semua orang memperhatikan kami. Apa ada yang salah denganku ? aku rasa tidak ada.
Tapi kenapa orang – orang terus memperhatikan kami ? ah, sudahlah, tidak perlu kupikirkan, yang penting aku mau makan dulu, aku sangat lapar. Aku dan Naldo duduk di meja yang sama, kami makan bakso di sana. Kami pun mengobrol tentang sekolah ini, dan aku menceritakan sekolahku di Jakarta. Kadang kami juga saling bercanda, sangat menyenangkan bisa mengobrol dengannya.’Nando..” panggilku\
”Yah, ada apa ?” tanyanya
”Aku heran, mengapa semua orang melihat ke arah kita terus?” tanyaku pada Nando
”Hahaha, aku juga tidak tahu. Mungkin mereka melihatmu asing karena kau memang anak baru di sekolah ini. Sudahlah, tidak perlu di pikirkan, lebih baik kita makan saja, sebentar lagi bel masuk berbunyi” jawab Nando padaku.
”Baiklah.”
Sesampainya di kelas, kami pun duduk di bangku kami masing-masing dan memulai pelajaran berikutnya.
................................................................................................................................................
Bel pulang sekolah pun berbunyi, aku mengemas buku dan alat tulisku ke dalam tasku. Setelah itu kami berdoa dan memberi hormat ke bendera merah putih di kelas. Kemudian nando bertanya padaku,
”Kau mau kuantar pulang, tidak ? Kebetulan aku sedang tidak ada acara pulang sekolah ini.” ujar Nando.
”Terima kasih, tetapi aku nanti akan pulang bersama kakakku.”jawabku padanya
”Oh, baiklah kalau begitu. Aku duluan ya Ra.” ujar Nando padaku.
”Ya, sampai jumpa” jawabku
Tiba-tiba ada seorang anak perempuan yang menghampiriku.
“Hai, kau Aurora kan?” tanyanya padaku
“Ya, salam kenal.” Jawabku
”Namaku Astrid, senang berkenalan denganmu. Ra, kelihatannya kau sangat dekat dengan Nando.” kata Astrid
”Ya, begitulah, kami menjadi akrab, padahal baru saja berkenalan hari ini.” Kataku
”Kau hebat, Ra.”
”Hebat ? Hebat kenapa ?” tanyaku
”Kau hebat karena bisa akrab dengan Nando. Tidak banyak orang yang bisa akrab dengannya. Apa kau tahu dia itu laki-laki yang sangat terkenal di sekolah kita. Ia terkenal karena ia sangat tampan , kaya, dan juga ia merupakan Wakil Ketua OSIS di sini. Banyak anak perempuan yang mendekatinya, tapi ia terlalu cuek. Di kelas ia sangat pendiam, ia suka menyendiri dan tidak terlalu berbaur dengan teman-teman disini.” cerita Astrid.
”Oh ya ? Aku baru tahu dan aku tidak menyangka sama sekali tentang dirinya.” Kataku
”Ra, aku pulang duluan ya, senang berkenalan denganmu.” ujar Astrid
”Iya, sampai jumpa”
Wah, aku sangat tidak menyangka. Sekarang aku tahu mengapa semua orang memperhatikanku dan Nando di kantin tadi. Ternyata ia anak laki-laki yang populer di sekolah ini. Aku tidak percaya juga bahwa ia laki-laki yang pendiam, menurutku ia sangat cerewet.
”i’m all out of love, i’m so lost without you….”
Ponselku berbunyi, Kak Andrea menelponku. Aku mengangkat telepon dan Kak
Andrea mulai bebicara padaku
“Rara, kau pulang sendiri saja ya, kau tahu kan jalan pulang? Kau tinggal naik angkot yang berwarna hijau itu saja, nanti kau akan berhenti di depan rumah.” kata Kak Andrea
“Memangnya kenapa kak ? Kakak tidak ikut pulang bersamaku ?” tanyaku
“Aku mau pergi ke toko kaset bersama temanku. Kau bisa kan, Ra ?”
” Oh begitu, baiklah kak, aku bisa.”
Aku keluar dari kelas, aku berjalan menuju gerbang sekolah. Aku lihat disana sangat ramai sekali dan tidak disangka aku bertemu dengan Nando. Ternyata ia belum pulang.
”Hai Nando, kenapa kau belum pulang ?” tanyaku
”Oh, hai Ra. Ini, aku baru saja dari perpustakaan meminjam novel.
Sebenarnya aku mau meminjam novel berjudul ”Totto-Chan” itu, tapi aku tidak menemukannya, karena masih dipinjam oleh anak lain. Jadi aku mencari novel yang lain saja. Oh ya, kau juga, kenapa belum pulang ? Mana kakakmu ?” tanya Nando
”Kakakku tidak bisa pulang bersamaku, dia sedang pergi bersama temannya ke toko kaset, sehingga aku harus pulang sendiri.” Jawabku
”Ah ! Aku antar kau saja. Kau mau ? Ayolah, tenang saja, gratis
“Hahaha, baiklah kalau begitu. Gratis kan ?
“Hahaha, iya gratis, ayo.“
Akhirnya, aku diantar oleh Nando. Aku tak menyangka aku bisa langsung akrab dengannya. Menyenangkan sekali bisa berteman dengannya. Aku diantar dengan mobilnya dan akhirnya aku pun sampai di rumah.
”Sampai di sini saja, itu rumahku yang berpagar warna putih.” Kataku
”Wah rumah yang cantik sekali. Sepertinya sangat nyaman.” tukasnya.
”Ya, begitulah, kau tidak mau mampir dulu ke dalam?” tanyaku
”Terima kasih, kapan-kapan saja. Aku langsung pulang ya, Ra” jawab Nando
”Hmm, begitu. Baiklah, terima kasih ya. Sampai jumpa besok.”
”Ya, sampai jumpa.”

...............................................................................................................................................
Hari-hariku di sekolah semakin menyenangkan. Aku bertemu dengan banyak teman baru yang sangat baik dan perhatian padaku. Aku pun telah mengenal banyak sekolah baruku itu.
Dan hari-hariku itu semakin indah ketika aku bertemu dengan sesosok Nando itu. Anak laki-laki yang sangat menyenangkan. Aku dan dia menjadi sangat akrab. Aku banyak menghabiskan waktuku dengannya untuk saling bercerita dan saling bercanda. Kadang – kadang, ia pergi bermain ke rumahku untuk belajar kelompok ataupun hanya sekedar mampir. Aku juga pernah diajak untuk mengunjungi rumahnya dan kami juga melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan di rumahku. Semakin hari, aku merasa sangat nyaman berteman dengannya. Aku merasa Nando seperti kakakku saja. Dan aku rasa, semakin lama pun aku menjadi suka pada dirinya itu. Aku tidak tahu dengan perasaan suka itu, apakah sebagai teman, kakak, atau perasaan suka ini berarti lebih ?
................................................................................................................................................
Seperti hari-hari biasanya, aku pergi ke sekolah dengan kakakku dengan diantarkan oleh ibuku. Aku naik tangga tengah sampai lantai tiga, dan berbelok ke kiri dan aku sampai di kelasku. Dan aku bertemu dengan Astrid.
“Pagi, Ra”
“Ah ya pagi Astrid, apa Nando sudah datang ?” tanyaku
“Nando ? Aku rasa dia belum datang.” jawab Astrid
“Oh begitu, biasanya dia sudah datang jam segini” kataku
“Aku juga tidak tahu, Ra. Mungkin ia akan sedikit telat, kau tunggu saja ia datang.”
“Ya, baiklah”
Aku heran sekali, mengapa Nando belum juga datang jam segini ? Padahal biasanya ia sudah datang lebih dulu daripada aku. Dan sekarang sudah menunjukkan pukul 06.49. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi, tapi ia juga belum datang ke sekolah
“Trriiiiiiiiiiinggg !!!!!!!!!!”
Bel telah berbunyi. Aku rasa Nando memang benar-benar tidak masuk sekolah. Aku lihat Bu Iin, guru Fisika ku telah memasuki kelas dan telah siap untuk memberikan kami materi untuk hari ini. Ah, sudahlah, aku harus fokus belajar hari ini karena aku kurang mengerti pelajaran fisika pada materi ini. Aku yakin besok Nando akan masuk ke sekolah.

...............................................................................................................................................

Keesokan paginya, aku tidak melihat Nando lagi. Aku hanya duduk sendirian dan tidak bersamanya. Nando tidak masuk sekolah lagi. Aku penasaran dengan Nando, mengapa ia tidak masuk sekolah ? Ada apa dengannya ?
Hari-hari berikutnya pun berjalan dengan sama , tanpa ada Nando di kelas. Aku menjadi semakin penasaran dengannya, sampai sekarang pun tidak ada keterangan apapun mengenai dirinya. Pulang sekolah ini, aku akan menanyakan hal ini kepada Bu Riska.
Pulang sekolah, aku bergegas masuk ke ruang guru dan aku bertemu dengan Bu Riska.
“Selamat siang Bu.”sapaku
“Selamat siang , Ra. Ada apa ? Apa ada yang bisa ibu bantu ?” tanya Ibu Riska
“Begini bu, saya ingin menanyakan tentang Nando ? Mengapa Nando tidak masuk, bu ? Apa ada keterangan tentang dirinya ? Ini sudah lebih dari 1 minggu lebih ia tidak masuk sekolah.” Tanyaku
“Ibu juga tidak tahu , Ra. Ibu juga heran mengapa belum ada keterangan sama sekali. Ketika Ibu hubungi telepon rumahnya berulang kali, tidak ada yang mengangkat telepon ibu.” jawab Ibu Riska
“Oh begitu Bu. Baiklah kalau memang begitu, saya pamit dulu ya bu. Selamat siang”
“Ya, selamat siang.”
Aku pikir aku mungkin harus ke rumah Nando. Aku ingin tahu mengapa ia tidak masuk sekolah. Aku keluar dari gerbang sekolah. Aku naik angkutan umum dan naik becak. Akhirnya aku sampai di depan rumah Nando. Aku menekan bel di gerbang rumahnya. Aku mengintip dari sela-sela pagar ada seorang ibu dengan baju terusan berwarna biru berjalan ke arahku.
“Maaf, adik mencari siapa ya ?” tanya Ibu itu.
“Ini, saya mau mencari Nando.” Jawabku
Ibu itu diam sejenak. Mukanya langsung murung ketika aku mulai berbicara tentang Nando.
“Maaf, saya ingin bertanya saja, mengapa Nando tidak masuk sekolah dalam beberapa hari ini ? saya dan teman-teman sekelas sangat khawatir padanya.
Ada apa dengan Nando , Bu ?” sambungku
Sambil menghela nafas panjang, Ibu itu mulai berkata,
“Begini dik, Nando sekarang sedang sekarat di rumah sakit.”
Aku terdiam. Aku sangat kaget. Nando sekarat ? Ia sakit ? Ibu itu mulai melanjutkan pembicaraannya lagi.
”Ayo kita masuk dulu ke dalam, tidak enak jika kamu hanya berdiri saja di depan gerbang. Ayo masuk.” ajak Ibu itu.
”Nah silakan duduk. Oh ya, sebelumnya perkenalkan dulu, saya tantenya Nando, Tante Rani, dan kamu ?” tanyanya
“Saya Rara, teman sebangku Nando, tante.” jawabku.
“Oh, Rara. Tante sering sekali mendengar Nando bercerita tentang kamu, ketika ia bercerita, mukanya terlihat sangat senang sekali. Tante senang melihat ia tersenyum. Terima kasih ya Ra.”
“Sama-sama tante. Saya juga sangat senang bisa menjadi teman baik Nando.”
“Jadi seperti ini Ra, Nando sejak kecil memang lemah. Tapi ia selalu memaksakan dirinya untuk menjadi orang yang kuat. Karena terlalu dianggap lemah ia menjadi sangat sedih. Kemudian ia pun menjadi orang yang sangat pendiam, melakukan segalanya sendirian. Ia tidak suka dibantu oleh orang lain, karena ia menganggap ia bisa mengerjakannya sendiri dan ia ingin menunjukkan bahwa ia bukan anak yang lemah. Ia terserang penyakit hepatitis C. Ia tertular penyakit ini sejak ia bayi dari Almarhum ibunya. Pertamanya tidak terlihat gejala-gejala yang aneh yang timbul, karena penyakit ini hanya membuat seseorang terlihat begitu kelelahan. Tante kira mungkin hanya kelelahan biasa, tetapi tiba-tiba Nando pingsan dan setelah diperiksa, ia mengidap penyakit itu, dan sekarang penyakit itu telah menjadi sangat parah.” jelas Tante Rani
”Jadi Ibu Nando sudah meninggal dunia, Tante ? Apa karena penyakit Hepatitis C itu ?” tanyaku
“Iya Ra. Almarhum Ibunya juga telah meninggal karena penyakit itu ketika Nando masih berumur 10 tahun. Karena itulah, ibunya meminta saya untuk menjaga Nando. Ibunya berharap ia bisa sembuh. Ia tidak mau Nando akan bernasib yang sama dengan ibunya. Dan sekarang, Nando tergolek lemah di rumah sakit karena penyakitnya mulai kronis.”
”Kita doakan saja Nando akan sembuh Tante. Oh ya Tante, bagaimana dengan Ayah Nando ?”
“Kira-kira saat Nando berumur 5 tahun, ayah dan ibunya bercerai. Sekarang, Tante juga tidak tahu di mana ayahnya. Tante sangat sedih melihat hidup yang dijalani Nando sekarang. Tante berdoa setiap hari untuk kesembuhan Nando. Oh ya Ra, apa kau mau ikut Tante menjenguk Nando di rumah sakit ?
Kebetulan Tante memang akan ke sana sekarang .”
“Baiklah Tante, Rara ingin ikut. Rara ingin melihat keadaan Nando sekarang.”
”Nah ayo kita cepat bergegas.”
”Ya Tante”
Dengan menaiki mobil Tante Rani, kami berdua pergi ke rumah sakit dimana Nando di rawat. Ketika kami sampai, kami masuk ke rumah sakit itu dan menuju kamar Nando.
”Nah ini kamar Nando, Ra. Ayo kita masuk.”
Aku pun mengangguk sambil berkata “Ya Tante”
Tante Rani membuka pintu kamar Nando. Aku masuk ke kamarnya. Dan aku lihat Nando sedang tergolek sangat lemah. Aku ingin sekali menangis melihatnya. Dan aku meneteskan air mata melihat keadaan Nando yang seperti itu. Aku tidak percaya sama sekali. Yang aku tahu Nando orang yang sangat kuat dan bersemangat. Tetapi sekarang aku hanya melihatnya tergolek diselimuti di kasur itu. Di tangannya dipakaikan jarum infus. Aku mengambil kursi dan duduk di sisi Nando sambil melihat wajahnya itu. Tapi tiba-tiba, aku lihat matanya yang tertutup itu bergerak sedikit. Nando membuka perlahan-lahan matanya.
Sepertinya ia tersadar akan kedatangan kami berdua.
”Nando.” kataku sambil tersenyum
Nando melihat ke arahku, ia hanya tersenyum. Tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia terus menatapku, tetapi tiba-tiba ia meneteskan air mata.
”Nando , mengapa kau menangis ?” tanyaku dengan wajahku yang juga sedang menangis.
Nando menggerakkan tangannya. Ia menggenggam tanganku. Tangannya dingin sekali. Ia menggenggam tanganku erat sambil meneteskan air mata, dan matanya perlahan-lahan tertutup.
”Nando ?”
”Tante rasa ia ingin istirahat , Ra. Ayo kita biarkan ia istirahat dulu.”
Aku melepaskan genggaman tangan Nando perlahan-lahan. Sambil menangis, aku keluar dari kamar Nando bersama Tante Rani. Aku tidak tahu, mengapa air mataku ini terus menetes keluar. Tante Rani kemudian menyodorkan tisu kepadaku. Aku mengambilnya dan mengusap air mataku dengan tisu itu. Kami duduk di luar kamar Nando.
”Tante sangat sedih melihat keadaan Nando yang seperti itu, Ra.” Kata
Tante Rani yang kemudian meneteskan air mata pula.
Aku hanya terdiam sambil menangis dan aku berdoa agar Nando akan diberikan kesembuhan dan dapat masuk ke sekolah kembali. Tiba-tiba, Dokter yang memeriksa Nando memanggil Tante Rani. Tante Rani menghapus air matanya itu dan ia masuk ke dalam ruangan dokter itu. Aku lihat pintu ruang dokter itu sedikit terbuka, aku mengintip sedikit ke arah Dokter dan Tante Rani yang sedang melakukan suatu pembicaraan, mungkin tentang keadaan Nando. Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya Tante Rani keluar dari ruangan dokter itu.
Aku ingin sekali tahu tentang apa yang dibicarakan dokter dan Tante Rani. Tapi aku tidak enak bertanya kepada Tante Rani.
“Ayo Ra, kita pulang . Tante akan mengantarkanmu sampai rumah.”
“Baiklah tante.”
Akhirnya kami pulang. Di perjalanan pulang, Tante Rani hanya diam saja dengan wajahnya yang terlihat sangat murung.
...............................................................................................................................................
Aku kembali ke sekolah tanpa Nando. Aku menceritakan keadaan Nando pada Bu Riska. Dan akhirnya, satu kelas tahu mengenai keadaan Nando yang sekarang.
Hari-hariku juga aku sempatkan pergi untuk menjenguk Nando. Saat aku datang, ia juga hanya tersenyum. Aku bercerita tentang sekolah kami dan ia hanya mendengarkan ceritaku. Kadang-kadang ia akan sedikit mengatakan sesuatu pula untuk merespon pembicaraanku. Dan saat aku datang, aku juga membawakan ia novel yang kupinjamkan dari perpustakaan. Aku menceritakan inti isi dari novel itu dan ia juga mendengarkanku. Kadang-kadang, saat aku becerita, ia terlelap tidur. Aku sangat senang dapat mengunjunginya, bercerita padanya. Karena aku tahu, ia pasti butuh teman.
Saat itu aku datang ke rumah sakit mengunjungi Nando. Aku membawa satu novel mangenai perjuangan seorang anak pengemis melawan kerasnya hidup. Aku semangat sekali menceritakan isi novel itu. Akhirnya, aku selesai bercerita. Nando tiba-tiba, menggenggam tanganku. Tangannya masih terasa dingin sekali.
Ia menatapku.
”Aku sayang kamu. terima kasih atas semua ya Ra.” ucapnya padaku.
Aku terdiam dan mungkin mukaku memerah sekarang. Dan ia pun tertidur lelap. Aku tidak menyangka ia berkata seperti itu padaku. Aku keluar dari ruangan Nando dirawat dan aku hanya tersenyum mengingat kata-kata Nando itu.
………………………………………………………………………………………………
Aku juga sayang kamu Nando…
………………………………………………………………………………………………
Tapi, rasa senang saat aku mendengar kata-kata Nando itu berubah sudah menjadi sebuah kepedihan yang sangat mendalam.
Sudah 3 minggu setelah aku menjenguk pertama kali Nando di rumah sakit. Ketika itu, aku datang seperti biasa menjenguk Nando. Aku membawa novel ”Totto-Chan” , novel yang sangat ingin dibaca oleh Nando. Novel yang bercerita tentang seorang anak kecil polos dengan keceriaannya yang menikmati hidup. Aku sangat beruntung menemukan novel itu di perpustakaan sekolah. Aku sampai-sampai harus berdebat dengan kakak kelas untuk memperebutkan novel itu.
Dengan perasaan senang, aku datang menjenguk Nando. tapi ada yang aneh saat aku datang. Aku lihat dari luar pintu kamar Nando. ada Tante Rani, Dokter yang memeriksa Nando dan seorang perawat. Mengapa tante Rani menangis ? Aku membuka pintu ruangan Nando, udara dingin langsung merasuk ke tubuhku dan aku masuk dengan berjalan perlahan. Tante Rani terus saja menangis sampai ia berteriak histeris. Saat aku lihat Nando, ia terlihat pucat. Infus ditangannya pun telah dilepas. Sang perawat pun menutup mata Nando dan ia menutup tubuh Nando dengan selimut. Dan saat itu aku tahu, Nando telah meninggal dunia. Aku meneteskan air mataku. Aku tak dapat mengatakan apapun selain menangisi kepergian Nando. Aku belum sempat menyatakan perasaanku padanya. Maafkan aku Nando.
”Ra, ini dari Nando.” kata Tante Rani sambil menyodorkan suatu surat.
”Untukku, Tante ? tanyaku
”Ya untukmu.” jawab Tante Rani sambil menangis
Kubuka surat dari Nando itu. Kukeluarkan kertas berwarna biru dari amlopnya.
Aurora Amanda Lukman, kaulah orang yang dapat membuatku tersenyum di hari – hariku . Kaulah yang dapat membuatku tertawa karena candaanmu itu. Kau orang yang dapat memberikan aku semangat di setiap hariku. Kaulah pula yang telah membuatku ini jatuh cinta kepadamu.
Ra, maafkan aku harus meninggalkanmu untuk selamanya. Hanya kata maaf yang dapat kusampaikan padamu. Hanya sebuah kata cinta yang dapat kukatakan padamu. Hanya itu yang dapat kulakukan. Sekali lagi, aku minta maaf Ra.
Aku sayang kamu...

Fernando Wijaya

Kian kubaca surat itu, kian menetes air mataku. Tak ada yang kulakukan selain menangisi kepergian Nando. Aku sangat sedih telah ditinggalkan orang yang kusayangi untuk kedua kalinya.
................................................................................................................................................
Kau jahat sekali padaku Nando.
.............................................................................................................................................

Bersandarlah aku kini
Pada lemahnya dinding yang terbentang
Aku sendiri
Dengan jiwa yang diselimuti kegelisahan
Sesal ini kian terasa
Sesal yang terus usikkan jiwa
Kata maaf itu kian terucap
Permohonan maaf akan segala
Aku tak tahu harus bagaimana
Semua terasa kosong dan hampa
Aku telah bersalah, aku takut dan aku sedih
Hingga aku seorang diri menyesali apa yang terjadi
................................................................................................................................................
Hari-hariku telah menjadi kosong setelah kepergian Nando. Hari-hari di sekolah sungguh menyebalkan. Aku hanya duduk sendiri dan hanya dapat menatapi tempat duduk Nando yang telah kosong. Kusadari ia telah tiada. Aku selalu sedih membayangkan kepergian Nando. Mungkin aku akan sulit melupakannya karena saat itu hanya ia yang ada di dalam hati ini. Kuharap kau akan bahagia di sana, Nando.
................................................................................................................................................
Setiap rasa penyesalan itu selalu datang ketika aku ingat masa dimana rasa sedihku mulai muncul. Ketika aku mengingat kepergian orang-orang yang kusayangi. Tapi, akhirnya aku bisa menjalani hidupku ini lebih baik, tanpa ada rasa sedih yang mengganjal hati. Aku tidak bisa memulai hariku jika aku hanya terus menyesal, sedih dan lemah.
Seperti biasanya, aku pergi ke sekolah dengan senyuman. Kusapa teman-teman dan guru-guruku. Saat bel masuk berbunyi, aku langsung siap dengan buku dan alat tulisku. Bu Riska akhirnya masuk, tetapi aku lihat, dia belum akan memulai materi pelajaran. Ia sepertinya akan mengatakan sesuatu.
“Selamat Pagi, anak-anak ” sapa Ibu Riska kepada kami, murid-muridnya
“Selamat pagi Bu” jawab kami
“Hari ini, kita akan mendapat teman baru.” kata Bu Riska
“Ayo Randy masuk” sambungnya.
“Selamat pagi teman-teman, perkenalkan, nama saya Randy Sanjaya. Kalian dapat memanggil saya dengan nama Randy.” kata anak baru itu.
“Ya, terima kasih Randy. Silahkan duduk di sebelah Aurora.”
Anak lelaki yang bernama Randy itu datang menuju arah tempat dudukku, dan ia duduk di sampingku. Dengan tersenyum ramah, ia menyodorkan tangannya, bermaksud memperkenalkan dirinya padaku.
“Hai, namaku Randy, salam kenal.”
“Namaku Aurora, kau panggil aku dengan Rara saja. Senang berkenalan denganmu.”
Hari baruku akan kulewati mulai hari ini.
Diposkan oleh X2 cReWsS di 07:08 0 komentar
Label: Cerpen X.2 / 31
Janji Joni
Karya : M.Ichiko Abdussalam/X.2/29

Joni, adalah seorang pemuda yang berumur sekitar dua puluh tahun. Ia sekarang sedang melakukan suatu perjalanan panjang dengan tujuan untuk mencari jati dirinya yang sesungguhnya. Itu disebabkan karena dirinya pada saat umurnya masih 10 tahun pernah mendapat suatu kecelakaan mobil yang juga telah menewaskan kedua orang tuanya dan juga seorang adiknya. Hanya Joni lah satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan maut itu. Akibat dari kecelakaan itu, ia pun kehilangan semua ingatannya sampai masa lalunya pun ia tidak dapat mengetahuinya. Satu-satunya hal yang dia ingat adalah pada saat ia membuka matanya sehabis pingsan dari kecelakaan itu di sebuah rumah sakit dan orang yang pertama kali ia lihat adalah sebuah pria tua yang berumur kira-kira tujuh puluh tahun yang juga merupakan orang pertama yang menemukan Joni dalam kecelakaan itu.
Saat sadar, Joni langsung berteriak menanyakan siapa dirinya, di mana ia, dan apa yang terjadi pada dirinya kepada orang-orang di sekitarnya. Orang-orang yang menemukannya pun bingung harus menjawab apa karena mereka juga sama sekali tidak tahu siapa anak kecil ini.
“Hei, siapa aku? Di mana aku? Siapa kalian? Apa yang telah terjadi padaku? Tolong, jawablah!” teriak Joni di rumah sakit itu.

“Maaf, Nak! Kami juga tidak tahu siapa kau. Kami hanya menemukan kau saat kecelakaan mobil itu terjadi,”jelas salah seorang masyarakat yang juga ikut menemukan Joni
“Hah? Kecelakaan apa? Apakah kecelakaan itu yang membuatku begini?” tanya Joni.
Orang-orang semakin bingung dengan keadaan saat itu. Mereka bertanya-tanya apakah anak ini kehilangan semua ingatannya akibat kecelakaan itu. Dan sesaat, semua terdiam. Lalu, terdengarlah suara seorang kakek-kakek yang memecah keheningan tersebut. Itu tak lain dan tak bukan adalah suara pria tua yang menemukan Joni.
“Maaf ya nak, sebenarnya kamu itu adalah anak bapak. Nama kamu itu Joni,” kata si kakek.
Serentak semua orang terkejut atas pengakuan si kakek karena semua orang tahu bahwa si kakek sebenarnya tidak pernah mempunyai seorang anak. Akan tetapi, mereka semua tahu bahwa sebenarnya kakek itu sedang berbohong dengan tujuan untuk tidak membuat Joni sedih dan membiarkan si kakek meneruskan penjelasannya.

“Sebenarnya kamu itu sedang bermain di pinggir jalan dan saat kau sedang asyik bermain, tiba-tiba ada mobil yang melaju sangat kencang dan akan menabrakmu. Akan tetapi, mobil itu malah menabrak mobil lain dan kau pun terjatuh dan pingsan,” jelas si kakek walaupun sebenarnya itu semua hanya kebohongan si kakek belaka.

“Jadi, kau adalah ayahku? Dan aku adalah Joni?” tanya si Joni.
“Ya anakku, aku adalah ayahmu. Aku sangat sedih ketika mendengar kau terjatuh pingsan saat kecelakaan itu terjadi,” kata si kakek.

Joni pun langsung percaya dengan perkataan si kakek dan langsung segera memeluk ayahnya itu walaupun ia tidak tahu bahwa sebenarnya ia bukanlah ayah kandungnya.
Lalu, semua orang pun keluar dari ruangan tersebut sambil bernapas lega. Si kakek pun juga ikut keluar untuk membiarkan si Joni untuk beristirahat. Kemudian, salah seorang penduduk yang ikut dalam pencarian bertanya pada si kakek.
“Kek, kenapa kau mengakui anak yang tidak kau kenal itu sebagai anakmu? Lagipula kakek kan tidak mempunyai banyak uang, lantas mengapa kakek mau menambah beban kakek dengan mengangkat anak tersebut sebagai anak kakek?” tanya orang itu
“Tidak apa-apa, aku hanya kasihan pada anak itu. Orang tuanya sudah meninggal dan ia pun kehilangan ingatannya. Ia tidak akan mempunyai tujuan hidup jika aku tidak berpura-pura sebagai keluarganya.” Kata si kakek.

“Akan tetapi Kek, bagaimana bila ingatannya kembali di suatu saat nanti dan bila itu terjadi, kakek pasti akan dimarahinya karena tidak menceritakan yang sebenarnya,” kata orang itu.
“Ya sudahlah, kita jalani saja dulu apa yang sedang terjadi. Untuk urusan itu, kita bisa pikirkan nanti. Lagipula apa yang bisa dilakukan seorang anak kecil terhadap aku yang sudah tua ini. Ha…ha…ha…,” kata si kakek sambil tertawa.
“Ha… ha… ha…,” tawa orang itu mengikuti si kakek.
Kakek di desa terkenal dengan kebaikannya dan juga sikapnya yang suka menolong orang tanpa pandang status, hubungan, derajat, dan lain-lain. Ia pun juga terkenal akan sikapnya yang ramah sehingga ia sering dijadikan sebagai panutan di desa. Kakek bekerja sebagai pengumpul kayu. Ia sering mengumpulkan kayu dari hutan untuk dijual besoknya di pasar. Itu semua dilakukannya untuk mendapat uang untuk menghidupi dirinya.
Lalu, tiba-tiba ia teringat dengan bagaimana ia bisa membayar uang rumah sakitnya Joni. Ia pun bingung darimana ia bisa mendapatkan uang untuk membayarnya. Ia pun segera meminjam uang kepada penduduk desanya. Dan alangkah beruntungnya si kakek karena ia selalu ramah kepada setiap penduduk, seluruh penduduk di desa mau membantu si kakek dengan Cuma-Cuma.
Akhirnya, masalah keuangan pun dapat diselesaikan.
Beberapa bulan kemudian, Joni pun keluar dari rumah sakit. Ia segera pulang menuju rumahnya yang sebenarnya merupakan rumah si kakek yang sekarang menjadi ayah angkatnya. Saat ia tiba di rumah, tampaklah rumah itu dengan keadaan yang memprihatinkan karena si kakek hanya bekerja sebagai pengumpul kayu tapi rumah itu masih layak untuk ditinggali mereka berdua. Dan mereka berdua pun hidup bahagia di rumah itu.
Beberapa tahun kemudian, si kakek pun bertambah tua. Ia tidak sanggup lagi untuk melakukan pekerjaannya sebagai pengumpul kayu. Karena merasa kasihan melihat ayahnya terkulai lemas tak berdaya, akhirnya Joni pun menginginkan agar ia dapat menggantikan pekerjaan ayahnya sebagai pengumpul kayu. Awalnya, si kakek menolak tawaran si Joni karena ia menganggap Joni masih terlalu muda untuk melakukan pekerjaannya. Akan tetapi, karena Joni terus memaksa, akhirnya ia memperbolehkan Joni untuk menggantikan pekerjaannya. Dan mulailah keseharian Joni yang baru sebagai pengumpul kayu untuk menggantikan ayah angkatnya itu.
Tahun berganti tahun, si kakek pun mulai merasa bahwa badannya tidak mampu lagi bergerak seperti dulu dan ia juga merasa bahwa ajalnya sudah dekat. Melihat ayahnya yang tidak berdaya itu, Joni merasa khawatir. Ia pun memanggil seluruh warga desa untuk berdoa bersama untuk kesembuhan si kakek. Dan beruntung sekali si Joni karena saat ia merasa tidak adalagi cara yang bisa ia lakukan untuk menyembuhkan kakeknya, ada seorang dokter yang secara sukarela mau membantu Joni dan ayahnya. Ia merasa sangat bersyukur atas itu dan berkat itu, kondisi ayahnya pun mulai membaik lagi.
Akan tetapi, apa yang perlu dikata, si kakek akhirnya tetap juga meninggal dunia pada saat umurnya tepat menginjak delapan puluh tahun. Joni yang pada saat itu tepat menginjak dua puluh tahun merasa sangat sedih atas kepergian ayah tercintanya dan satu hal lagi yang membuatnya sedih adalah kenyataan pahit yang diceritakan ayahnya sebelum meninggal. Ya, sebelum meninggal si kakek akhirnya menceritakan bahwa sebenarnya Joni bukanlah anak kandungny
“Joni, sebelum aku menemui ajalku, aku ingin menceritakan satu hal tentangmu,” kata si kakek dengan suara yang tertatih-tatih.
“Ayah jangan bicara begitu! Kita tidak tahu kapan ayah akan pergi, hanya Tuhan yang tahu. Ceritakanlah hal itu, jika itu bisa membuat hatimu lega, Ayah!” kata si Joni.
“Baiklah, Joni, sebenarnya kau itu bukanlah anak kandungku, aku berbohong padamu saat aku mengatakan bahwa aku ini adalah ayahmu waktu itu di rumah sakit,” kata si kakek.
“Apa? Ayah ini bicara apa? Apakah yang dimaksud ayah itu bahwa aku ini sebenarnya bukan anakmu?” tanya Joni
“Ya, Joni, kau bukan anakku, waktu itu aku hanya menemukanmu saat kecelakaan itu terjadi dan karena aku kasihan padamu makanya aku mengangkatmu sebagai anakku. Akan tetapi, aku sangat menyayangimu Joni. Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Aku menceritakan ini bukan bermaksud untuk membuatmu sedih tapi aku tidak mau kau hidup dengan tidak mengetahui jati dirimu yang sebenarnya. Berjanjilah bahwa kau akan mencari identitas dirimu nanti setelah aku mati,” jelas si kakek.
“Ayah, tetapi ke mana aku harus mencari identitasku?” tanya Joni.
“Kau akan menemukan jawabanmu sendiri,” kata si kakek. Dan seketika itu pula mata kakek pun menutup dan ia tidak bergerak lagi. Ya, si kakek telah meninggal dunia. Joni sangat sedih akan kepergian ayah angkatnya itu. Akan tetapi, ia segera menghapus air matanya dan segera bangkit untuk memenuhi janji ayahnya untuk mencari identitas dirinya. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk pergi dari desa dan pergi merantau.
Itulah sekiranya apa yang dikenang Joni dalam hatinya sekarang. Setiap malam ia selalu mengenang masa-masa indah dengan ayah angkatnya itu. Ia pun selalu teringat kata-kata ayahnya sebelum ia meninggal. Ya, saat ini Joni sedang dalam perjalanannya dan sedang berada di sebuah kota besar. Saat ini sedang malam hari dan Joni sedang mencari sebuah penginapan untuk ia bisa tidur malam ini. Akan tetapi, karena mahalnya biaya penginapan di kota itu, dan ia tidak mempunyai uang yang banyak, ia pun tidak dapat menginap di penginapan dan akhirnya ia pun hanya dapat tidur di kolong jembatan. Ia menyesal mengapa ia datang ke kota itu dan berencana untuk pergi dari kota itu keesokan harinya. Akan tetapi, Joni tidak tahu bahwa sesungguhnya takdirlah yang membawanya ke sini karena sebenarnya kota itu adalah kota kelahirannya Joni. Sayang, ia tidak mengetahui itu dikarenakan ingatannya yang hilang.
Keesokan harinya, Joni pun bersiap-siap untuk pergi meninggalkan kota itu. Sebelum meninggalkan kota, Joni ingin sekali lagi berkeliling di kota itu sebelum meninggalkannya. Di tengah perjalanan, tanpa sengaja Joni menabrak seorang wanita paruh baya. Wanita itu pun terjatuh. Joni pun dengan segera berusaha untuk menolong wanita yang terjatuh itu. Ketika Joni hendak mengatakan maaf karena telah menabraknya tadi, tiba-tiba saja wanita itu langsung berteriak histeris ketika melihat wajah Joni dan setelah itu wanita itu pergi. Joni heran dengan sikap wanita itu dan bertanya-tanya apa yang membuatnya demikian. Lalu, Joni akhirnya sadar bahwa wanita tadi telah meninggalkan tasnya yang terjatuh. Joni pun berniat untuk mengembalikan tas tersebut tetapi ia tidak tahu di mana rumah wanita itu. Akan tetapi, setelah Joni mengecek isi tas itu, di dalamnya terdapat sebuah kartu tanda pengenal wanita tadi. Akhirnya, Joni pun mendapatkan alamat wanita itu dari kartu tanda pengenalnya dan segera pergi untuk mengembalikan tas tersebut.
Beberapa saat kemudian, sampailah Joni di rumah wanita itu. Di sebelah rumah wanita itu ada sebuah rumah yang sangat besar yang sudah tidak terawat.lagi oleh pemiliknya. Ketika Joni melihat rumah besar tersebut, tiba-tiba kepala Joni terasa sangat sakit seakan ia ingat sesuatu tentang rumah itu. Akan tetapi, Joni tidak menghiraukan rasa sakit itu dan segera menuju pintu rumah wanita itu. Joni pun segera mengetuk pintu rumah itu dan memberi salam.
Tok…tok… tok…
“Halo, selamat siang! Adakah orang di dalam?” tanya Joni dari luar rumah.
“Ya, tunggu sebentar! Saya bukakan pintunya,” sambut suara yang datang dari dalam rumah. Lalu, pintu rumah itu pun terbuka dan muncullah wanita paruh baya yang tadi. Akan tetapi, ketika wanita itu melihat Joni, wanita itu langsung berteriak seperti melihat setan dan segera menyuruh Joni. Joni pun berusaha untuk menjelaskan bahwa sebenarnya kedatangannya ini tidak mempunyai maksud jahat tetapi untuk mengembalikan tas wanita itu.
“Bu, Maaf Bu, saya telah menakut-nakuti ibu, tapi saya tidak ada maksud jahat untuk datang ke sini, saya hanya ingin mengembalikan tas ibu yang terjatuh tadi,” teriak Joni dari luar.
Mendengar penjelasan Joni tadi, akhirnya wanita itu mau membukakan pintu untuk Joni dan mempersilahkannya masuk. Joni pun langsung menyerahkan tas tersebut kepada ibu tersebut dan mengajukan beberapa pertanyaan.
“Ibu, mengapa ibu terlihat sangat takut saat melihat saya? Apakah ibu dulu pernah mengenal saya? Kalau memang ibu pernah mengenal saya, ceritakanlah sebenarnya siapa saya karena dulu saya pernah mengalami kecelakaan mobil yang membuat ingatan saya hilang, dan sekarang saya sedang melakukan perjalanan untuk mencari identitas saya itu,” kata Joni dengan penuh harap.
“Jadi kamu benar-benar mengalami kecelakaan itu?” tanya ibu itu dengan rasa takut.
“Ya, Bu,” jawab Joni.
“Dan mengapa kau tidak tewas dalam kecelakaan itu?” tanya ibu itu sekali lagi, kali ini rasa takutnya mulai sedkit menghilang.
“Ya, syukur waktu itu ada orang yang menyelamatkan saya saat kecelakaan itu terjadi sehingga saya masih tetap hidup sampai sekarang ini,” jawab Joni.
“Jadi kau adalah Vino?” tanya ibu itu lagi.
“Vino? Siapa Vino, Bu? Nama saya adalah Joni. Atau mungkinkah itu namaku dulu sebelum aku kehilangan ingatanku?” tanya Joni dengan penuh heran.
“Syukurlah kau masih hidup Vino, eh, maksud saya Joni,” kata ibu itu dengan perasaan lega.
“Jadi, ibu mengenali saya?” tanya Joni.
“Bukan hanya kenal, tapi saya juga sudah mengenalmu sejak kau baru lahir,” kata ibu itu.
“Sebenarnya apakah hubunganku dengan ibu ini?”tanya Joni dengan semakin heran.
“Saya adalah teman ibumu dan juga tetanggamu dulu. Nama saya adalah Salma. Saya dulu juga membantu ibumu saat melahirkanmu makanya saya sangat mengenalmu,” kata ibu Salma.
“Tetangga? Jadi, ibu Salma ini adalah tetangga saya dulu. Berarti rumah besar di sebelah rumah ibu ini adalah…,” dan Joni tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
“Ya, benar, itu adalah rumahmu. Kau itu dulunya adalah anak dari seorang saudagar kaya yang sangat baik hatinya. Dan 10 tahun yang lalu terdengar kabar bahwa kalian sekeluarga telah mengalami kecelakaan yang telah menewaskan kalian semua. Makanya itu, saya ketakutan ketika melihat kau masih hidup dan ternyata kau memang masih hidup,” kata Ibu Salma dengan takjub.
Raut di wajah Joni pun mulai berubah. Ia merasa sangat bahagia sekarang karena ia telah berhasil menemukan asal-usulnya. Ia pun sangat bersyukur karena ia singgah di kota itu. Setelah itu, ia pun meminta Ibu Salma untuk menceritakan lebih banyak tentang asal-usulnya dan akhirnya mereka pun berbincang-bincang untuk waktu yang cukup lama.
Karena terlalu asyik mengobrol tentang masa lalu Joni, mereka berdua pun tidak sadar bahwa hari telah malam. Ketika mereka ingin mengakhiri perbincangan mereka, datanglah seorang remaja putri yang sangat cantik ke rumah itu yang kira-kira juga seumuran dengan Joni/Vino. Ia pun segera masuk ke dalam rumah itu, ia sangat terkejut ketika melihat wajah Joni/ Vino di rumah tersebut dan bertanya kepada Ibu Salma yang ternyata adalah ibunya mengapa ada orang yang sangat mirip dengan Vino di rumahnya. Lalu, Ibu Salma pun menjelaskan semua hal yang terjadi kepada anaknya itu. Akan tetapi, ia masih tidak mempercayainya dan ia merasa sangat marah dan pergi masuk ke kamarnya. Joni pun bertanya kepada Ibu Salma siapa gerangan wanita itu tadi.
“Bu Salma, siapakah wanita itu tadi?” tanya Joni.
“Itu adalah anak ibu, namanya adalah Indah. Dia dulu adalah teman masa kecilmu. Dulu, kau selalu bermain-main dengannya di halaman rumah belakang dan karena saking dekatnya kalian, saya pun kepikiran untuk menjodohkan kalian berdua. Saya juga tahu bahwa sebenarnya kalian itu dulu sama-sama suka satu sama lain tapi karena kalian masih kecil, kalian tidak menyadari hal itu,” jawab Bu Salma dengan tertawa kecil
“ Akan tetapi, Bu, mengapa ia sangat marah ketika ibu menceritakan yang sebenarnya?” tanya Joni.
“Semenjak ia mengetahui bahwa kamu meninggal dalam kecelakaan itu, ia merasa sangat sedih karena ia merasa kamulah orang yang paling dekat dengannya sampai-sampai ia tidak mau makan sampai beberapa hari karena terlalu sedih ditinggal olehmu. Saya juga sebenarnya kurang mengerti mengapa ia sangat marah ketika saya bilang kamu itu Vino. Lebih baik kamu tanyakan saja pada dia besok. Sekarang, sebaiknya kamu menginap saja di sini karena kamu pasti tidak mempunyai tempat tinggal dan jika kamu ingin menginap di rumahmu yang dulu, rumah itu sudah terlalu kotor untuk ditinggali,” kata Ibu Salma dengan bijak.

“Ya, baiklah, Bu, terima kasih atas kebaikan ibu ini. Saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa,” kata Joni/Vino.
“Ah, tidak usah kau pikirkan soal itu. Yang penting sekarang kau istirahat karena besok saya akan membawamu ke tempat-tempat yang biasa kau kunjungi agar kau dapat mengingat kembali masa-masa kecilmu dulu. Saya juga akan mengajak Indah besok,” kata Ibu Salma.
“Ya, terima kasih, Bu, selamat tidur!” kata Joni.
Malamnya, karena saking senangnya, Joni sampai tidak bisa tidur malam itu karena ia selalu memikirkan saat ia mengetahui asal-usulnya dan juga orang-orang yang mengenalnya dulu. Akhirnya, ia pun dapat memenuhi janji ayah angkatnya dulu untuk mencari identitas dirinya dan sebentar lagi itu akan terwujud dan besar kemungkinan bahwa ingatannya juga akan kembali karena setiap hari di kota itu, ia selalu mendapat gambaran ingatan akan masa lalunya. Sekarang hanya satu yang mengganggu pikirannya adalah soal mengapa Indah sangat marah ketika mengetahui dirinya masih hidup dan itulah yang akan ditanyakannya pada Indah besok.
Keesokan harinya, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang memecah keheningan di oagi hari tersebut. Ya, itu adalah suara teriakan Indah yang sedang bertengkar dengan ibunya, Ibu Salma. Walaupun tidak jelas, Joni masih dapat mendengar isi dari pembicaraan mereka.
“Ibu, mengapa ibu biarkan laki-laki itu untuk menginap di sini? Kita kan tidak tahu dia itu orang itu jahat atau tidak,” pekik Indah kepada ibunya.
“Tapi dia itu Vino, Indah. Dia itu teman masa kecil kamu. Mana mungkin kamu bisa lupa dengannya, bukan?” jawab Bu Salma.

“Ya, mana mungkin aku melupakannya. Bahkan aku sangat menyayanginya. Akan tetapi, Vino itu sudah meninggal, Bu. Mana mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali,”kata Indah.
“Tapi, Nak. Ibu kan sudah menceritakan bahwa dia itu selamat dari kecelakaan itu,” kata Ibu Salma.
“Aku tetap belum bisa percaya kalau Vino itu masih hidup. Setidaknya dia harus bisa membuktikan bahwa dirinya itu adalah Vino,” kata Indah.
“Akan tetapi, Indah, dia itu kehilangan ingatan. Bagaimana bisa ia dapat membuktikan dirinya adalah Vino sedangkan dia saja tidak tahu siapa dirinya kecuali jika ingatannya telah kembali,” kata Ibu Salma.
“Itulah yang membuatku curiga. Bagaimana jika ia hanya orang asing yang mirip Vino dan berpura-pura kehilangan ingatan dan mempunyai tujuan untuk mencelakakan kita? Kalau itu sampai terjadi aku tidak akan memaafkan rang itu,” kata Indah.
Lalu, Joni yang mendengarkan pembicaraan itu segera keluar dari kamarnya dan berkata kepada Indah dan Ibu Salma.
“Tenang saja, Indah dan Ibu Salma. Aku tidak akan mencelakakan keluarga ini. Aku hanya ingin mencari identitasku. Itu saja,” kata Joni.
“Ah, sudah cukup kau membual. Sebaiknya kau segera pergi dari rumah kami. Dengan melihat wajahmu yang mirip Vino itu sudah sangat membuatku sangat kesal,” kata Indah.
“Hei, Indah. Jaga perkataanmu!” sahut Ibu Salma.
“Baiklah, beri aku waktu 1 minggu untuk tinggal di sini sekaligus untuk mengembalikan ingatan masa laluku. Aku berjanji selama itu aku tidak akan melukai keluargamu,” kata Joni.
“Apa kau benar-benar dapat menjaga janjimu?” tanya Indah.
“Ya, aku akan selalu menepati janjiku,” kata Joni.
Jawaban Joni tiba-tiba membuat Indah terdiam. Ia seakan-akan teringat akan masa lalunya dengan Vino dulu. Dalam ingatannya itu, Vino juga mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan Joni sekarang tapi untuk janji yang berbeda. Janji itu adalah sebuah janji yang mereka buat dulu yang hanya mereka berdua saja yang tahu apa janji itu. Tiba-tiba saja Indah langsung mengeluarkan air mata karena teringat akan masa lalunya itu. Sekarang, mulailah timbul sedikit rasa percaya di hati Indah bahwa Joni itu adalah Vino walaupun Indah belum sepenuhnya percaya kepadanya.
“Baiklah, kalau melanggar janjimu, saat itu pula aku akan mengusirmu dari rumah ini. Sekarang bersiap-siaplah! Kita akan pergi jalan-jalan mengelilingi kota seperti janji ibuku kemarin yang mungkin dapat mengembalikan ingatanmu walaupun aku tidak yakin kau punya ingatannya atau tidak sebenarnya. Sekarang mandilah!” kata Indah.
“Baiklah, terima kasih banyak,”kata Joni dengan perasaan bahagia karena ia merasa Indah mulai bisa mempercayainya.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka pun telah siap dan segera pergi meninggalkan rumah. Joni pun kemudian diajak ke berbagai tempat yang biasa ia kunjungi seperti warung makanan yang sering ia kunjungi, taman bermain yang sering ia datangi, bahkan tempat sekolahnya dulu. Akan tetapi, tidak ada gambaran ingatan apa-apa yang muncul di kepala Joni. Ia sama sekali tidak ingat dengan tempat-tempat itu. Joni pun mulai khawatir jika ia tidak bisa mengingatnya Indah akan semakin curiga dengannya. Akan tetapi, ia sangat yakin kalau kota itu adalah kota kelahirannya.
Saat dibawa ke rumahnya yang dulu pun, tidak ada lagi gambaran-gambaran ingatan masa lalunya yang muncul seperti saat pertama kali ia melihatnya. Joni mulai merasa ragu kalau mungkin kota itu bukanlah tempat asal-usulnya. Ia merasa sangat depresi dan stress, sampai-sampai ia tidak mau makan untuk beberapa hari dan hanya mengurung dri di kamar. Tiba-tiba saja Indah mulai merasa kasihan kepada Joni. Ia pun mengajak Joni berbicara dan membuang jauh-jauh rasa curiganya akan Joni.
“Joni, bagaimana? Apakah kau sudah mendapatkan ingatan masa lalumu?” tanya Indah kali ini ia tidak sesinis biasanya. Malah, kali ini ia bicara sangat lembut seakan-akan ingin membantu kesusahan Joni.
“Tidak ada, tidak sama sekali. Aku mulai ragu apakah aku ini benar-benar Vino yang dulu pernah tinggal di rumah ini. Ah, rasanya aku ingin menyerah saja. Aku sudah capai,” kata Joni dengan nada pasrah.
“Kau memang mirip dengan Vino, Joni. Vino itu orangnya memang mudah menyerah. Akan tetapi, Vino yang kukenal ketika ia sudah menyerah, ia tiba-tiba saja dapat berubah pikiran dan berusaha untuk bangkit kembali,” kata Indah dengan lembut.
Vino heran dengan perkataan Indah tersebut. Ia heran mengapa tiba-tiba saja Indah menjadi perhatian kepadanya. Tiba-tiba saja jantung Joni berdegup kencang untuk pertama kalinya ketika ia melihat Indah. Ia bertanya-tanya dalam hati apakah aku telah jatuh cinta kepada Indah akibat kelembutannya ini.
“Andaikan kau mengingat tentang janji kita dulu waktu kita kecil,” kata Indah tiba-tiba bergumam.
“Hah? Janji apa?” tanya Joni dengan terkejut.
“Hah? Oh, tidak. Aku hanya bicara sendiri. Tidak usah kau pikirkan apa yang kukatakan,” kata Indah dengan gugup lalu segera meninggalkan kamar Joni.
Di luar kamar, Indah pun merasa heran dengan dirinya. Ia heran mengapa dirinya tadi dalam sasaat malah mengharapkan bahwa Joni itu adalah Vino yang masih hidup. Ia pun menjadi pusing karena memikirkan hal itu. Hal yang serupa pun terjadi kepada Joni. Ia pun juga menjadi pusing karena terlalu memikirkan hal tadi.
Akhirnya, tibalah hari terakhir Joni untuk tinggal di rumah itu karena hari itu sudah seminggu dari hari di mana Joni berjanji. Ia pun semakin frustasi karena ia belum menemukan apa-apa setelah seminggu tinggal di sana. Karena kasihan melihat Joni, Indah pun mengajak Joni jalan-jalan sekali lagi mengelilingi kota. Joni pun berharap dengan sangat agar kali ini ia dapat mengingat sesuatu tentang dirinya.
Kemudian, mereka pun berjalan tapi kali ini mereka tidak membawa Ibu Salma. Indah dan Joni pun berjalan-jalan mengitari kota tetapi Joni tetap tidak dapat mengingat apa-apa. Lalu, Indah pun mengajak Joni ke sebuah pabrik tua yang tidak dipakai lagi di kota itu yang belum pernah dikunjungi oleh Joni sebelumnya.
“Hei, Indah. Tempat apa ini?” tanya Joni kepada Indah.
“Ini adalah tempat favoritku bersama Vino dulu waktu masih kecil. Waktu kecil setiap pulang sekolah, kami selalu pergi ke sini dulu sebelum pulang ke rumah. Kami menganggap ini adalah rumah kedua kami. Bila kau benar-benar adalah Vino, kau pasti ingat sesuatu akan tempat ini karena hampir setiap hari kau berada di sini dulu,” kata Indah
Lalu, Joni pun melihat ke sekeliling ruangan pabrik. Tiba-tiba saja kepala Joni terasa sangat sakit sampai-sampai ia pun terjatuh. Di dalam kepalanya, muncul berbagai gambaran-gambaran masa-masa kecilnya dulu bersama Indah. Lalu, gambaran-gambaran tadi diikuti pula dengan gambaran-gambaran baru yang datang dengan terus menerus dan membuat kepala Joni sakit. Ia pun mengerang kesakitan sambil berteriak keras.
“Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…………………….! Tolong aku!” teriak Joni menahan kesakitannya.
“Hei, Joni, ada apa dengan kamu? Apa yang terjadi?” tanya Indah dengan panik dan segera mengambil telepon genggamnya untuk meminta bantuan.
“Ingatan-ingatan itu, mereka terus saja datang dan aku tidak bisa menahannya. Aaakh…!” teriak Joni.
Dan karena tidak sanggup menahan rasa sakit itu, akhirnya Joni pun kehilangan kesadarannya. Di tengah ketidaksadarannya tersebut ia melihat sebuah mimpi. Di dalam mimpi tersebut ada Indah dan dirinya sendiri dalam bentuk anak kecil. Mereka berdua sedang berada di pabrik tua tadi dan sedang mengobrol. Di tengah obrolannya terdengar…
“Eh, Vino. Bagaimana kalau kita membuat janji?”tanya Indah kepada Vino yang mukanya sangat mirip dengan Joni.
“Janji apa?” tanya Vino.
“Ya, janji bahwa kita akan selalu bersama-sama untuk selama-lamanya hingga kita tua nanti. Bagaimana?” tanya Indah.
“Boleh, aku setuju,” kata Vino.
“Apakah kau akan selalu menjaga janjimu itu?”tanya Indah.
“Ya, aku akan selalu menepati janjiku,” kata Vino.
Joni yang melihat kejadian itu akhirnya mengerti. Ia akhirnya tahu janji yang sering disebut-sebut oleh Indah. Tiba-tiba saja pandangan Joni menjadi gelap. Karena terkejut ia pun akhirnya bangun dari tidurnya. Saat ia bangun, ia sadar bahwa ia sedang berada di rumah sakit. Di sebelahnya ada Indah dan Ibu Salma. Mereka berdua terkejut melihat Joni yang tiba-tiba terbangun. Lalu, Joni bertanya apa yang terjadi padanya.
“Apa yang sebenarnya telah terjadi padaku?”
“Kau terjatuh pingsan saat kita berada di pabrik itu. Setelah itu, aku hanya memanggil bantuan dan membawamu ke rumah sakit ini. Kau sudah hampir pingsan selama 2 hari,” kata Indah.
“Hah? 2 hari?” kata Joni dengan terkejut.
Dalam sejenak semua orang terdiam.
“Bu Salma, Indah, rasanya aku sudah bisa mengingat sedikit tentang masa laluku akibat dari kejadian ini,”kata Joni memecah keheningan.
“Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Lebih baik kau jangan banyak bicara dulu sekarang dan beristirahatlah. Dokter juga mengatakan bila kondisimu memungkinkan bisa saja besok kau sudah pulang,”kata Bu Salma.
“Baiklah,” kata Joni.
Keesokan harinya, Joni pun keluar dari rumah sakit. Setelah sampai di rumah, Joni pun dengan segera mengajak Indah pergi menuju pabrik tua itu lagi. Indah merasa bingung kenapa Joni mengajaknya ke pabrik itu lagi. Lalu, ia pun bertanya kepada Joni.
“Hei, Joni, mengapa kau membawaku ke sini?” tanya Indah.
“Saat aku pingsan, aku bermimpi. Di dalam mimpiku itu ada kamu dan juga seseorang yang sangat mirip sekali denganku dan kau memanggilnya Vino,”kata Joni.
“Apa yang dilakukan olehku dengan Vino di dalam mimpimu?” tanya Indah.
“Kalian berdua membuat janji sehidup semati di pabrik ini. Aku pikir itulah janji yang sering kau sebut-sebut,”kata Joni.

Indah hanya terdiam mendengar cerita Joni tersebut.
“Akan tetapi, yang membuatku lebih heran adalah aku merasa bahwa anak kecil bernama Vino itu adalah diriku. Akulah yang membuat janji itu bersamamu. Dan sekarang aku merasa bahwa aku ingat pernah membuat janji itu,”kata Joni.
Indah pun menitikkan air mata. Ia sangat terkejut dan hampir tidak percaya kalau Joni dapat mengingat janji yang pernah dibuatnya dengan Vino yang ternyata adalah Joni. Ia pun sekarang percaya kalau Joni itu adalah Vino dan segera memeluknya dengan erat.
“Ya, kita pernah membuat janji itu tepat di pabrik tua ini 10 tahun lalu sebelum kamu mengalami kecelakaan itu. Ya, Joni, kau benar-benar adalah Vino,” kata Indah sambil menangis.
“Ya, Indah, dan sekarang aku pun sangat yakin kalau aku ini adalah Vino, teman masa kecilmu dulu dan akan menjadi pendamping hidupmu yang akan selalu bersamamu selama-lamanya sampai kita tua nanti,” kata Joni yang sekarang juga ikut menangis bahagia karena telah menemukan cinta pertamanya dulu walaupun cinta itu terbentuk ketika mereka masih kecil.
Akhirnya, Joni pun menemukan identitas dirinya yaitu sebagai Vino yang di saat bersamaan dia juga telah menemukan kembali cinta pertamanya dulu. Walaupun Joni telah memenuhi satu janji dengan ayah angkatnya dulu untuk menemukan jati dirinya yang sesungguhnya tapi kali ini dia harus memenuhi satu janji lagi yang dibuatnya dulu dengan Indah untuk hidup bersamanya selama-lamanya.

2 komentar:

  1. Kami sudah menjadi pengikut, tapi bila dalam blog X.2 tidak bisa diteruskan ke hasil karya kami, bapak bisa buka di cerpenx20809.blogspot.com
    Terima kasih.

    BalasHapus
  2. http://cerpenx20809.blogspot.com

    BalasHapus